Showing posts with label bisnis. Show all posts
Showing posts with label bisnis. Show all posts

Wednesday, September 22, 2010

Ngapain punya nama domain sendiri?

Apa perlunya punya Nama Domain sendiri? Ada buanyaksss alasan kenapa anda sebaiknya memiliki nama domain sendiri, jika anda berencana untuk memiliki bisnis yang sukses di internet.

Kalau nggak berniat buat bisnis tapi mau menawarkan jasa dan skill? Perlu juga! Kalau merencanakan untuk jadi pakar di suatu bidang biar bisa dipanggil seminar disana-sini? Apalagi!

Kalau bener-bener nggak niat nawarin apa-apa cuma pengen eksis dan menunjukkan identitas diri? Ya sama!

Berikut ini beberapa alasan utamanya:

01. Identitas!

Nama domain tersendiri akan memberikan anda/bisnis anda identitas yang jelas di internet. Hal ini penting jika anda memiliki kebutuhan untuk "hadir" dan dipercaya di dunia internet. Tidak hanya untuk bisnis, tapi untuk kebutuhan personal sekalipun. Blog anda memiliki pengunjung fanatik? Berpotensi diliput media massa? Beri blog anda identitas yang lebih konsisten dengan memiliki nama domain yang tersendiri.

Anda seorang multitalenta yang membutuhkan sentral informasi yang menginformasikan semua ketrampilan yang anda miliki? Jasa yang anda tawarkan? Buku yang anda tulis? Anda exist di beragam jejaring network, dan butuh tempat untuk mengkonsolidasikan profil anda? Nama domain tersendiri bisa menjadi sentral tujuan bagi para pencari informasi tersebut.

Kepemilikan nama domain juga membantu memproteksi identitas anda di dunia maya; jika anda sudah memiliki "cincaulaurau.com", maka andalah "The Cincau Laurau" yang akan dunia internet kenal, bukan "cincauhijau.com" atau "therealcincau.com" sekalipun.

02. Kemudahan

Nama domain tersendiri membuat orang lebih mudah untuk mengingat dan mencari anda. Misalnya, "www.bajamus.com" akan lebih mudah diingat dibanding "http://www.tokoonline.com/merchant/bajamusdomain/", dan "www.jiwamuda.org" akan lebih mudah diingat dibanding "http://www.facebook.com/pages/FansTeleTubbies/93481746128".

03. Profesionalisme

Akankah anda merespon baik pada penawaran barang/jasa dari bisnis dengan alamat email "batikgayasekali@mailservergratis.com", ataukah lebih percaya pada bisnis dengan alamat email semisal "sales@batiketnik.com"?

Akankah anda menganggap serius pelamar kerja dengan alamat "tompel_item@techjunkies.com", ataukah pelamar kerja dengan alamat misalnya "budi@budiman.com"?

Pemilikan nama domain yang tersendiri akan membantu meningkatkan persepsi profesional dan keseriusan dalam mewakili diri anda, karena anda terkesan telah melakukan usaha lebih dalam menjaga citra anda -- Terlihat bagus saat di-print di kartu nama anda juga.

04. Kredibilitas

Nama domain yang tersendiri juga membantu meningkatkan persepsi umum terhadap kredibilitas perusahaan anda, sebagai perusahaan yang memang serius mempersiapkan bisnisnya; bukan sekedar usaha iseng yang dibangun kemaren sore (walaupun sebenarnya iya)

05. Asset

Nama domain yang unik, bisa menjadi asset bernilai tinggi bagi orang/bisnis yang tepat. Sudah banyak kasus jutawan mendadak gara-gara memiliki nama domain cantik yang kemudian dibeli dengan harga tinggi oleh perusahaan multi-nasional. Walaupun kisah seperti ini sudah semakin jarang, namun status nama domain yang tersendiri sebagai suatu asset tetap berlaku, walaupun berbeda dalam penerapan. Hal ini terkait dengan SEO (Search Engine Optimization)

Walaupun penjelasannya agak rumit, tapi secara singkatnya bisa dibilang bahwa semakin tua umur suatu nama domain, semakin tinggi nilainya dalam mempengaruhi search engine results.

Dan jika anda mengurusi dengan baik nama domain yang anda miliki, maka pada saat ia memiliki pagerank yang tinggi maka ia akan mendatangkan keuntungan melalui program afiliasi iklan semisal Adwords dari Google.

Nama domain yang anda sudah miliki, juga bisa menjadi milik anda selamanya, asal anda terus perpanjang registrasinya tentu. Namun ini berarti dalam hal kepemilikan nama domain, jika anda membayangkan suatu nama yang ideal untuk bisnis/organisasi/personal branding, tapi nama domainnya keduluan dibeli oleh orang lain, maka kemungkinan anda tidak akan pernah bisa membeli nama tersebut, selamanya. Begitu juga sebaliknya.

06. Silaturahmi

Nama domain yang pasti, bisa juga berguna untuk membantu mempererat hubungan keluarga atau pertemanan, dengan memiliki nama domain khas untuk anda pakai bersama-sama, kesannya kompak begitu! Misalnya: suami@bayuamus.com, isteri@bayuamus.com, cikal@bayuamus.com, serta bungsu@bayuamus.com.

Atau unyil@sdsukamaju.org, ucrit@sdsukamaju.org dan cuplis@sdsukamaju.org

07. Meningkatkan kemungkinan anda muncul di Google search

Berdasarkan algoritma pencarian yang dipakai, Google akan menilai tinggi kesesuaian nama domain dengan kata yang dicari. Ini artinya www.belisnackonline.com relatif akan lebih mungkin muncul jika seseorang melakukan search dengan kata kunci "beli snack online".

08. Sarana branding

Baik untuk bisnis maupun untuk Personal branding, nama domain yang khusus adalah sarana branding yang ampuh! Nama ini akan melekat dengan anda/bisnis anda dan, mendorong orang untuk menggunakannya secara berkala.

Semoga cukup jelas dan membantu. Kalau ada pertanyaan silakan jangan segan-segan dicurahkan.

FAQ (Frequently Asked Questions)

Apakah nama domain itu mahal?

Cuma dengan biaya sekali - dua kali makan di mall maka anda bisa mulai memiliki nama domain anda sendiri, selama satu tahun!

Bagaimana cara memilikinya?

Daftarkan nama domain yang anda miliki melalui situs-situs registrasi nama domain. Jika pada masa lampau anda harus memiliki kartu kredit untuk bertransaksi internasional dengan registrar di luar negeri, maka kini anda bisa melakukan transaksi serupa cukup dengan transfer antar bank saja di Indonesia.

Hati-hati dengan reputasi registrarnya, karena tak jarang ada registrar nakal yang mendaftarkan nama domain yang dibeli di situsnya dengan menggunakan nama si penjual! Waspadalah! Jangan tergoda sekedar harga murah beda cuma sekian rupiah, tapi keamanan tidak terjamin.

Rajin-rajin memantau internet atau forum semisal Kaskus untuk mencari tahu reputasi si registrar, hati-hati, salah langkah bisa berakibat fatal.

Lah kalau saya nggak punya website lantas gimana dong?

Keberadaan website yang sesuai akan membantu eksistensi anda di dunia internet. Namun kalau merasa belum punya budget untuk minta dibuatkan website secara profesional, maka anda bisa menggunakan fasilitas pembuatan website gratis di internet dan mengarahkan nama domain baru anda kesana.

Kalaupun belum berniat untuk membuat website sama sekali, minimal nama domain anda bisa digunakan untuk alamat email yang unik dan personal.

Kalau malah sudah punya situs gratisan, misalnya toko online di multiply.com, atau blog di blogger.com gimana?

Manfaat dari segi profesionalisme, identitas, branding, dll. silakan baca ulang di paparan di atas. Sedangkan kalau masalah teknisnya, maka nama domain yang anda baru miliki ini bisa menjadi entry point yang baru dari situs yang anda sudah miliki.

Misalnya anda telah memiliki account "http://muzade.multiply.com". Dengan memiliki nama domain "muzade.com", maka teman-teman maupun konsumen anda bisa memilih untuk mendatangi situs anda dari alamat yang lama, atau alamat baru yang lebih singkat; dua-duanya akan mengarah ke situs yang sama! (Kecuali kalau anda memang menginginkan nama domain yang baru mengarah ke situs berbeda tentunya)

Trus beli nama domain sendiri bakalan langsung dapet email yang sama?

Jawabannya tergantung; ada registrar yang sudah menawarkan fasilitas email secara gratis, ada juga yang tidak, silakan cek dengan teliti fasilitas apa saja yang akan anda dapatkan dengan pembelian nama domain tersebut.

Kalaupun ternyata tidak difasilitasi, ada bisa mendapatkan fasilitas email ini dari tempat lain, sebagian dengan sistim berbayar, beberapa gratis.

Aduh saya nggak ngerti proses teknisnya dan ntar gimana ngurus segala sesuatunya?

Ada banyak panduan yang bisa anda pelajari di internet mengenai pemilihan nama domain, popularitas TLD, pengaturan DNS, setting A dan CNAME, serta setting MX record untuk e-mail. Panduan-panduan ini akan membantu anda belajar mengenai lika-liku pemilikan dan pengurusan nama domain ini. Sudah tentu akan perlu waktu dan usaha, tapi tidak terlalu rumit juga koq.


Adakah cara mudah buat beli domain ini?


Eng ing eng! Pertanyaan yang cerdas sekali! Kalau anda percaya sama saya maka saya bisa bantu pengurusan pemilikan nama domain. Kebetulan baru launching bisnis baru di http://domain.bajamus.com (atau http://bajamus.com juga sama) yang memang bergerak di bidang pendaftaran nama domain ini.

Loh jualan nama domain juga sekarang kang?

Berawal dari sakit hati kehilangan beberapa nama domain gara-gara beragam kendala (banyaknya kebodohan), dan pusing ngotak-ngatik setting nama domain biar sesuai kebutuhan, serta kebutuhan nama domain untuk keperlua pribadi yang makin meningkat, maka akhirnya kepikiranlah buat ngurus segala sesuatunya sendiri saja! Dan walhasil, dari belajar sendiri soal setting DNS dan lain-lain, tanya sana-sini, banyak berkeliling forum-forum internet untuk membuka wawasan, ditambah dengan pengalaman jungkir-balik modifikasi setting sendiri, maka sekarang saya sudah pede untuk berbagi pengalaman dan menawarkan bantuan bagi rekan-rekan yang butuh jasa pendaftaran nama domain.

Untuk lebih jelasnya silakan mampir kemari:
Bajamus Domain - http://domain.bajamus.com
Kalau anda mau melakukan sesuatu yang penting, dan sekiranya ada masalah atau butuh bantuan, anda akan merasa lebih tenang kalau orangnya anda percayai bukan? (ge-er mode: ON)

Sudah dapet free email? Fasilitasnya apa aja kang?

Beli nama domain di Bajamus sudah termasuk gratis email account! Kapasitasnya lumayan, 2 GB, ini bisa dipakai buat mailbox utama, atau sekedar di-forward ke account email anda yang kapasitasnya lebih besar; dua-duanya bisa.

Trus ada juga Unlimited Mail Forwards, DNS Management, Privacy Protect, Domain Forwarding, Domain Theft Protection, Bulk Tools, dan tentunya Easy to use Control Panel.

Deskripsi selengkapnya silakan baca-baca disini ya: http://domain.bajamus.com/content.php?action=free_services

Waduh tapi saya udah daftar nama domain di tempat lain kang!

Kalau servicenya memuaskan, maka jangan ditinggal! Tapi kalau memilih untuk ikutan bergabung di Bajamus Domain, siap-siap saja pas mendekati tanggal domain expiration buat transfer domain anda tersebut ke Bajamus Domain. Proses sudah pasti akan saya bantu.

Cukup jelaskah?

Btw, kalau sudah dibaca dari atas sampai bawah dan ternyata anda masih punya pertanyaan, silakan reply dimari, nggak usah segan.

Epilog

Statistik pengguna internet 2010

Dan sebagai penutup, sedikit fakta untuk membuat kepala anda sedikit pusing... 

Di era internet ini sebagian besar masyarakat sudah terhubung dengan dunia maya; baik itu dari henpun QWERTY tigaratus ribuan yang terhubung ke Facebook, koneksi internet via modem dari rumah, online disela kerja kantoran, hingga ke koneksi broadband yang bisa dipakai mendownload movie hanya dalam hitungan menit. Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2010 ini diperkirakan ada 825 juta pengguna internet di Asia saja, dan total ada 1,966,514,816 pengguna internet di dunia. Nyaris 2 milyar penduduk bumi, atau 40% dari penduduk dunia telah terhubung dengan internet!

Di Indonesia sendiri pada tahun 2010 ini diperkirakan ada sekitar 30,000,000 pengguna internet, dengan tingkat pertumbuhan mencapai 1,400% dalam 10 tahun terakhir!* Walaupun tingkat penetrasi internet kita baru sekitar 12,3% saja, bukan termasuk yang tercanggih di dunia, namun dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 jutaan, dan terus bertambah, internet merupakan suatu lahan baru yang berpotensi sangat tinggi.

Maka baik itu potensi bisnis, potensi pertemanan, atau potensi massal lainnya, sebenarnya bisa anda garap dari sekarang. Dimulai dengan memiliki nama domain tersendiri. (byms)

Wednesday, June 30, 2010

Hidup: Kesiapan Nyemplung

Dalam menjalankan suatu hal yang baru, salahsatu hambatan klasik dari mereka yang hendak bertindak adalah "kesiapan". Entah itu kesiapan modal, ilmu, atau aneka "harus punya" lainnya sebelum berani untuk bertindak, memulai usaha, kawin, atau hal-hal lainnya yang sebenarnya akan mengubah nasib mereka kearah yang lebih baik.

Padahal tidak ada orang yang benar-benar siap untuk apapun yang baru bagi dirinya; maka dari itu cara paling baik untuk menjadi siap, adalah dengan nyemplung; dan perhatikan diri kita akan berkembang dari mengatasi masalah-masalah yang kemudian timbul.

Nabi saja kadang-kadang mentok, padahal counselornya adalah Tuhan; ini terjadi karena pada dasarnya hanya ada satu jalan buat manusia untuk menjadi siap; melalui proses. Persiapan dan pembelajaran adalah bagian dari proses, tapi "the real learning" baru akan dimulai ketika kita berani melakukan.

Ini yang kadang membuat orang tanpa pendidikan tinggi bisa lebih sukses daripada mereka yang gelarnya berentet; saat yang tanpa pendidikan berani untuk mulai dan belajar sambil jalan, sementara yang kebanyakan gelar terlalu banyak berhitung dan berencana tanpa berani mulai melakukan. (bay)

Terilhami dari salahsatu episode MTGW di Metro TV
Images dari: http://www.makan.com/

Wednesday, April 28, 2010

Manajemen Cita-Cita dan Waktu

Satu hal yang sering kita kurang sadari adalah kenyataan, bahwa walaupun imajinasi kita tanpa batas, namun kita memiliki waktu yang sangat terbatas, dan karenanya maka waktu yang sangat terbatas ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Salahsatu cara untuk mencapai hal ini, adalah dengan manajemen cita-cita dan manajemen waktu.

Manajemen cita-cita maksudnya adalah pengaturan terhadap apa yang kita ingin raih dalam hidup, sehingga terdapat suatu pembatasan yang jelas apa yang ingin kita kita raih, dan apa yang tidak ingin kita raih (scoping).

Sedangkan manajemen waktu maksudnya adalah pengaturan terhadap sumber daya waktu yang kita miliki, agar terjadi pemusatan pada hal tertentu, untuk mencapai hasil yang diharapkan (scheduling).

Sebagaimana surya kanta membantu memusatkan sinar matahari yang hangat, menjadi kekuatan yang mampu menghanguskan; seperti itu pulalah yang akan terjadi kala kita memberikan fokus yang jelas terhadap semua potensi yang kita miliki.

Ambil contonya sebagian dari kita yang sedari dini sudah memiliki fokus; les piano sedari kecil dan terus berlanjut hingga dewasa, akhirnya menjadi komposer dan pencipta lagu terkenal; les Tae Kwon Do sedari SD, dan pelatihan tidak terhenti hingga ketika dewasa menjadi juara di PON, atau bahkan di kejuaraan dunia.

Terlepas dari apakah kita termasuk kalangan tersebut, normal atau tidakkah perkembangan hidup kita, satu hal yang pasti adalah: keberhasilan tersebut bisa diraih karena adanya fokus. Fokus yang menyebabkan, terjadinya pemusatan energi dan sumber daya pada suatu hal, yang jika hal ini kemudian dilakukan dalam kurun waktu yang cukup, maka akan membuahkan hasil yang luar biasa. Ini adalah suatu rumusan baku hidup, dan bisa dibuktikan oleh siapapun, tanpa memandang kasta, latar belakang, atau status sosial.

Pencarian Fokus

Lantas bagaimana halnya dengan anak-anak, yang kelihatannya banyak tertarik pada aneka ragam hal, dengan intensitas yang naik turun? Mencoba ini-itu, ikut les sepatu roda cuma tahan tiga bulan, trus ikut les gitar cuma tahan enam bulan? Awalnya bercita-cita jadi Astronot tapi semasa sekolah malah ngambil kelas IPS? Apakah itu pemborosan waktu? Mismanajemen cita-cita? Saya rasa bukan, karena pada tahap itu yang kita lakukan adalah eksplorasi: pengembaraan, pembukaan wawasan, pembangunan persepsi. Yang perlu disadari adalah, tahapan eksplorasi ini harus memiliki batas yang jelas, dan dilakukan dengan se-benar mungkin.

Disinilah perlunya peranan aktif para sesepuh, pendidik, dan sistem pendidikan, untuk membantu seorang anak menentukan fokusnya, dalam rentang waktu yang cukup.

Pilihan Fokus

Pencarian dan pemilihan fokus sendiri, akan sangat terpengaruh oleh karakter jaman dimana seseorang hidup, dalam artian, kita hanya akan tertarik pada apa yang bisa kita amati, apa yang ada dan terjadi di sekeliling kita. Berapa banyak anak ingin menjadi Astronot kala mengetahui Neill Amstrong sudah sampai ke Bulan? Berapa banyak anak ingin menjadi Superman dan loncat dari atap rumah, kala film Superman ditayangkan di bioskop? Berapa banyak anak ingin menjadi model dan artis, kala mulai mengetahui gaya hidup para model yang jet-set itu? Berapa anak ingin menjadi Polisi, kala menyaksikan sendiri kekuatan tersembunyi yang ditawarkan dari profesi ini?

Disinilah perlunya peranan aktif para sesepuh, pendidik, dan sistem pendidikan, untuk membantu seorang anak mengetahui pilihan-pilihan yang ia miliki, dengan potensi dan tantangannya masing-masing, sehingga ia dapat menentukan fokusnya sebaik mungkin, secara sadar.

Gimana kalau suatu saat ketertarikan saya berubah? Wajar saja. That's live.

Raihlah apa yang anda anggap penting dalam hidup, lakukan perubahan yang anda rasa perlu, as long as that's your conscious decision.

Tapi jangan karena anda merasa suatu saat mungkin akan berubah pikiran, maka dari sekarang pun anda tidak menentukan fokus. That's fool.  (bay)

Thursday, April 22, 2010

Standar kesuksesan hidup berdasar umur

Sebenernya ini kejadian lucu-lucu enggak, secara ada lucunya emang, tapi dalam konteks tertentu malah nggak lucu...

Begini ceritanya...

Antara Penampilan dan Usia

Unyil barangkali adalah tokoh paling awet muda di Indonesia, terbukti bahwa di usianya yang sudah menjelang 40 tahun, penampilannya tetap se-segar masa ia masih tayang di TVRI, 30an tahun lalu.

Walaupun tidak se-ekstrim unyil, kadang ada saja kejadian yang membuat saya khawatir, apakah saat itu secara tidak sengaja saya masih mengenakan tas selempang, kaos oblong berlapis kemeja flanel, dan beralas kaki sendal jepit?

Misalnya beberapa hari lalu, di kelas English Course menjelang istirahat usai, saya kebagian berada dalam satu ruangan dengan Steven, sang pengajar, dan jadilah kamipun mengobrol. Dari topik yang umum, Steven lalu beranjak ke menanyakan kota asal plus pendidikan saya, dan disinilah kelucuan itu terjadi.

Mendengar kalau saya mulai kuliah tahun 1992 dan lulus tahun 1998, serta saya sudah berkarir lebih dari sepuluh tahun, dan sudah punya anak satu, Steven terlihat terkejut sekali. Sayapun tertawa sambil dalam hati saya berujar "Ooh, here we go again". Memvalidasi keterkejutannya, Steven berujar kalau penampilan saya sama sekali tidak mencerminkan umur yang sudah 35an tahun, dan sudah punya anak satu. Dalam konteks memuji, Steven menambahkan, soalnya dibandingkan dengan peserta sekelas lainnya, sayalah yang justru kelihatannya tidak seperti seorang bapak.

"Oh? And so, how should a father looks like then?" tanya saya penasaran
"Stressful, they have to look stressful!" balas Steven

Oh ya? Hahaha! Ada-ada saja Steven ini. Berhubung yang bersangkutan memang belum menikah, dan berusia jauh dibawah saya, maka pemahamannya ini ya sah-sah sajalah, walaupun sebenarnya stress atau tidak itu lebih tergantung pilihan hidup, bukan karena pertambahan usia.

Sedangkan "Ooh, here we go again" dari saya, muncul karena serangkaian peristiwa yang beberapa kali teralami terkait hal ini. Walau sudah banyak uban, waktu masih kost di Jl. Tambak di sekitar tahun ke-5 saya kerja di Jakarta, masih ada tukang warung yang nanya sama saya pas beli makan malem; "Pulang kuliah ya mas?", disambut dengan senyuman sumringah di bibir saya karena merasa diri awet muda.

Kali berikutnya, atau tepatnya sebelumnya, terjadi sewaktu mengantarkan ibunda berangkat bersama rekan-rekan alumnus sekolahnya untuk acara reunian. Ada seorang rekan ibunda yang kemudian bertanya; "Kuliah di mana sekarang?", padahal saa itu saya sudah tiga tahunan bekerja di Jakarta.

Ketika hal ini terjadi lagi di kantor sekarang, yang ada sebenarnya bukan perasaan sumringah lagi namun sudah lebih banyak bercampur dengan perasaan khawatirnya.

Memang beralasan juga sih, secara dari penampilan dan gaya berpakaian, saya terlihat rada beda dengan rekan-rekan kantor lainnya, termasuk yang satu angkatan. Soalnya banyak "bapak-bapak" disini yang setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata hanya terpisah satu tahun atau malah sebaya dalam usia. Senior Manager sayapun ternyata berasal dari satu almamater dengan saya, hanya saja terpaut dua angkatan, lebih muda!

Bakat bawaan orok kah?

Antara Pendidikan Seni Rupa Dan Musik Jazz

Kalau saya perhatikan lebih mendalam, ternyata kasus terlihat lebih tua ini terasa benar kalau sedang bergabung dengan rekan-rekan alumnus SMP, atau SMA, tapi tidak terhadap rekan-rekan satu kuliahan. Mungkin itu sebabnya? Basis pendidikan Seni Rupa?

Satu hal yang seringkali teramati dari para rekan-rekan yang sekarang terlihat menua itu adalah soal keseriusan, keseriusan dalam sikap, termasuk menurun drastisnya semangat bermain atau bercanda dari mereka. Mirip seperti temen-temen masa SMP / SMA dulu yang sedari dulu itu sudah suka musik Jazz! Apalagi kalau sampai jadi pemain instrumen dan tidak sekedar penggemar, maka mereka cenderung terlihat serius sekali, susah bercanda, dingin, dan membatasi diri. Mirip juga seperti sikap isteri saat masa-masa awal dulu bertemu, isteri yang kemudian ketahuan kalau dia juga adalah penggemar musik Jazz!

Jadi itukah yang menyebabkan seseorang terlihat muda? Semangat bermain dan jiwa Seni Rupa? Sedangkan yang menyebabkan seseorang terlihat tua adalah kegemarannya akan musik Jazz?

Lepas dari analisis sangat subyektif tersebut, karena saya termasuk salahsatu ayah yang di usia 30an ini masih gemar head bang kalau dengerin Metallica, tapi ngorok kalau diajak nonton konser Jazz, saya melihat ada satu implikasi kurang menyenangkan dari kasus ini:

Semua komentar positif yang saya terima di tempat kerja, atas hasil kerja yang memuaskan, apakah itu muncul dengan dasar anggapan bahwa saya masih remaja usia 20an? Kalau iya ya bahaya..! Soalnya jika demikian, maka standar mutu buat diri saya selama ini masih terlalu rendah. Saat semestinya saya dinilai berdasarkan standar yang sama dengan rekan yang sudah menempati posisi Senior Manager atau Project Manager (dan saya di Senior Staff), kalau saya masih dinilai berdasarkan standar lima tahun lebih muda, alias standar diri saya lima tahun lalu, maka ada jurang sangat besar atas apa yang sudah saya capai, dengan apa yang semestinya saya sudah capai. Dan ini akan berakibat buruk pada kualitas hidup yang bisa saya raih.

Karena regardless of my perceived age, umur nggak bisa bohong, dampaknya ada, terutama terhadap batasan dari apa yang bisa dilakukan, dan apa yang tidak. Batasan penerimaan kerja untuk seorang Junior Manager di suatu perusahaan misalnya, adalah sekitar 35 tahun. Kalau saat usia sebegitu prestasi saya belum mendukung, karena selama ini selalu dianggap anak muda, maka niscaya kesempatan untuk meraih posisi tersebut akan tertutup.

Dalam kondisi seperti ini, maka pilihannya akan jadi sangat berkurang. Kompensasi yang anda dapatkan juga biasanya dibawah rata-rata. Ini karena secara komparatif terhadap rekan sebaya, performance anda terhitung ada dibawah rata-rata. Alamat karir bisa mandek.

Standarisasi Baku Prestasi Terhadap Usia

Kalau di perusahaan sekarang ini saya banyak menemukan standar "BOK" ini dan itu (Body of Knowledge), sayangnya di dunia nyata, nggak ada standarisasi baku atas apa pengharapan dunia pada kita sebenarnya. Bisa jadi kita merasa puas bisa bertahan di posisi sekarang, padahal banyak kesempatan lebih tinggi terlewatkan gara-gara kita / masyarakat salah menerapkan standar kualitas pada diri kita. Waktu berlalu, kesempatan lewat tanpa sempat terdeteksi sekalipun bahwa peluang itu pernah ada.

Bisa jadi kita bisa merasa puas bersaing dengan rekan sebaya dalam memperoleh standar hidup dan karir yang dianggap maju untuk skala nasional. Lah skala regional gimana? Internasional? Suka atau tidak, Indonesia masih menyandang status "Negara Berkembang", di usianya yang sudah 65 tahun merdeka ini. Sementara Singapura dan Malaysia, sudah berhasil mencapai prestasi yang jauh lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat. Begitu juga dalam waktu yang relatif lebih singkat, Jepang bangkit dari keterpurukan dan menjadi salahsatu raksasa ekonomi dunia, dan kiblat perkembangan teknologi modern, terutama di bidang robotik dan Artificial Intelligence.

Saat kita masih malas-malasan untuk belajar Bahasa Inggris, negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura sudah meraup banyak manfaat di dunia internasional dari kemampuan masyarakatnya dalam berbahasa Inggris. Atau India sekalipun, yang katanya memiliki budaya dan tingkat ekonomi mirip dengan Indonesia, tapi banyak warganya yang bersekolah di Inggris, menjadi pengusaha sukses di luar negeri, atau menjadi ilmuwan pakar di berbagai Universitas Internasional.

Saat kita masih menggunakan standar bapak kita dulu dalam hal kemakmuran, tuntutan hidup sudah berubah meningkat 400%. Saat gw merasa puas pertama kali menduduki posisi manager beberapa tahun lalu, gw perhatikan, lah... manajer lainnya ternyata rata-rata usianya lima tahunan lebih muda dari gw! Direktur Utamanya malah dua tahun lebih muda dari gw! Saat pertama kerja di Wizoffice dulu, para boss nya berusia antara satu tahun diatas saya, hingga empat tahun dibawah saya. Kala saya masih ribet mengurusi tugas yang cuma tiga-empat desain seminggu, mereka sudah bertanggung jawab membesarkan bisnis sekaligus menafkahi orang lain! Dan kelihatannya standar mereka masih terus meningkat, secara mereka kini menjadi Direktur-direktur di perusahaan besar nasional, while I'm still here...

Hal ini saja sudah menunjukkan betapa berbedanya standar yang saya pakai dengan standar yang mereka pakai.

Memang banyak faktor penentu, seperti misalnya pendidikan luar negeri, yang nota bene berarti latar belakang keluarganya relatif sangat makmur; tapi semangat perjuangan hidup tidaklah bisa dibungkus berdasarkan dari mana kita berasal, siapa kita tadinya, melainkan dengan kemana arah tujuan kita, dan ingin menjadi apa kita kelak.

Lantas gimana caranya membuat diri bisa bersaing dengan para mereka yang sudah curi-start lebih dulu beberapa tahun, atau malah mungkin beberapa generasi sebelum kita hidup?

Caranya adalah dengan hidup dalam standar tuntutan dan kualitas yang dipakai oleh orang-orang yang berhasil!

Gampang-gampang susah, karena nggak semua orang berhasil rela bagi-bagi standarisasi internal diri mereka sendiri. Atau simply karena nggak pernah ada yang minta? Coba deh buat yang merasa sudah berhasil, bagi-bagi ilmunya sedikit disini? Share apa saja kualitas yang menurut anda membuat anda bisa mencapai lebih dari rata-rata orang?

Standarisasi Kinerja dalam Perusahaan

Kembali ke soal "BOK", untungnya, di perusahaan sekarang untuk penilaian kenaikan tingkatnya ada sistem bernama Competency Review System alias CRS, dimana masing-masingnya memuat serangkaian Body of Knowledge yang harus dikuasai, berikut Positive - Negative Indicator nya alias PNI. Hal ini cukup memudahkan dalam mencari tahu standar apa yang diharapkan oleh perusahaan. Tidak berdasar umur memang, tapi mau tidak mau terkait erat;

Gunakan standar mereka yang saya tahu usianya lebih muda, tapi kedudukannya lebih tinggi dari saya.


Mampukah saya mengubah diri sehingga cocok untuk berprestasi berdasarkan standarisasi tersebut? Harus, kalau memang ingin maju.

Manfaat Sesungguhnya Menempati Posisi Eksekutif

Menjadi "Manager" atau "Direktur", ataupun titel eksekutif lainnya, bukanlah perjuangan sekedar mengejar title; karena dalam praktik yang sehat, posisi tersebut hanya bisa dicapai oleh mereka yang memang memiliki kemampuan managerial dan kepemimpinan untuk menjalankan posisinya dan segala tanggung-jawabnya.

Yang saya "buru" dan kejar dari posisi sedemikian, justru adalah hal terakhir tersebut; kesempatan mempraktikkan dan melatih skill managerial. Karena jika seseorang memiliki kemampuan managerial yang baik dan terlatih, kepemimpinan yang kuat, setara yang dibutuhkan oleh posisi-posisi yang penting tersebut, maka terlepas dari bagus atau tidaknya kompensasi perusahaan yang didapat, beratnya tugas yang harus dijalankan, ia sudah memiliki suatu modal yang kuat untuk making things happen; baik di dalam karir maupun di luar itu. Untuk me-manage diri sendiri, me-manage keluarga, anak, pergaulan, lingkungan, organisasi sosial, untuk bisa memiliki kinerja yang lebih bagus, dan pada akhirnya, hidup yang berkualitas tinggi.

Ujung-ujungnya? Untuk kemaslahatan (kebaikan) diri kita sendiri dan orang lain di sekitar kita.

Karena berbeda dengan pengetahuan (knowledge), managerial dan kepemimpinan adalah keterampilan (skill), yang hanya bisa dikuasai melalu praktik dan latihan. Dan sarana latihan apa yang lebih baik selain menjadikannya tuntutan profesi? Secara rata-rata kita tentunya minimal menghabiskan waktu hingga 40 jam seminggu di tempat kerja mempraktikkan skill ini? Bahkan seringkali lebih?

Dibayar pula? :)

Jadi ngapain harus repot-repot menempati posisi penting yang harapan dan tanggung-jawabnya tinggi? Untuk melatih diri kita sendiri. Karena tuntutan akan memaksa kita untuk mengembangkan kemampuan di bidang tersebut. Tantang diri kita sendiri, karena hanya dengan cara itulah kita akan tumbuh.

Jadi bagi mereka yang sering berhadapan dengan peluang untuk beranjak maju, naik ke posisi lebih penting tapi lantas mundur karena khawatir, maka raihlah kesempatan; karena dengan tuntutan yang lebih tinggi tersebut niscaya anda kelak akan bisa menjadi agen perubahan positif terhadap diri anda sendiri, terhadap hal-hal yang anda anggap penting, dan terhadap orang-orang yang anda sayangi.

Mengutip ucapan Barrack Obama saat kampanye kepresidenannya dulu:

"We are the changes that we've been waiting for"

(bay)

Cara meraih sesuatu yang lebih baik

Cara yang terbaik untuk meningkatkan apresiasi dunia terhadap diri kita, adalah dengan meningkatkan nilai manfaat diri kita bagi orang lain.

Pemilik bisnis yang sukses, biasanya memiliki kemampuan untuk melayani para pelanggannya dengan baik dan memuaskan, baik dalam bentuk produk maupun jasa. Aktor yang sukses, biasanya memiliki kemampuan untuk membuat penonton film percaya pada karakter dari tokoh yang ia perankan, sehingga pesan dan kesan film tersampaikan dengan sempurna, sehingga memancing minat banyak penonton untuk menonton film tersebut. Seorang super-manager memiliki kemampuan untuk membesarkan bisnis si pemilik perusahaan, sehingga pemilik tak segan-segan memberikan kompensasi yang luar biasa, soalnya kontribusi si super-manager berpengaruh langsung kepada profit yang didapatkan perusahaan, yang pada ujungnya akan menguntungkan si pemilik perusahaan.

Akan halnya pada aliansi, seorang kepala negara akan dianggap sekutu oleh kepala negara lainnya kalau ia bisa memberikan kontribusi positif bagi negara yang dipimpinnya; baik itu kerjasama ekonomi, pertahanan, atau di bidang lainnya, suka rela atau tidak ada pilihan. Bersamaan dengan aliansi maka akan datang pula penghargaan dan kompensasi yang menguntungkan.

Jadi sebenarnya salahsatu modal dasar untuk keberhasilan hidup ini sangat tergantung kepada seberapa besar kualitas manfaat dan pelayanan yang bisa kita berikan kepada orang lain. Mirip seperti hadist Rasulullah SAW:
“Khairun naasi anfa’uhum linnaas.”
Yang terjemahan bebasnya:
"Sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain".
 (bay)