Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Wednesday, June 30, 2010

Hidup: Kesiapan Nyemplung

Dalam menjalankan suatu hal yang baru, salahsatu hambatan klasik dari mereka yang hendak bertindak adalah "kesiapan". Entah itu kesiapan modal, ilmu, atau aneka "harus punya" lainnya sebelum berani untuk bertindak, memulai usaha, kawin, atau hal-hal lainnya yang sebenarnya akan mengubah nasib mereka kearah yang lebih baik.

Padahal tidak ada orang yang benar-benar siap untuk apapun yang baru bagi dirinya; maka dari itu cara paling baik untuk menjadi siap, adalah dengan nyemplung; dan perhatikan diri kita akan berkembang dari mengatasi masalah-masalah yang kemudian timbul.

Nabi saja kadang-kadang mentok, padahal counselornya adalah Tuhan; ini terjadi karena pada dasarnya hanya ada satu jalan buat manusia untuk menjadi siap; melalui proses. Persiapan dan pembelajaran adalah bagian dari proses, tapi "the real learning" baru akan dimulai ketika kita berani melakukan.

Ini yang kadang membuat orang tanpa pendidikan tinggi bisa lebih sukses daripada mereka yang gelarnya berentet; saat yang tanpa pendidikan berani untuk mulai dan belajar sambil jalan, sementara yang kebanyakan gelar terlalu banyak berhitung dan berencana tanpa berani mulai melakukan. (bay)

Terilhami dari salahsatu episode MTGW di Metro TV
Images dari: http://www.makan.com/

Wednesday, April 28, 2010

Manajemen Cita-Cita dan Waktu

Satu hal yang sering kita kurang sadari adalah kenyataan, bahwa walaupun imajinasi kita tanpa batas, namun kita memiliki waktu yang sangat terbatas, dan karenanya maka waktu yang sangat terbatas ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Salahsatu cara untuk mencapai hal ini, adalah dengan manajemen cita-cita dan manajemen waktu.

Manajemen cita-cita maksudnya adalah pengaturan terhadap apa yang kita ingin raih dalam hidup, sehingga terdapat suatu pembatasan yang jelas apa yang ingin kita kita raih, dan apa yang tidak ingin kita raih (scoping).

Sedangkan manajemen waktu maksudnya adalah pengaturan terhadap sumber daya waktu yang kita miliki, agar terjadi pemusatan pada hal tertentu, untuk mencapai hasil yang diharapkan (scheduling).

Sebagaimana surya kanta membantu memusatkan sinar matahari yang hangat, menjadi kekuatan yang mampu menghanguskan; seperti itu pulalah yang akan terjadi kala kita memberikan fokus yang jelas terhadap semua potensi yang kita miliki.

Ambil contonya sebagian dari kita yang sedari dini sudah memiliki fokus; les piano sedari kecil dan terus berlanjut hingga dewasa, akhirnya menjadi komposer dan pencipta lagu terkenal; les Tae Kwon Do sedari SD, dan pelatihan tidak terhenti hingga ketika dewasa menjadi juara di PON, atau bahkan di kejuaraan dunia.

Terlepas dari apakah kita termasuk kalangan tersebut, normal atau tidakkah perkembangan hidup kita, satu hal yang pasti adalah: keberhasilan tersebut bisa diraih karena adanya fokus. Fokus yang menyebabkan, terjadinya pemusatan energi dan sumber daya pada suatu hal, yang jika hal ini kemudian dilakukan dalam kurun waktu yang cukup, maka akan membuahkan hasil yang luar biasa. Ini adalah suatu rumusan baku hidup, dan bisa dibuktikan oleh siapapun, tanpa memandang kasta, latar belakang, atau status sosial.

Pencarian Fokus

Lantas bagaimana halnya dengan anak-anak, yang kelihatannya banyak tertarik pada aneka ragam hal, dengan intensitas yang naik turun? Mencoba ini-itu, ikut les sepatu roda cuma tahan tiga bulan, trus ikut les gitar cuma tahan enam bulan? Awalnya bercita-cita jadi Astronot tapi semasa sekolah malah ngambil kelas IPS? Apakah itu pemborosan waktu? Mismanajemen cita-cita? Saya rasa bukan, karena pada tahap itu yang kita lakukan adalah eksplorasi: pengembaraan, pembukaan wawasan, pembangunan persepsi. Yang perlu disadari adalah, tahapan eksplorasi ini harus memiliki batas yang jelas, dan dilakukan dengan se-benar mungkin.

Disinilah perlunya peranan aktif para sesepuh, pendidik, dan sistem pendidikan, untuk membantu seorang anak menentukan fokusnya, dalam rentang waktu yang cukup.

Pilihan Fokus

Pencarian dan pemilihan fokus sendiri, akan sangat terpengaruh oleh karakter jaman dimana seseorang hidup, dalam artian, kita hanya akan tertarik pada apa yang bisa kita amati, apa yang ada dan terjadi di sekeliling kita. Berapa banyak anak ingin menjadi Astronot kala mengetahui Neill Amstrong sudah sampai ke Bulan? Berapa banyak anak ingin menjadi Superman dan loncat dari atap rumah, kala film Superman ditayangkan di bioskop? Berapa banyak anak ingin menjadi model dan artis, kala mulai mengetahui gaya hidup para model yang jet-set itu? Berapa anak ingin menjadi Polisi, kala menyaksikan sendiri kekuatan tersembunyi yang ditawarkan dari profesi ini?

Disinilah perlunya peranan aktif para sesepuh, pendidik, dan sistem pendidikan, untuk membantu seorang anak mengetahui pilihan-pilihan yang ia miliki, dengan potensi dan tantangannya masing-masing, sehingga ia dapat menentukan fokusnya sebaik mungkin, secara sadar.

Gimana kalau suatu saat ketertarikan saya berubah? Wajar saja. That's live.

Raihlah apa yang anda anggap penting dalam hidup, lakukan perubahan yang anda rasa perlu, as long as that's your conscious decision.

Tapi jangan karena anda merasa suatu saat mungkin akan berubah pikiran, maka dari sekarang pun anda tidak menentukan fokus. That's fool.  (bay)

Thursday, April 22, 2010

Standar kesuksesan hidup berdasar umur

Sebenernya ini kejadian lucu-lucu enggak, secara ada lucunya emang, tapi dalam konteks tertentu malah nggak lucu...

Begini ceritanya...

Antara Penampilan dan Usia

Unyil barangkali adalah tokoh paling awet muda di Indonesia, terbukti bahwa di usianya yang sudah menjelang 40 tahun, penampilannya tetap se-segar masa ia masih tayang di TVRI, 30an tahun lalu.

Walaupun tidak se-ekstrim unyil, kadang ada saja kejadian yang membuat saya khawatir, apakah saat itu secara tidak sengaja saya masih mengenakan tas selempang, kaos oblong berlapis kemeja flanel, dan beralas kaki sendal jepit?

Misalnya beberapa hari lalu, di kelas English Course menjelang istirahat usai, saya kebagian berada dalam satu ruangan dengan Steven, sang pengajar, dan jadilah kamipun mengobrol. Dari topik yang umum, Steven lalu beranjak ke menanyakan kota asal plus pendidikan saya, dan disinilah kelucuan itu terjadi.

Mendengar kalau saya mulai kuliah tahun 1992 dan lulus tahun 1998, serta saya sudah berkarir lebih dari sepuluh tahun, dan sudah punya anak satu, Steven terlihat terkejut sekali. Sayapun tertawa sambil dalam hati saya berujar "Ooh, here we go again". Memvalidasi keterkejutannya, Steven berujar kalau penampilan saya sama sekali tidak mencerminkan umur yang sudah 35an tahun, dan sudah punya anak satu. Dalam konteks memuji, Steven menambahkan, soalnya dibandingkan dengan peserta sekelas lainnya, sayalah yang justru kelihatannya tidak seperti seorang bapak.

"Oh? And so, how should a father looks like then?" tanya saya penasaran
"Stressful, they have to look stressful!" balas Steven

Oh ya? Hahaha! Ada-ada saja Steven ini. Berhubung yang bersangkutan memang belum menikah, dan berusia jauh dibawah saya, maka pemahamannya ini ya sah-sah sajalah, walaupun sebenarnya stress atau tidak itu lebih tergantung pilihan hidup, bukan karena pertambahan usia.

Sedangkan "Ooh, here we go again" dari saya, muncul karena serangkaian peristiwa yang beberapa kali teralami terkait hal ini. Walau sudah banyak uban, waktu masih kost di Jl. Tambak di sekitar tahun ke-5 saya kerja di Jakarta, masih ada tukang warung yang nanya sama saya pas beli makan malem; "Pulang kuliah ya mas?", disambut dengan senyuman sumringah di bibir saya karena merasa diri awet muda.

Kali berikutnya, atau tepatnya sebelumnya, terjadi sewaktu mengantarkan ibunda berangkat bersama rekan-rekan alumnus sekolahnya untuk acara reunian. Ada seorang rekan ibunda yang kemudian bertanya; "Kuliah di mana sekarang?", padahal saa itu saya sudah tiga tahunan bekerja di Jakarta.

Ketika hal ini terjadi lagi di kantor sekarang, yang ada sebenarnya bukan perasaan sumringah lagi namun sudah lebih banyak bercampur dengan perasaan khawatirnya.

Memang beralasan juga sih, secara dari penampilan dan gaya berpakaian, saya terlihat rada beda dengan rekan-rekan kantor lainnya, termasuk yang satu angkatan. Soalnya banyak "bapak-bapak" disini yang setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata hanya terpisah satu tahun atau malah sebaya dalam usia. Senior Manager sayapun ternyata berasal dari satu almamater dengan saya, hanya saja terpaut dua angkatan, lebih muda!

Bakat bawaan orok kah?

Antara Pendidikan Seni Rupa Dan Musik Jazz

Kalau saya perhatikan lebih mendalam, ternyata kasus terlihat lebih tua ini terasa benar kalau sedang bergabung dengan rekan-rekan alumnus SMP, atau SMA, tapi tidak terhadap rekan-rekan satu kuliahan. Mungkin itu sebabnya? Basis pendidikan Seni Rupa?

Satu hal yang seringkali teramati dari para rekan-rekan yang sekarang terlihat menua itu adalah soal keseriusan, keseriusan dalam sikap, termasuk menurun drastisnya semangat bermain atau bercanda dari mereka. Mirip seperti temen-temen masa SMP / SMA dulu yang sedari dulu itu sudah suka musik Jazz! Apalagi kalau sampai jadi pemain instrumen dan tidak sekedar penggemar, maka mereka cenderung terlihat serius sekali, susah bercanda, dingin, dan membatasi diri. Mirip juga seperti sikap isteri saat masa-masa awal dulu bertemu, isteri yang kemudian ketahuan kalau dia juga adalah penggemar musik Jazz!

Jadi itukah yang menyebabkan seseorang terlihat muda? Semangat bermain dan jiwa Seni Rupa? Sedangkan yang menyebabkan seseorang terlihat tua adalah kegemarannya akan musik Jazz?

Lepas dari analisis sangat subyektif tersebut, karena saya termasuk salahsatu ayah yang di usia 30an ini masih gemar head bang kalau dengerin Metallica, tapi ngorok kalau diajak nonton konser Jazz, saya melihat ada satu implikasi kurang menyenangkan dari kasus ini:

Semua komentar positif yang saya terima di tempat kerja, atas hasil kerja yang memuaskan, apakah itu muncul dengan dasar anggapan bahwa saya masih remaja usia 20an? Kalau iya ya bahaya..! Soalnya jika demikian, maka standar mutu buat diri saya selama ini masih terlalu rendah. Saat semestinya saya dinilai berdasarkan standar yang sama dengan rekan yang sudah menempati posisi Senior Manager atau Project Manager (dan saya di Senior Staff), kalau saya masih dinilai berdasarkan standar lima tahun lebih muda, alias standar diri saya lima tahun lalu, maka ada jurang sangat besar atas apa yang sudah saya capai, dengan apa yang semestinya saya sudah capai. Dan ini akan berakibat buruk pada kualitas hidup yang bisa saya raih.

Karena regardless of my perceived age, umur nggak bisa bohong, dampaknya ada, terutama terhadap batasan dari apa yang bisa dilakukan, dan apa yang tidak. Batasan penerimaan kerja untuk seorang Junior Manager di suatu perusahaan misalnya, adalah sekitar 35 tahun. Kalau saat usia sebegitu prestasi saya belum mendukung, karena selama ini selalu dianggap anak muda, maka niscaya kesempatan untuk meraih posisi tersebut akan tertutup.

Dalam kondisi seperti ini, maka pilihannya akan jadi sangat berkurang. Kompensasi yang anda dapatkan juga biasanya dibawah rata-rata. Ini karena secara komparatif terhadap rekan sebaya, performance anda terhitung ada dibawah rata-rata. Alamat karir bisa mandek.

Standarisasi Baku Prestasi Terhadap Usia

Kalau di perusahaan sekarang ini saya banyak menemukan standar "BOK" ini dan itu (Body of Knowledge), sayangnya di dunia nyata, nggak ada standarisasi baku atas apa pengharapan dunia pada kita sebenarnya. Bisa jadi kita merasa puas bisa bertahan di posisi sekarang, padahal banyak kesempatan lebih tinggi terlewatkan gara-gara kita / masyarakat salah menerapkan standar kualitas pada diri kita. Waktu berlalu, kesempatan lewat tanpa sempat terdeteksi sekalipun bahwa peluang itu pernah ada.

Bisa jadi kita bisa merasa puas bersaing dengan rekan sebaya dalam memperoleh standar hidup dan karir yang dianggap maju untuk skala nasional. Lah skala regional gimana? Internasional? Suka atau tidak, Indonesia masih menyandang status "Negara Berkembang", di usianya yang sudah 65 tahun merdeka ini. Sementara Singapura dan Malaysia, sudah berhasil mencapai prestasi yang jauh lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat. Begitu juga dalam waktu yang relatif lebih singkat, Jepang bangkit dari keterpurukan dan menjadi salahsatu raksasa ekonomi dunia, dan kiblat perkembangan teknologi modern, terutama di bidang robotik dan Artificial Intelligence.

Saat kita masih malas-malasan untuk belajar Bahasa Inggris, negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura sudah meraup banyak manfaat di dunia internasional dari kemampuan masyarakatnya dalam berbahasa Inggris. Atau India sekalipun, yang katanya memiliki budaya dan tingkat ekonomi mirip dengan Indonesia, tapi banyak warganya yang bersekolah di Inggris, menjadi pengusaha sukses di luar negeri, atau menjadi ilmuwan pakar di berbagai Universitas Internasional.

Saat kita masih menggunakan standar bapak kita dulu dalam hal kemakmuran, tuntutan hidup sudah berubah meningkat 400%. Saat gw merasa puas pertama kali menduduki posisi manager beberapa tahun lalu, gw perhatikan, lah... manajer lainnya ternyata rata-rata usianya lima tahunan lebih muda dari gw! Direktur Utamanya malah dua tahun lebih muda dari gw! Saat pertama kerja di Wizoffice dulu, para boss nya berusia antara satu tahun diatas saya, hingga empat tahun dibawah saya. Kala saya masih ribet mengurusi tugas yang cuma tiga-empat desain seminggu, mereka sudah bertanggung jawab membesarkan bisnis sekaligus menafkahi orang lain! Dan kelihatannya standar mereka masih terus meningkat, secara mereka kini menjadi Direktur-direktur di perusahaan besar nasional, while I'm still here...

Hal ini saja sudah menunjukkan betapa berbedanya standar yang saya pakai dengan standar yang mereka pakai.

Memang banyak faktor penentu, seperti misalnya pendidikan luar negeri, yang nota bene berarti latar belakang keluarganya relatif sangat makmur; tapi semangat perjuangan hidup tidaklah bisa dibungkus berdasarkan dari mana kita berasal, siapa kita tadinya, melainkan dengan kemana arah tujuan kita, dan ingin menjadi apa kita kelak.

Lantas gimana caranya membuat diri bisa bersaing dengan para mereka yang sudah curi-start lebih dulu beberapa tahun, atau malah mungkin beberapa generasi sebelum kita hidup?

Caranya adalah dengan hidup dalam standar tuntutan dan kualitas yang dipakai oleh orang-orang yang berhasil!

Gampang-gampang susah, karena nggak semua orang berhasil rela bagi-bagi standarisasi internal diri mereka sendiri. Atau simply karena nggak pernah ada yang minta? Coba deh buat yang merasa sudah berhasil, bagi-bagi ilmunya sedikit disini? Share apa saja kualitas yang menurut anda membuat anda bisa mencapai lebih dari rata-rata orang?

Standarisasi Kinerja dalam Perusahaan

Kembali ke soal "BOK", untungnya, di perusahaan sekarang untuk penilaian kenaikan tingkatnya ada sistem bernama Competency Review System alias CRS, dimana masing-masingnya memuat serangkaian Body of Knowledge yang harus dikuasai, berikut Positive - Negative Indicator nya alias PNI. Hal ini cukup memudahkan dalam mencari tahu standar apa yang diharapkan oleh perusahaan. Tidak berdasar umur memang, tapi mau tidak mau terkait erat;

Gunakan standar mereka yang saya tahu usianya lebih muda, tapi kedudukannya lebih tinggi dari saya.


Mampukah saya mengubah diri sehingga cocok untuk berprestasi berdasarkan standarisasi tersebut? Harus, kalau memang ingin maju.

Manfaat Sesungguhnya Menempati Posisi Eksekutif

Menjadi "Manager" atau "Direktur", ataupun titel eksekutif lainnya, bukanlah perjuangan sekedar mengejar title; karena dalam praktik yang sehat, posisi tersebut hanya bisa dicapai oleh mereka yang memang memiliki kemampuan managerial dan kepemimpinan untuk menjalankan posisinya dan segala tanggung-jawabnya.

Yang saya "buru" dan kejar dari posisi sedemikian, justru adalah hal terakhir tersebut; kesempatan mempraktikkan dan melatih skill managerial. Karena jika seseorang memiliki kemampuan managerial yang baik dan terlatih, kepemimpinan yang kuat, setara yang dibutuhkan oleh posisi-posisi yang penting tersebut, maka terlepas dari bagus atau tidaknya kompensasi perusahaan yang didapat, beratnya tugas yang harus dijalankan, ia sudah memiliki suatu modal yang kuat untuk making things happen; baik di dalam karir maupun di luar itu. Untuk me-manage diri sendiri, me-manage keluarga, anak, pergaulan, lingkungan, organisasi sosial, untuk bisa memiliki kinerja yang lebih bagus, dan pada akhirnya, hidup yang berkualitas tinggi.

Ujung-ujungnya? Untuk kemaslahatan (kebaikan) diri kita sendiri dan orang lain di sekitar kita.

Karena berbeda dengan pengetahuan (knowledge), managerial dan kepemimpinan adalah keterampilan (skill), yang hanya bisa dikuasai melalu praktik dan latihan. Dan sarana latihan apa yang lebih baik selain menjadikannya tuntutan profesi? Secara rata-rata kita tentunya minimal menghabiskan waktu hingga 40 jam seminggu di tempat kerja mempraktikkan skill ini? Bahkan seringkali lebih?

Dibayar pula? :)

Jadi ngapain harus repot-repot menempati posisi penting yang harapan dan tanggung-jawabnya tinggi? Untuk melatih diri kita sendiri. Karena tuntutan akan memaksa kita untuk mengembangkan kemampuan di bidang tersebut. Tantang diri kita sendiri, karena hanya dengan cara itulah kita akan tumbuh.

Jadi bagi mereka yang sering berhadapan dengan peluang untuk beranjak maju, naik ke posisi lebih penting tapi lantas mundur karena khawatir, maka raihlah kesempatan; karena dengan tuntutan yang lebih tinggi tersebut niscaya anda kelak akan bisa menjadi agen perubahan positif terhadap diri anda sendiri, terhadap hal-hal yang anda anggap penting, dan terhadap orang-orang yang anda sayangi.

Mengutip ucapan Barrack Obama saat kampanye kepresidenannya dulu:

"We are the changes that we've been waiting for"

(bay)

Cara meraih sesuatu yang lebih baik

Cara yang terbaik untuk meningkatkan apresiasi dunia terhadap diri kita, adalah dengan meningkatkan nilai manfaat diri kita bagi orang lain.

Pemilik bisnis yang sukses, biasanya memiliki kemampuan untuk melayani para pelanggannya dengan baik dan memuaskan, baik dalam bentuk produk maupun jasa. Aktor yang sukses, biasanya memiliki kemampuan untuk membuat penonton film percaya pada karakter dari tokoh yang ia perankan, sehingga pesan dan kesan film tersampaikan dengan sempurna, sehingga memancing minat banyak penonton untuk menonton film tersebut. Seorang super-manager memiliki kemampuan untuk membesarkan bisnis si pemilik perusahaan, sehingga pemilik tak segan-segan memberikan kompensasi yang luar biasa, soalnya kontribusi si super-manager berpengaruh langsung kepada profit yang didapatkan perusahaan, yang pada ujungnya akan menguntungkan si pemilik perusahaan.

Akan halnya pada aliansi, seorang kepala negara akan dianggap sekutu oleh kepala negara lainnya kalau ia bisa memberikan kontribusi positif bagi negara yang dipimpinnya; baik itu kerjasama ekonomi, pertahanan, atau di bidang lainnya, suka rela atau tidak ada pilihan. Bersamaan dengan aliansi maka akan datang pula penghargaan dan kompensasi yang menguntungkan.

Jadi sebenarnya salahsatu modal dasar untuk keberhasilan hidup ini sangat tergantung kepada seberapa besar kualitas manfaat dan pelayanan yang bisa kita berikan kepada orang lain. Mirip seperti hadist Rasulullah SAW:
“Khairun naasi anfa’uhum linnaas.”
Yang terjemahan bebasnya:
"Sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain".
 (bay)

Wednesday, February 24, 2010

Make Your Dreams Come True!

How to make your dreams come true:

Expert advice from best-selling author and psychologist, Wayne Dyer:
  1. Don't die with your music still inside you. Listen to your inner voice. Find what really moves you. Then follow your passion.
  2. Embrace silence. Scientist and religious philosopher Pascal once wrote that all man's unhappiness comes from his inability to sit in a room quietly. So make time to be silent.
  3. Give up your personal history. Stop using past abuses and shortcomings to justify self-defeating behaviors. Your past is over! Focus on now!
  4. Avoid weakening thoughts. Stuff like guilt, shame, fear and anger will bring you down. Thoughts that empower you are peace, joy, love, acceptance. Make a conscious decision to take charge of your thinking.
  5. Treat yourself as if you already are what you'd like to be. If you've always dreamed of being a writer, introduce yourself as a writer. The first person who has to believe in you - is you!
Good luck! (bay)

Tuesday, August 18, 2009

Kekurangan sebagai anugrah

“My life with Tourette’s has made me realize that everyone has a ‘thing’ that haunts them in some way. It might be prejudice or chronic illness. It might be physical limitations or life circumstances or ego or pride or jealousy or hate, but everyone has their thing. When we can control the thing, we feel empowered and optimistic. But when the thing wins, we travel the road to despair. The key is to find a road that leads around your particular limitation, a road that maybe has more bends in it but gets you to the same point in the end” (Cohen, 83)
Masih nyambung soal review film "Front of The Class", kutipan kalimat diatas diambil dari buku berjudul sama karya Brad Cohen, yang hidupnya digambarkan dalam film tersebut. Suka atau nggak, pada kenyataannya apa yang Brad ungkapkan dalam kutipan diatas lebih banyak benernya daripada bo'ongnya; kita semua punya 'thing' kalau menurut Brad, atau 'devil' menurut sebagian lainnya (dan 'momok' untuk mereka yang EYD minded dan bukan orang Sunda), yang menghantui kita terus menerus dan selalu dianggap sebagai penyebab nasib buruk yang kita alami atau kesulitan yang kita hadapi.

Namun sebenarnya selalu ada cara pandang positif dalam menghadapi hal terburuk sekalipun. Selalu ada berkah dalam masalah terberat sekalipun. Dan dalam hal ini maka ketika kita bicara mengenai kekurangan, sebenarnya pengaruhnya pada diri kita tidaklah selalu negatif. Yang kita perlu lakukan tinggal mencari jalan yang tepat untuk mengatasinya sehingga tidak menjadi lagi suatu hambatan bagi kita. Dan dalam hal ini, justru mereka yang memiliki kekurangan bisa jadi adalah orang yang beruntung, karena memiliki suatu pengingat yang menghantui pikiran kita setiap waktu setiap saat. Tinggal bagaimana sikap kitanya saja dalam bereaksi; membiarkan si kekurangan mengambil alih kendali hidup kita? Atau justru mengeluarkan tenaga extra untuk mengatasi kekurangan-kekurangan yang kita miliki tersebut?

Banyak orang berbakat, tapi tidak mencapai keberhasilan apa-apa dalam hidupnya, sedangkan di sisi lain sejarah mencatat banyak keberhasilan justru lebih banyak muncul dari upaya gigih dan konsistensi dalam mencapai suatu tujuan, dari mereka yang sekedar hanya lulusan SD sekalipun, university rejects sekalipun, pemimpi sekalipun. Jadi yang paling berpengaruh sebenarnya adalah ikhtiarnya itu lho... Mau dikata berbakat luar biasa, tapi kalau dalam pengamalan ilmunya biasa-biasa saja, jalan hidupnya biasa-biasa saja, keahliannya tidak pernah diasah tajam, maka jangan harap dunia akan tiba-tiba membungkuk pada anda memberikan hormat, atau mengijinkan anda mengecap sedikit saripati manisnya.

Maka dalam hal prestasi, kekurangan yang kita miliki justru bisa berperan besar dalam mencetak keberhasilan. Karena ketika kita menjadi suatu individu yang terus-terusan dikejar "setan" siang dan malam (kebutuhan hidup kian tinggi, utang menumpuk, anggota keluarga bermasalah, dll.), maka otak kita akan terus-terusan dilatih untuk mencari pemecahan masalah, mencari jalan keluar, mencari penyelesaian. Kekurangan kita tanpa disadari justru bisa menjadi suatu guru yang sangat efektif.

Mungkin ini juga masalahnya dengan mereka yang termasuk "generasi degradasi" dari suatu dinasti bisnis yang menggurita; pada saat dirasakan sudah tidak ada tantangan berat, setan yang terus mengganggu, maka usaha keras akan terhenti... Dan kala kemapanan kemudian disaingkan dengan "kelaparan" dari para pesaing yang merasa belum meraih sukses, sudah tentu kemapanan akan kalah tenaga.

Jadi mulai sekarang, segera, raihlah kekurangan yang anda miliki selama ini, dan jadikan aktor inti dalam perjalanan keberhasilan anda, dalam fungsinya sebagai pengingat konstan, akan perlunya ada usaha yang lebih keras untuk segera mengeluarkan diri dari bayang-bayang kekalahan yang selama ini anda hadapi.

Bingung utang terus-terusan numpuk? Itu tandanya anda sedang diingatkan untuk berusaha lebih keras dalam menjaga pengeluaran dan meningkatkan pendapatan.

Bingung hubungan romantis terus-terusan kandas? Itu tandanya anda sedang diingatkan untuk segera mencari tahu apa yang bermasalah dalam perilaku sosial-romantis anda dan memperbaikinya, atau berusaha lebih gigih dalam mencari calon pendamping.

Bingung karir terus-terusan mandek? Itu tandanya anda sedang diingatkan untuk berusaha lebih keras dalam bidang anda, atau mencari bidang lain dimana anda bisa lebih memanfaatkan potensi-potensi yang anda miliki.

Jadi semua jawabannya ada dalam diri kita sendiri. Bukannya tidak ada campur tangan Tuhan, namun seperti telah disuratkannya "Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka mengubahnya sendiri" -- bukan juga berarti Tuhan malas -- tapi ini lebih kepada petunjuk, bahwa perubahan akan terjadi kala kita mau berusaha melayakkan diri untuk menghadapi tantangan-tantangan yang hidup ini berikan. Bukan terus cengo di pojokan sambil ngedumel bahwa dalam kehidupan nyata ini sebenarnya tidak ada itu fair play, atau kemudian menganggap bahwa Tuhan itu tidur...

Let's work! (bay)

image dari: http://susanssunnyside.blogspot.com/

Wednesday, January 21, 2009

Harta tersembunyi di balik masalah

Menit-menit terakhir sebelum serah-terima proyek... udah final countdown ceritanya, tapi alamak hasil dizain masih belum kompatibel antara FF ma IE! Udah berkali-kali ngubek-ngubek CSS file nya sejak bbrp minggu lalu tapi tetep masih belum ketemu dimana kutunya (bug) ngumpet.

[Yaa sambil radas selewat juga sih, soarlnya ngerjain yang laen dulu yang lebih penting].

Setelah ngotak-ngatik beberapa tag spesifik yang rada jlimet (misalnya #div-a class ul li li a:hover {}), dan berkali-kali restore backup, akhirnya nyerah dan coba nyari kesalahan yang simple dulu aja... Mulai penelusuran..."key item"nya adalah warna si menu pada saat mouseover... udah ketemu kode warnanya berapa, then search di CSS nya di tag mana dia berada. Eh, dapet satu tag sederhana di awal file yang ngatur warna menu secara general. Gw perhatiin... koq minus warna backgroundnya...? Tag dalam kondisi gini memang ternyata jalan baek2 aja di FF. Tapi apakah disin masalahnya? Soalnya di IE background colornya emang jadi ilang... Ya udah, coba tambahin statement soal bgcolor deh...

ketik... save... refresh page...

JALAN!

Alhamdulillah! Nggak usah berburu kutu lebih jauh lagi ternyata scriptnya udah jalan di IE, cuma saja NGGAK KELIATAN gara warna background si menu nggak ter-define baik di IE =P.

GustiAlloh... berapa jam udah gw dedikasikan buat nyari kutu ini... ternyata solusinya cuma "segitu"? What a waste of time!

...

Eh tapi sebenernya nggak juga sih. Karena dengan pengalaman ini maka kalau kedepannya ketemu masalah serupa gw nggak usah begin from zero lagi dan bisa lebih cepet menyempitkan ruang pencariannya. Trus logic yang dipake buat mengisolasi masalahnya dan menemukan pemecahannya juga bisa diaplikasikan ke kondisi yang berbeda-beda... Jadinya kelak bisa kerja lebih efektif... dan ningkatin efisiensi...


Gunanya Masalah

Walau terkadang rasanya pengen nangis... perut mendadak sakit, jantung berdebar-debar, susah makan susah tidur... tapi setelah masalahnya terpecahkan, suddenly you find yourself more experienced. Itulah gunanya pengalaman... itulah gunanya masalah... Dan manusia emang keliatannya nggak punya cara lain buat belajar selain terjun langsung dan mengalami masalah...

Tapiiii... guidance tetep perlu... toh gw juga nggakan berhasil nemu scriptnya in the first place kalau gw nggak punya akses ke internet... Dalam masalah keseharian, kan bisa tanya orang tua gimana mereka handle masalah mereka dulu... belajar dari pengalaman orang laen juga supaya cepet pintar...

Aplikasinya kalau ada anggota keluarga yang terlibat masalah, bantu mereka untuk tetep kuat dan tabah menyelesaikan masalahnya itu... bukan dengan turun tangan campur dan ngambil alih porsinya untuk berjuang. Ntar nggak tumbuh-tumbuh dong...?


Makna Masalah, Ujian dan Tantangan

Bercermin dari pengalaman tersebut, pengalaman serupa, ayat-ayat Nya, wise men speeches... jadi sebenernya orang yang banyak dipertemukan dengan masalah, ujian, tantangan, adalah orang yang disayangNya... karena DIA ingin orang tersebut untuk tumbuh... tumbuh kuat, tumbuh besar, tumbuh cerdas.

Karena hidup layak tidak bisa diberi... tapi harus diraih... Dan untuk meraih, maka diperlukan kualitas dalam tingkat tertentu... yang tentunya nggak bisa tau2 bisa, tapi harus ditumbuhkan melalui masalah, ujian dan tantangan.

[Begitu juga iman... harus diraih, nggak otomatis didapet gara-gara agama turunan]

[Begitu juga jodoh.... ] <-- perhatikan buat yang masih jomblo!


Empowering Yourself

Inget prinsip "Pareto", soal 80:20 itu? Sama halnya dengan kita juga... walaupun seperti contoh sebelumnya, solusi yang gw cari baru ketemu di menit-menit terakhir, bukan selama berjam-jam sebelumnya, tapi ini nggak berarti bahwa problem solving cuma terjadi di menit-menit terakhir tersebut (atau butuh cuma belasan menit). Pareto nya disini adalah 80% solusi ketemu di 20% waktu penghabisan. Tapi tetep harus 100% ngerjainnya.

Gitu juga halnya kalau percepatan dirasa lagi lambat... prestasi nggak naek-naek... no breakthrough dalam kehidupan... penghasilan nggak nambah-nambah... apa yang seharusnya kita kerjain? -- ngutip MT dikit ah --... "pencapaian tidak ada di setiap masa, kemuliaan tidak ada di setiap masa, tapi yang selalu ada di setiap masa adalah bekerja".

Bekerja maksudnya melakukan hal-hal yang terkait mengejar tujuan. Bekerja disini kalau diterapkan buat mahasiswa ya sama dengan belajar. Paham? Routine (perhaps mundane) works yang tidak menyimpan kejutan, tapi berguna buat gradually building a better you? Betul yang menentukan kelulusan adalah ujian, tapi apa ujian bakalan mudah diselesaikan kalau sehari2nya malas belajar? Akankah seorang pekerja naek jabatan kalau sehari2nya kerja ogah2an? Akankah tiba-tiba seorang anak bisa lari kencang kalau sedari kecil nggak latihan merangkak, jalan, dan berkali-kali jatuh?

Jadi walaupun membosankan, "ujung"nya belum keliatan, terus bekerjalah! Keep improving yourself! Luck is when change meets preparation. (bay)

Friday, December 26, 2008

Keberhasilan bersyarat


"Jangan memberi syarat kepada keberhasilan"

Maksudnya jangan nunggu sesuatu terjadi dulu / punya sesuatu spesifik dulu sebelum mau mulai usaha kearah kebaikan. Hal yang seringkali terjadi adalah, secara nggak sadar kita menunda-nunda melakukan sesuatu karena merasa masih kurang ini kurang itu. Atau, berencana kalau sudah punya anu, tercapai anu, barulah mau begini begitu.

Padahal banyak dari hal yang direncanakan bersyarat tersebut, sudah bisa dilakukan SEKARANG, walaupun mungkin butuh sedikit penyesuaian atau sedikit agak susah, atau sedikit rada KURANG NYAMAN.

-- Tapi sebenernya bisa --

Silakan re-check. (bay)

Monday, September 15, 2008

Terjebak "Comfort Zone" atau... ?

Masih dari Mario Teguh The Golden Way, kali ini soal "comfort zone" dan bagaimana ia seringkali dijadikan alasan ketidakberkembangan kita.

Terkait comfort zone, seringkali apa yang para motivator tekankan bagi para slackers adalah; "jangan terjebak dalam comfort zone". Alias, jangan sampai enggan untuk berjibaku, hanya karena kita sudah merasa nyaman dengan apa yang biasa kita lakukan / apa adanya kita.

Namun sebenernya kalau mau mempertanyakan lebih dalam lagi, bisa ada pengertian baru lho... Pertanyaannya, "Benarkah kita malas bergerak karena merasa nyaman di comfort zone kita?" 

Let's see... kalo gaji masih pas-pasan, lingkungan kerja nggak kondusif, karir nggak jelas, rumah belum kebeli, jangankan liburan malah selalu kekurangan duit.... so...

WHAT COMFORT ZONE???

Kalau belum achieve apa-apa udah merasa comfort sih sebenernya namanya bukan terjebak comfort zone, tapi dogol. (bay)

Wednesday, September 3, 2008

Resep keberhasilan menurut Mario Teguh

Ngutip MT di salahsatu episode Business Art:

"Keberhasilan datang dari mengerjakan apa yang harus dikerjakan, dan tidak mengerjakan apa yang tidak boleh dikerjakan"

Misalnya gw tau kalau saat ini harusnya beresin kerjaan anu, tapi bukannya dikerjain malah ngempi... nah siap2 aja keberhasilan yang gw idam-idamkan akan tertunda lebih lama lagi. Sedangkan kalau setiap saat selalu ngerjain yang harusnya dikerjain, instead of ngerjain yang nggak-nggak, biasanya keberhasilanpun otomatis akan menghampiri. Tidak berhasil? Belum! Keberhasilan itu ada waktunya; kalau tidak sekarang dan cepat-cepat, mungkin baru terjadi pada masa anak anda, atau mungkin keturunan anda generasi berikutnya. Intinya sih jangan malas memulai / berusaha hanya karena "ujung" perjalanannya belum kelihatan dimana.

Sedangkan terkait self-management, kesuksesan akan menyertai mereka yang niat, pikiran, dan tindakannya selaras.

Biasa? Ah kecanggihan bapak yang satu itu memang dalam menawarkan pemecahan masalah-masalah besar dengan solusi-solusi yang sederhana dan mudah dilakukan. (bay)

Friday, August 15, 2008

Komponen paling penting dari ide

Apakah bagian yang paling penting dari suatu ide?

TINDAKAN

Bahkan ide sederhanapun bisa jadi besar kalau dilaksanakan. Sedangkan ide brilliant sekalipun tidak akan berarti apa-apa kalau hanya disimpan dalam laci... baik itu laci meja, atau laci pikiran. (bay)

image dari: http://www.dosomething.org/

Monday, August 4, 2008

Merancang sendiri masa depan anda

Masih senada dengan perkataan Dilenschneider di postingan sebelumnya, adalah dari Mario Teguh:

"Sulit bagi anda untuk menemukan orang yang dalam rencana keberhasilannya ada rencana keberhasilan Anda. Maka anda harus merencanakan keberhasilan anda sendiri*"


Klop kan? Kalau mau masa depan sesuai harapan ya harus dirancang sendiri, nggak bisa bergantung pada orang lain! (bay)

*dikopi dari sini: http://businessart.multiply.com/journal/item/23

Tentang membuat sejarah hidup...

Salahsatu quote paling berkesan dari Robert Dilenschneider dalam bukunya "Power & Influence" adalah ini:
"Realize that you are making history, not just following it"
Seringkali kita merasa kalau hidup kita ini sudah ada yang mengatur... baik itu ayah, ibu, lingkungan, pendidikan, atau bahkan Tuhan sekalipun. Nggak, nggak salah koq, cuma, dikala kita dihadapkan pada pilihan untuk membuat gebrakan yang beresiko, atau go with the flow untuk main aman, sadarlah bahwa masa depan kita ini, kita yang menentukan! Bukan orangtua, keluarga, perusahaan, apalagi tetangga.

Kisah hidup kita bisa jadi mirip sekali dengan kisah hidup orang tua kita. Atau tokoh idola kita. Tapi ini tidak berarti bahwa suatu kisah hidup harus selalu berjalan sesuai dengan kisah hidup yang sudah pernah ada. Mencari panutan dan model boleh, tapi jangan dijadikan batasan. Saat pilihan untuk 'keluar jalur' itu ada, dan dirasa akan membawa manfaat yang baik bagi kehidupan kita, jalankan! Buatlah jejak kisahmu sendiri nak, jangan sekedar ngekor. Jangan mentakdirkan diri dengan suatu nasib, sebelum Tuhan sendiri menakdirkannya (dan menyegelnya).

Akankah Sushi tercipta kalau di masa silam tidak ada chef yang berani 'keluar jalur' dan menyajikan Sashimi dengan nasinya dalam satu tangkap supaya mudah dicomot? (Sandwichpun konon muncul karena alasan yang sama). Tukang baso tahu (JKT: siomay) di Kopo yang iseng menggoreng dagangannya, bukan sekedar dikukus, sehingga tercipta hidangan "Batagor" yang jadi salahsatu hidangan khas Bandung? Dunia penuh dengan contoh dari mereka yang "melawan nasib" dan berhasil... Mereka yang berani membentuk "sejarah" hidup mereka sendiri, alih-alih menyerahkan kisah hidupnya untuk dituliskan oleh orang lain. (bay)

The Golden Ways with Mario Teguh di Metro TV (Review)


Rating:★★★★
Category:TV Show
Akhirnya "The Golden Ways" tayang juga di Metro-TV. Dengan acara ini, maka wisdom pak Mario Teguh bisa dibagi-bagikan kepada pemirsa dengan cakupan lebih luas lagi; skala nasional.

Dari segi content sih nggak banyak beda dengan "Business Art" di O'Channel, hanya saja dalam visualisasinya GW lebih unggul karena dilengkapi dengan layar super lebar yang menampilkan coret-coretan ilustrasi yang sesekali dibuat oleh MT di komputernya. Penontonnya juga lebih banyak.

Kelemahannya, host GW - Charles Bonar Sirait - keliatannya masih belum nemu gaya yang pas buat ngimbangin materi dan style nya MT, sehingga masih banyak terkesan nggak nyambung atau malah tabrak lari. Kelemahan lainnya, gaya pembawaannya bukan lagi business talk, tapi lebih mirip "success seminar" yang dulu sering gw hadiri saat masih ikutan Amway; lengkap dengan standing ovation, penyanyi, praising, dll. Buat gw ini bukannya membuat bergairah, malah absurd. But that's just me being personal, karena as always, content lebih penting daripada kemasan.

Jadi kesimpulannya, selain dari content yang tetep brilliant, masalah utama adalah pada masih di belum bagusnya sinergi antara CBS dan MT, sehingga diskusi dan pembahasan masih seringkali terasa bercabang atau abruptly turned. Contohnya ketika MT membahas mengenai "pria paling beruntung di dunia" adalah pria yang bisa menghasilkan lebih banyak daripada yang isterinya bisa belanjakan, dan "wanita paling beruntung di dunia" adalah wanita yang bisa menemukan pria seperti itu, CBT menutup pembahasan tersebut dengan berkata pada MT kalau sebenarnya ada juga wanita yang sangat beruntung di dunia, yaitu "wanita yang bisa mendapatkan dan menjaga cinta pria tersebut seumur hidupnya" -- yang mana adalah perulangan dari definisi MT sebelumnya.

Banyak lagi contoh lainnya yang sering membuat kening berkerut, even MT pun sekilas terlihat seperti dalam diamnya seakan berujar "ni anak mau ngapain...?" -- just my interpretation though --. Silakan tonton re-run acaranya (kalau ada), tapi intinya disini adalah masih perlu diperkuatnya sinergi antara CBS dan MT. Masih jauh lebih nyambung dan hidup chemistrynya antara MT dan Hilbram Dunar di BA.

Selebihnya, gw sih optimis acara ini bakalan se-asyik BA di O'Channel nantinya. Atau bahkan mungkin lebih sukses lagi, karena GW sudah punya waktu cukup banyak untuk belajar dari kelebihan dan kekurangan BA (selama tayang setahun lebih), dan membuat perubahan yang diperlukan.

Salam super! (bay)

Saturday, July 12, 2008

Business Art With Mario Teguh di O'Channel


Rating:★★★★★
Category:TV Show
Salahsatu acara paling "super" di TV Jakarta, karena memberikan apa yang jarang sekali didapatkan dari acara-acara lainnya di TV: motivasi.

Saksikan setiap Kamis malam di:
TV O'Channel (33 UHF)
Jabodetabek
Pukul 21.00 - 22.00

Re-run:
Sabtu pukul 20.00 - 21.00
Minggu pukul 13.00 - 14.00

Website: http://www.mtsuperclub.com/

Friday, June 13, 2008

Ngumpulin kata mutiara, kadang terasa cheesy tapi perlu

Dulu jaman masih sekolah dan dunia lebih mellow dari sekarang, gw punya kebiasaan ngoleksi kalimat penyemangat, atau istilah jadoelnya "kata mutiara". Kata mutiara ini kemudian gw kumpulin di halaman-halaman loose leaf berdasarkan kategori yang sesuai; misalnya untuk membangkitkan semangat berjuang, untuk menghadapi persaingan tidak sehat, sampe ke untuk mengobati masalah kasmaran. Hehe

Kata mutiara yang paling sering gw kumpulin adalah dari para tokoh-tokoh oriental tempo doeloe, termasuk para guru Zen. Selebihnya, ya dari buku-buku yang gw baca sambil lalu, mulai dari topik Agama, Bela Diri, sampe ke Public Relations. Nyokap dulu praktisi sekaligus pengajar materi PR di aneka kursus dan pelatihan, dan gw sering minjem buku-buku referensinya buat dibaca sendiri. Salahsatu yang paling gw suka adalah bukunya R. Dilenschneider yang ngebahas prinsip-prinsip PR dari pengalamannya belasan tahun berkutat di dunia PR, termasuk ketika harus menangani krisis-krisis skala internasional. Sangat membuka wawasan.

Anyway, aneka rupa kata mutiara yang gw kumpulin tersebut akhirnya ngedon di lemari entah yang mana, gw merasa sudah terlalu cheesy buat ngoleksi hal-hal sedemikian di usia gw yang udah kepala tiga. Tapi gara-gara baca bukunya "The Secret" versi Donald Trump*, mau nggak mau gw dihadapkan kembali kepada kata-kata mutiara ini karena ternyata Donald gemar mengkristalkan pengajaran-pengajarannya dalam format seperti ini.

[* Isi materi bukunya maupun pengajarannya sendiri sebenernya nggak out of the world atau top secret, atau berisi rahasia-rahasia heboh! Karena rata-rata mereka yang berhasil di dunia bisnis bisa mencapai prestasinya tersebut karena prinsip-prinsip yang sederhana dalam level yang terkadang "itu sih anak SD aja tau". Cuma bedanya, kebanyakan dari kita gagal menerapkannya dengan benar].

Kata mutiara memiliki keunggulan dalam hal format. Karena bentuknya yang sangat ringkas, maka pesan yang terkandung pun bisa tersampaikan dengan jelas dan benar, sehingga mudah untuk diingat. Dan jadilah gw kembali mencatat kata-kata mutiara yang gw anggap perlu, sambil sekalian aja gw buat jadi wallpaper di desktop PC gw!

Jadi penasaran... ada dimana yah koleksi kata-kata mutiara yang dulu gw kumpulin? (bay)

Monday, October 22, 2007

Jenis kepemimpinan dan cara memotivasi orang lain

Menurut sahibul hikayat, pada jaman Jepang sebelum kekaisaran Edo, berkumpullah para pemimpin legendaris Jepang di suatu taman. Ketika kemudian seekor burung hinggap di dahan dekat mereka berkumpul, bertanyalah seorang guru Zen pada mereka;

"Apa yang akan anda lakukan kalau burung itu tidak mau bernyanyi?".

Jawaban yang kemudian dilontarkan masing-masing pribadi, dianggap menggambarkan dengan baik karakter dari para pemimpin tersebut:

Oda Nobunaga menjawab "Bunuh kalau tidak mau bernyanyi!". Toyotomi Hideyoshi menjawab "Buat ia ingin bernyanyi". Tokugawa Ieyasu menjawab "Tunggu, sampai ia bernyanyi".

Oda Nobunaga memiliki latar-belakang sebagai turunan bangsawan, dan dibesarkan sebagai bangsawan. Dalam usahanya menyatukan Jepang, Nobunaga dianggap memakai cara yang paling keras dan kejam. Toyotomi Hideyoshi, sebagai anak petani yang miskin namun kemudian memiliki kedudukan penting dibawah kepemimpinan Nobunaga, dianggap memiliki karakter yang impulsif dan pandai memanfaatkan situasi. Sedangkan Tokugawa Ieyasu, keturunan ningrat yang memilih untuk tunduk pada Nobunaga dan Hideyoshi di masa mereka berkuasa, baru menunjukkan taring nya pada saat kedua pemimpin tersebut telah meninggal, sehingga dianggap memiliki kesabaran yang sangat tinggi1.

Dalam aplikasi keseharian pun, kita bisa banyak bercermin dari kisah ini dalam hal gaya kepemimpinan.

"Uh, karena gw bukan pemimpin jadi pepatah ini nggak berlaku dong?"

Radang Usus Buntu!2. Sebenarnya setiap individu adalah pemimpin, baik itu pemimpin keluarga, pemimpin perusahaan, pemimpin komunitas, atau minimal pemimpin untuk dirinya sendiri! Jadi jangan banyak ngeyel dan dengerin aja! Awas lo kalo berisik!

Jenis-jenis Kepemimpinan



Seperti kalimat terakhir pada alinea sebelumnya, untuk bercermin pada Nobunaga yang keras dan kejam, mungkin setiap orang bisa melakukannya asalkan memiliki kekuatan yang relatif superior dibandingkan lainnya.

"Hanya duit seribu atau dua ribu rupiah pasti kecil artinya bagi anda, tapi bermanfaat besar bagi kami, yang memilih untuk meminta belas kasihan anda daripada harus mencopet, menjambret atau merampok!" kata sekelompok pengemis hard-core pada para penumpang metromini.
"Bagi duit buat anak-anak beli minum euy, mun henteu, digaradah siah!" kata okem sekolah pada juniornya.
Dan lain-lain contoh... Pada dasarnya, ancaman kekerasan adalah termasuk cara paling primitif dalam "memotivasi" orang lain/kelompok.

Sedangkan untuk bercermin pada Tokugawa soal kesabaran, maka caranya lebih sulit karena terkait kepada kontrol diri yang kuat untuk menahan diri. Bagi mereka yang introvert, atau phlegmatis, mungkin gaya kepemimpinan penyabar seperti ini bukanlah pilihan tapi keterpaksaan. Keterpaksaan karena ketidakmampuan untuk bersikap keras dan tegas. Padahal dalam aplikasi praktisnya, kesabaran, apalagi menunggu, seringkali berbuah buruk kalau diterapkan dalam situasi-situasi yang umum...

Staff: "Pak, laporan belum selesai karena anu anu dan anu"

Boss: "Waduh, kapan dong bisa beres?"

Staff: "Ya nggak tau pak, soalnya masih harus nunggu anu anu dan anu"

Boss: "Oh ya sudah, saya tunggu deh"


Staff: "Pak, hari ini saya tidak masuk karena paman sakit keras"

Boss: "Lho, bukannya kata kamu sudah sembuh? Trus buat materi presentasi gimana?"

Staff: "Oh... eh... ini paman yang lain pak... terus soal presentasi... menyusul ya pak?"

Boss: "Oh ya sudah, saya tunggu kamu besok ya"

Staff: "Wah, pamannya di luar kota pak, paling minggu depan saya baru masuk"

Boss: "Oh... ya sudah, saya tunggu deh"


Toko: "Pak, barang yang diserpis butuh komponen ini itu dan kita lagi ngga ada stok"

Anda: "Yah... kira-kira kapan ada stok lagi pak?"

Toko: "Euh... belum tau pak, mungkin satu bulan lagi..."

Anda: "Oh... ya sudah saya tunggu deh"


Dan lain-lain... Kesabaran, sayangnya seringkali terlalu erat asosiasinya dengan inaktivitas, pasifisme, atau malah ketidak mampuan untuk tegas.

Sedangkan untuk bercermin pada Hideyoshi yang memilih untuk mempengaruhi orang lain, mungkin merupakan pilihan yang paling baik, namun sekaligus yang paling sulit.

Jika cara kekerasan sekedar membutuhkan kekuatan yang relatif superior, dan kesabaran membutuhkan kontrol diri yang kuat untuk menahan diri, maka mempengaruhi orang lain membutuhkan kemampuan si individu untuk memotivasi individu lainnya, alias menanamkan motivasi. Dalam hal ini, si individu harus mampu membuat orang lain memiliki dorongan yang besar untuk mencapai hasil yang telah ia ditetapkan.

Pemotivasian dan Masalahnya

Dalam sistem manajemen, cara paling mudah untuk memimpin orang lain adalah dengan menerapkan sistem reward & punishment yang tepat. Pada banyak kasus, bahkan punishment saja sudah cukup. Namun jangan harap dengan cara ini anda bisa menjadi pemimpin yang disayangi atau dihormati oleh bawahan. Begitu struktur komando runtuh atau berubah, bisa-bisa andalah yang akan balik ditekan dengan cara yang sama.

Sistem manajemen yang baik, adalah sistem yang mampu membangkitkan motivasi pada para anggota manajemen untuk bersungguh-sungguh dan dengan maksimal mencapai tujuan yang telah digariskan oleh manajemen. Jadi ketika tujuan akhir tercapai, maka masing-masing pelaku turut merasa puas karena merasa telah memenuhi tujuan pribadi mereka juga.
"People are motivated to do things because they want to, not because someone else thinks it is a good thing to do. Motivation results from actions that satisfy inner needs. Being forced to do something and doing it, is not indicative of being motivated".(3)
Motivated employees, atau pekerja yang termotivasi, cenderung menunjukkan kinerja kerja yang tinggi. Karena itulah motivated employees di masa modern ini tak jarang dianggap sebagai tulang punggung dari suatu perusahaan. Masalahnya, menanamkan motivasi pada orang lain merupakan suatu skill yang penuh tantangan...
"Of all the functions a manager performs, motivating employees is arguably the most complex. This is due, in part, to the fact that what motivates employees changes constantly (Bowen & Radhakrishna, 1991)".(4)
Jadi karena motivasi bagi tiap orang bisa berbeda-beda, maka seorang pemimpin harus memiliki skill dan kepekaan untuk bisa melihat apa sajakah faktor-faktor yang menjadi motivasi utama dari para bawahannya. Dan para pemimpin lainnya yang setara, atau malah atasannya.

Jenis Dorongan Motivasi

 Dalam ilmu psikologi, ada serangkaian test yang bisa dilakukan untuk mencari tahu dorongan utama dari seseorang dalam ber-karir. Dalam hasilnya, biasanya akan diketahui beberapa faktor dorongan yang dominan bagi individu terkait. Termasuk dalam jenis dorongan yang diujikan, antara lain:
  1. Jaminan keamanan kerja (job security, bukan work safety)
  2. Atensi simpatik terhadap masalah pribadi
  3. Kesetiaan pada pemberi kerja
  4. Kerjaan menarik
  5. Kondisi kerja yang baik
  6. Disiplin yang pengertian
  7. Bayaran yang baik
  8. Promosi dan kesempatan berkembang dalam organisasi
  9. Perasaan keterlibatan dalam sesuatu
  10. Penghargaan atas pekerjaan yang terselesaikan baik.
Memang bukan faktor dorongan yang absolut... namun cukup lengkap dan luas untuk bisa dijadikan patokan dasar.

Sayangnya (lagi), nggak setiap pemimpin punya kemampuan untuk menyelenggarakan tes psikologis seperti ini. Kalaupun bisa, maka hasilnya belum tentu akurat. [Ih serba salah ya?]

Lantas gimana dong?

Cara Memotivasi Orang Lain

Untuk yang satu ini gw masih dalam tahap conscious unawareness, alias gw tau kalo gw nggak ngerti. Yang gw tau, sebagian temen gw sering menjadikan gw sebagai narasumber untuk referensi. Entah itu dalam hal tontonan, elektronik, atau restoran. Nggak jarang, banyak yang tertarik atau malah fanatik buat ikut membeli sesuatu atau melakukan sesuatu karena terpengaruh oleh tulisan yang gw buat. Why? It's just happens. Tapi hal ini bisa dijadikan patokan kalau sebenernya gw dah punya skill untuk memotivasi orang lain...

Hambatan utama yang gw rasa, adalah waktu menjabat jadi manajer dan punya beberapa staff... Should I kill them for not doing what I instructed? Should I be patience with them and get me killed by my boss instead? Or could I make them want to do what I want them to accomplish? Pertanyaan yang sebenernya nggak terkait kerjaan aja karena pada situasi lain yang lebih informal pun bisa muncul...

Gimana caranya bikin pacar mau nonton bareng film yang elo nanti-nantikan tapi bukan jenis favorit dia? Ancem nggak diapelin? Mungkin yang ada malah elo yang di PHK (Putus Hubungan Kekasih) karena berani ngancem.

Gimana caranya minta bantuan temen buat ngerancangin logo tanpa harus terkesan pushy dan desperate? Ancem musuhan? Bisa-bisa kabar kesemena-menaan elo ini yang tersebar ke seantero milis yang elo ikuti di dalam dan luar negeri. Psycho!

Gimana caranya supaya temen mau ikutan aktif terlibat dalam acara sosial dari komunitas? Ancem di black-list dari komunitas? Bisa-bisa elo yang didepak dari kursi ke-PiJey-an.

Beragam aplikasi, tapi intinya tetep terletak pada hal yang sama: Kemampuan kita untuk memotivasi orang lain. Dan dalam hal ini, sayangnya, tidak ada suatu proses baku yang bisa ditiru untuk menjamin terwujudnya kesuksesan, melainkan hanya serangkaian ide dan tools yang bisa membantu seorang pemimpin untuk menanamkan motivasi pada mereka yang ia pimpin.

Tapi kalau dibakukan, maka prosesnya adalah seperti ini:
  1. Mencari tahu hal-hal spesifik yang memotivasi target anda. Hal ini bisa dicapai dengan menggunakan tools semisal psychological tests, quiz, wawancara, interogasi, atau dengan pengamatan diam-diam, kasak-kusuk ke temen deket target, hipnotist =P, dan cara alternatif lainnya.
  2. Mencari cara untuk menyelaraskan faktor dorongan motivasi target, dengan tujuan yang ingin anda capai. Coba cari "benang merah" antara hasil yang ingin anda capai, dengan dorongan motivasi si target, lalu buat si target menyadari keterikatan tersebut. Atau ciptakan kondisi / libatkan faktor external yang mungkin membantu munculnya dorongan motivasi pada si target.
Gimana dengan anda, punya panduan referensi, trik khusus atau pengalaman pribadi? (bay)

Footnote:
1 Sumber informasi: http://answers.google.com/answers/threadview?id=456283
2 Umpatan versi penyakit
3 Sumber: http://www.actioninsight.com/Article18.htm
4 Sumber: http://www.joe.org/joe/1998june/rb3.html

Ilustrasi cartoon:
http://www.jobschmob.com/images/cartoons
http://www.ganesha.org/hall/gallery.html

Bacaan lanjutan:
Google search: http://www.google.co.id/search?hl=id&q=motivational+factor&btnG=Telusuri&meta=

Tuesday, September 19, 2006

Motivasi adalah pemilahan makanan untuk konsumsi akal pikiran kita

Aargh... sulit banget mo kerja, kalau kepala terus-terusan dibisiki dengan pesimisme dan justifikasi alasan-alasan "kenapa saya akan gagal".

Rasa takut, yang secara natural membantu manusia untuk menjaga keselamatan diri, tak jarang tumbuh besar tak terkendali menjadi suatu de-motivasi yang menghantui seorang manusia kemanapun ia pergi. Dan banyak orang nggak sadar, kalau akal-pikirannya sebenarnya mudah tersusupi hackers dan crackers, seandainya ia tidak melindungi dirinya dengan semacam "firewall".

Jika di dunia IT, istilah-istilah tersebut mengacu pada serangan dan counter-serangan berbasis data, maka bentuk hacking dan cracking pada akal-pikiran mengacu pada penyusupan ide-ide yang berbahaya... baik dalam melemahkan kekuatan sistem akal-pikiran, maupun dalam mencemarinya dengan buah pemikiran jahat, sehingga si akal-pikiran tidak lagi digunakan untuk tujuan yang baik.

Pelemahan potensi akal-pikiran melalui penyusupan motivasi negatif, cenderung membuat si akal-pikiran jadi kaweur, khawatir berlebih, dan kehilangan kemampuan untuk fokus pada pencarian jalan keluar. Hal ini terjadi karena yang bisa ia kalkulasikan setelah tersusupi ini, adalah semata-mata seberapa besar kerugian yang akan ia raih ketika mengambil keputusan yang salah. Akibatnya, karena merasa terancam bahaya, akal-pikiran lantas memilih untuk mencari amannya saja; do nothing, evading, atau even quitting.

Saat-saat inilah, si akal-pikiran yang telah tercemar perlu diberikan antidot dan obat, supaya bisa kembali ke kinerja optimalnya. Bisa melalui internal correction (secara sadar membenahi ulang struktur data akal-pikiran), atau melalui bantuan eksternal; mencari hal-hal yang bisa dilakukan/dikonsumsi untuk menimbulkan kembali semangat dan motivasi hidup.

Saat-saat seperti inilah, materi-materi yang sifatnya motivasional sangat berguna. Untungnya ada internet, maka tinggal fire-up Google.com untuk lantas browsing ke situs-situs hasil pencarian dengan keyword semisal: Roy Sembel, Safir Senduk, Gede Prama, motivational article.

Salahsatunya, yang berhasil membangkitkan semangat saya:

Akal-pikiran itu powerful, but innocent. "Kita" sebagai penguasa si akal-pikiran harus pintar-pintar memilah makanan pemikiran untuk bahan konsumsinya, sekaligus menerapkan pemograman yang tepat untuk sistem operasinya. Karena jika dikondisikan untuk optimis, maka si akal-pikiran akan membantu kita untuk mencari solusi, sedangkan jika dikondisikan untuk pesimis, maka si akal-pikiran akan membantu kita untuk mencari pembenaran dan ide-ide destruktif. (bay)

Sunday, July 23, 2006

Membentuk Masa Depan

Tanpa tujuan yang pasti, hidup itu sekedar proses nyasar kesana-kemari; kadang untung, kadang buntung, terus-terusan ampe akhirnya berenti di suatu akhir. Suatu akhir yang bukannya gak mungkin, terasa asing dan nggak kita suka...

Untuk bisa merencanakan tujuan hidup yang baik dan benar, maka selain dari dorongan internal, faktor pengaruh lingkungan juga bisa dipertimbangkan; perkaya wawasan supaya memperbanyak pilihan. Dalam pelaksanaannya pasti akan ada deviasi, tapi ini nggak harus berarti kegagalan karena bisa juga berarti perkembangan. Begitulah proses dari suatu pertumbuhan; gak ada dua pohon dari satu spesies yang tumbuh dengan bentuk sama persis, tapi ini bukan masalah selama masing-masing berhasil tumbuh optimal dan menebar manfaat yang seharusnya dari pohon2 spesies tersebut.

Dan jika pohon jati bisa mencapai potensi maksimalnya sebagai bahan baku ideal untuk furniture dan konstruksi, karbon sebagai intan yang indah sekaligus materi terkeras di muka bumi, maka seperti apakah potensi maksimal manusia?

Banyak dari kita cenderung terlalu terpaku dengan image akan keterbatasan sehingga secara sukarela menghambat perkembangan diri kita sendiri. Padahal banyak keterbatasan adalah semu... image yang kita bentuk untuk membingkai diri kita sendiri. Padahal jalan keluar justru terdapat dalam optimisme dan positivisme; dalam perjalanan mencapai tujuan, bukan dalam proses pengumpulan alasan kenapa kita layak untuk gagal.

Iya betul, hidup kita sangat tergantung pada bagaimana kita memandang hidup ini... Kalau pandangan kita kerdil, maka si pikiran akan secara proaktif mencari bukti untuk mendukung kekerdilan ini. Sedangkan kalau pandangan kita optimis, maka si pikiran pun akan secara proaktif mencari bukti untuk mendukung keoptimisan ini. Pikiran hanyalah hamba yang penurut dari si pandangan, si pola pikir. Karena itu kalau mau berubah, maka ubahlah cara pandang dan pola pikir yang kita miliki, se-sederhana itu.

Memang untuk menjadi positif perlu latihan berat... apalagi kalau selama ini kitanya udah terlalu dalam tenggelam dalam jurang kenegatifan. Tapi semuanya juga emang harus dilakuin step by step, langkah kecil demi langkah kecil lainnya. Ntar juga pasti kaget ketika nemuin diri udah banyak berubah...

Embrace the changes, embraces the positivism... supaya ketemu bentuk yang maksimal dari potensi diri itu seperti apa. Inget, Alloh SWT nggak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka berusaha untuk mengubahnya. Dalam ayat ini bukan berarti Tuhan cuma bisa approving; tapi all the magic of changes hanya akan turun pada mereka yang memang berusaha untuk berubah.

Rasulullah SAW juga menyuruh kaum muslim untuk membuat hari ini lebih baik dari hari kemarin... Secara konstan berusaha mencapai perkembangan dan perbaikan, step by step. Kombinasikan dengan perihal penentuan tujuan hidup, maka ini berarti setiap hari yang kita jalani seharusnya didedikasikan untuk mencapai kemajuan terhadap apa yang kita cita-citakan untuk capai dimasa mendatang.

Nah diakhir tulisan ini marilah kita saling berpikir...

Seperti apakah bentuk akhir dari hidup yang kita idam-idamkan?

Because the only future worth living in, is the future you want to be in.(bay)