Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Friday, December 28, 2012

Resolusi awal tahun 2013 berbasis nilai manfaat

Dalam Islam, nilai seorang manusia diukur berdasarkan dua dimensi: vertikal dan horizontal. Nah jika dimensi vertikal ini karena menyangkut ibadah maka sudah diatur secara pasti dan yang berhak menilainya hanyalah Allah swt., maka dalam dimensi horizontal tolok ukurnya cukup sederhana: nilai manfaat. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW:
خير الناس أنفعهم للناس 
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain" (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah) 
Dengan demikian, terkait akan segera berakhirnya tahun 2012 ini, dimana banyak orang mulai memikirkan resolusi/janji yang akan mereka buat untuk tahun 2013, satu pertanyaan yang saya rasa laik kita ajukan kepada diri sendiri adalah:
"Sudah seberapa bermanfaatkah saya bagi manusia lainnya?" Baik melalui tindakan, tulisan, dan apapun itu yang bisa kita pengaruhi?
Mari kita sama-sama berkontemplasi, menelusuri balik perjalanan hidup kita selama satu tahun ini dan melihat manfaat-manfaat apa sajakah yang telah bisa kita berikan terhadap orang lain? Mana sajakah diantara manfaat-manfaat itu yang anda rasa perlu dipertahankan di tahun mendatang? Dan manfaat-manfaat apa sajakah yang anda ingin tambahkan di tahun mendatang?

Praktik inipun sebaiknya anda terapkan secara meluas, jangan menyempit hanya kepada orang-orang tertentu saja, atau dalam bidang tertentu saja, tapi terapkan juga ke beragam konteks di luar hubungan sosial. Dalam bidang pekerjaan misalnya: nilai manfaat apa sajakah yang sudah anda berhasil berikan kepada bisnis dan perusahaan anda di tahun ini? Manakah yang akan anda pertahankan, dan apa sajakah nilai manfaat lebih yang ingin anda berikan pagi para pelanggan, atasan, rekan, dan tempat kerja anda?

Jangan lupa, dalam dunia karir pun kualitas dari reward atau kompensasi umumnya mengikuti kualitas dari layanan dan manfaat yang anda berikan; dalam artian jika kualitas layanan anda luar biasa baik, maka kalaupun tempat kerja dan bisnis anda sekarang tidak bisa memberikan kompensasi yang anda anggap laik, maka perusahaan atau bisnis lain akan bisa. Allah Maha Baik, jadi jika anda dianggap sudah layak untuk naik pangkat karena nilai manfaat yang anda berikan semakin besar, insyaallah privileges atau hak-hak anda pun akan otomatis meningkat; baik melalui perusahaan yang sama, atau yang lain. Ingat yang memberi nafah dan rejeki itu sebenarnya Allah, walaupun saat ini ia mengalir melalui boss anda sebagai keran nya.

Jadi jangan terpaku pada titel, jabatan, atau job desc, tapi pada apa yang bisa anda sumbangkan untuk kemaslahatan orang-orang yang anda layani di dunia karir atau tempat anda bekerja.

Jadi apa sajakah nilai manfaat yang anda canangkan untuk tahun 2013? Selamat merancang! (byms)

Image dari: http://www.futuresobright.com/

Wednesday, October 10, 2012

Menjawab mengapa daging Babi haram menurut Islam?

Dari pencarian data untuk salahsatu tulisan yang sedang disusun, alhamdulillah mengarahkan kepada jawaban cukup memuaskan bagi salahsatu pertanyaan abadi dalam benak pikiranku:
"Mengapa daging babi itu diharamkan?"
Bukannya iseng atau kurang kerjaan, tapi pertanyaan itu cukup valid jika dikaitkan dengan adanya sebab atau alasan untuk segala sesuatu, atau kala pertanyaan ini datang dari rekan-rekan yang berbeda keyakinan. 

Dari hasil sekian banyak perbincangan dengan rekan, dan artikel yang dibaca, sebenarnya banyak terjadi pro-kontra terhadap perlu atau tidaknya terdapat alasan itu sendiri, atau perlu atau tidaknya dicari penyebab yang masuk akal bagi manusia... Karena kalau beriman, berarti percaya terhadap sesuatu yang mungkin belum bisa kita jelaskan oleh akal pikiran kita saat ini, titik.

Cuman setelah baca artikel menarik dari Quraish Shihab di link ini, sebenarnya jawabannya sederhana sekali:
"Karena daging babi itu termasuk rijs (kotor)", mengacu pada Al-An'am (6): 145. Ayat yang sama, memasukkan pula "darah yang mengalir", serta "bangkai" dalam golongan ini.
Kalau kesannya sekarang masalahnya ialah pada pendefinisian kata "kotor" itu, dan berarti cuma memindahkan masalah, atau kala kita lantas bertanya lebih lanjut mengenai maksud sebenarnya dari "rijs" atau kotor dalam hal ini, maka Quraish Shihab dalam bukunya "Wawasan Al-Qur'an, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat", memberikan jawaban sebagai berikut:
"Memang kita boleh saja bertanya, dan atau mencari jawaban tentang mengapa Allah Swt. mengharamkan makanan tertentu. Boleh jadi kita puas atau tidak puas dengan jawaban yang diberikan, tetapi adalah amat bijaksana jika jawaban yang ditemukan itu --walau sangat memuaskan-- tidak dijadikan sebagai satu-satunya jawaban."
Hal ini berarti, terlepas dari kemampuan kita menjelaskan maksud kata "kotor", atau dengan ditemukannya karakter-karakter berbahaya dari daging babi, hal tersebut sebenarnya tidaklah merupakan jawaban pengganti kata "kotor" tadi, namun sekedar menambahkan bukti medis atau bukti dari sisi ilmu pengetahuan. Semacam keterangan tambahan tapi bukan jawaban!

Akan halnya dengan kenyataan bahwa ilmu Allah itu Maha Luas, sedangkan ilmu manusia itu sangat terbatas, maka peringatan dan larangan semisal halal-haram tersebut dapat diartikan sebagai suatu hal yang baik, hanya saja belum bisa manusia mengerti seutuhnya karena keterbatasan kemampuan pikiran itu tadi (mungkin suatu saat terjawab, mungkin tidak, wallahualam). Dan untuk menggambarkan pemikiran ini, ada ilustrasi yang cukup mengena walau mungkin sudah kurang relevan terhadap kondisi dunia saat ini:
"Imam Al-Ghazali memberikan ilustrasi menyangkut 'illat (katakanlah "sebab" atau "hikmah") dari larangan-larangan Ilahi. "Seorang ayah memiliki anak yang tinggal bersama di satu rumah. Sebelum kematian menjemputnya, sang ayah mewasiatkan kepada anaknya: 'Jika engkau ingin memugar rumah ini silakan, tetapi tumbuhan yang terdapat di serambi rumah jangan ditebang.'

Beberapa tahun kemudian sang ayah meninggal, dan anak pun memperoleh rezeki yang memadai. Rumah dipugarnya dan ketika sampai di tumbuhan terlarang, ia berpikir, 'Apakah gerangan sebabnya ayah melarang menebangnya?' Pikirannya kemudian sampai kepada kesimpulan bahwa aroma pohon itu harum (makanya jangan ditebang, pen.). Dan di sisi lain, ia mengetahui bahwa telah ditemukan tumbuhan lain yang memiliki aroma lebih harum. Maka ia pun memutuskan menebang tumbuhan itu dan menggantikannya dengan tumbuhan yang lebih sedap. Tetapi apa yang terjadi? Tidak lama kemudian muncul seekor ular, yang hampir saja menerkamnya, dan ketika itu ia sadar bahwa rupanya aroma tumbuhan itu, merupakan penangkal kehadiran ular. Ia hanya mengetahui sebagian dari 'illat larangan ayahnya' bukan semuanya, bahkan bukan yang terpenting darinya." Demikian lebih kurang ilustrasi Imam Al-Ghazali."
Jadi segala hasil pemikiran manusia akan hal yang diharamkan ini, mungkin saja adalah kebenaran, namun tak lebih hanyalah sebagian dari keseluruhan kebenaran yang dimaksud.

Beberapa contoh aplikasinya

Ini sekedar percakapan imajiner, tapi mewakili pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di dunia nyata:
Q: "Jadi kenapa daging babi itu diharamkan?"
A: "Karena menurut Tuhan kami, daging babi itu kotor."
Q: "Kotor seperti apa yang dimaksud?
A: "Tidak dijelaskan secara terperinci, namun ada beberapa temuan dari ilmu kesehatan dan sains yang mungkin bisa membantu memberikan anda gambaran."
Atau kalau mau lebih personal dan belief-based, termasuk kalau pertanyaannya ditambah dengan:
Q: "Koq anda mau percaya walaupun alasannya tidak dijelaskan secara logis"
Maka jawabannya bisa jadi:
A: "Tidak dijelaskan secara terperinci dan mungkin akan selalu sulit untuk diterangkan secara
logis, namun karena datangnya dari Tuhan yang Maha Tahu, maka saya percaya"
Atau kalau mau dikaitkan dengan manfaat:
A: "Tidak dijelaskan lebih lanjut. Namun karena Tuhan itu Maha Tahu dan kita ini hanya sekedar belum mampu untuk mengerti, jadi walau sulit dicerna akal, saya percaya larangan-larangan itu semuanya tercipta untuk kebaikan kita, manusia."
Wassalam. (byms)

Catatan: Tulisan ini aslinya dimuat di laman Multiply ini: http://kangbayu.multiply.com/journal/item/222

Tuesday, February 28, 2012

He who knows and knows he knows...

Beberapa waktu lalu di facebook status saya nulis sesuatu yang sebenarnya sudah sering dikutip, tapi seringkali bikin pusing bacanya: 
He who knows and knows he knows, he is wise, follow him.
He who knows and knows not he knows, he is asleep, wake him.
He who knows not and knows he knows not, he is simple, teach him.
He who knows not and knows not he knows not, he is fool, shun him.
Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata ungkapan ini banyak mengacu pada Arabian proverbs (peribahasa Arab) yang dipopulerkan oleh Lady Burton pada 1890:
There are four sorts of men:
He who knows not and knows not he knows not : he is a fool - shun him;
He who knows not and knows he knows not : he is simple - teach him;
He who knows and knows not he knows : he is asleep - wake him;
He who knows and knows he knows : he is wise - follow him.

-- An Arabian Proverb (Lady Burton, 1890) [Lady Isabel Arundell Burton, The Life of Captain Sir Richard F. Burton]
Sedangkan secara nggak sengaja, pagi ini malah nemu referensi lain yang bersumber dari literatur Islami:
الرجال أربعة رجل يدري ولا يدري أنه يدري فذاك غافل فنبهوه ورجل لا يدري ويدري أنه لا يدري فذاك جاهل فعلموه ورجل يدري ويدري أنه يدري فذاك عاقل فاتبعوه ورجل لا يدري ولا يدري أنه لا يدري فذاك مائق فاحذروه

“Orang-orang itu ada empat macam:
(1) Seorang yang mengetahui dan tidak mengetahui bahwasanya ia mengetahui, itulah orang yang lalai maka ingatkalah ia.
(2) Dan seorang yang tidak tahu dan ia mengetahui bahwasanya ia tidak tahu, itulah orang yang jahil (bodoh) maka ajarilah ia. 
(3) Dan seorang yang mengetahui dan ia tahu bahwasanya ia mengetahui, itulah orang yang pandai maka ikutilah. 
(4) Dan seorang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwsanya ia tidak tahu, itulah orang tolol maka jauhilah dia” 

Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/441 no 828
Mengingat Imam Abu Bakar Al-Baihaqi yang dimaksud adalah seorang cendikia muslim yang hidup pada tahun 384 - 458 H (994 - 1068 M), maka kemungkinan besar memang dialah penggagas ungkapan yang kemudian berkembang menjadi peribahasa yang digunakan masyarakat Arab dalam keseharian tersebut, dan lantas berkembang menjadi peribahasa umum yang mendunia. 

Namun demikian terlepas dari asal-usul dan sanad nya, peribahasa ini memuat suatu kondisi "if-then" yang sederhana dan bermanfaat: ikuti orang yang pintar, ingatkan orang yang lalai, ajari orang yang bodoh, dan jauhi orang yang tolol. 

Perlu diperhatikan juga di sini bahwa dibedakan antara "bodoh" dan "tolol": "bodoh" adalah orang yang simple alias awam atau tidak berpengetahuan, sedangkan "tolol" adalah orang yang fool, sok tahu, atau merasa diri tahu padahal tidak.

Di sisi lain, peribahasa ini juga mengingatkan kita untuk menjadi seseorang yang tahu daripada sok tahu, agar bisa diikuti orang. Bukan maksudnya supaya dikuntit kemana-mana, atau menganjurkan narsisme dan megalomania, namun "diikuti" adalah indikasi yang baik bahwa kita telah bermanfaat bagi orang lain, dan ini sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW:
"Khairunnas anfa’uhum linnas" atau "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)
(byms)

Thursday, April 22, 2010

Cara meraih sesuatu yang lebih baik

Cara yang terbaik untuk meningkatkan apresiasi dunia terhadap diri kita, adalah dengan meningkatkan nilai manfaat diri kita bagi orang lain.

Pemilik bisnis yang sukses, biasanya memiliki kemampuan untuk melayani para pelanggannya dengan baik dan memuaskan, baik dalam bentuk produk maupun jasa. Aktor yang sukses, biasanya memiliki kemampuan untuk membuat penonton film percaya pada karakter dari tokoh yang ia perankan, sehingga pesan dan kesan film tersampaikan dengan sempurna, sehingga memancing minat banyak penonton untuk menonton film tersebut. Seorang super-manager memiliki kemampuan untuk membesarkan bisnis si pemilik perusahaan, sehingga pemilik tak segan-segan memberikan kompensasi yang luar biasa, soalnya kontribusi si super-manager berpengaruh langsung kepada profit yang didapatkan perusahaan, yang pada ujungnya akan menguntungkan si pemilik perusahaan.

Akan halnya pada aliansi, seorang kepala negara akan dianggap sekutu oleh kepala negara lainnya kalau ia bisa memberikan kontribusi positif bagi negara yang dipimpinnya; baik itu kerjasama ekonomi, pertahanan, atau di bidang lainnya, suka rela atau tidak ada pilihan. Bersamaan dengan aliansi maka akan datang pula penghargaan dan kompensasi yang menguntungkan.

Jadi sebenarnya salahsatu modal dasar untuk keberhasilan hidup ini sangat tergantung kepada seberapa besar kualitas manfaat dan pelayanan yang bisa kita berikan kepada orang lain. Mirip seperti hadist Rasulullah SAW:
“Khairun naasi anfa’uhum linnaas.”
Yang terjemahan bebasnya:
"Sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain".
 (bay)

Tuesday, May 26, 2009

Ulama vs Ilmuwan

Apa yang terbayang dalam benak kita kalau mendengar kata "ulama"? Pria berjanggut panjang dengan sorban melilit, celak, dan berpakaian gaun putih? Ataukah mereka yang mengenakan jaslab putih, protective goggle, sarung tangan dan sibuk di laboratorium?

Dalam kosakata bahasa Arab, kata "ulama" sebenarnya merupakan bentuk jamak dari kata "alim", yang berarti "yang tahu" atau "memiliki pengetahuan". Sedangkan menurut terminologi Islam, maka dalam Al-Qur'an terdapat dua ayat yang memuat kata "ulama" yang cukup membantu menjelaskan arti dari istilah ini, pertama dalam surah asy-Syu'ara' [26]: 197, dan kedua dalam surat Fathir [35]: 28.

Dalam ayat pertama, Allah berfirman yang artinya "Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?”. Para ahli tafsir berpendapat, "ulama" dalam ayat ini memiliki arti...

"mereka yang memahami ayat-ayat Allah SWT yang tertulis atau al-Kitab".

Dalam ayat kedua, Allah berfirman yang artinya: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun”. Dalam konteks ayat ini "ulama" merujuk kepada...

"mereka yang memahami ayat-ayat Allah SWT yang tidak tertulis, alias tanda-tanda kekuasaannya yang tersebar di alam semesta"

Sebagaimana tersurat juga dalam surah Ali Imran [3]:190,  “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulil-albab).

Kita mengenal "ulama" jenis kedua ini sebagai "ilmuwan".

Kebenaran pengistilahan ini, ditunjang pula dengan kebiasaan yang terjadi di jaman Rasulullah SAW. Pada masa itu, mereka yang disebut "ulama" secara umum adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dalam hal agama, atau ilmu alam, atau ilmu politik (atau semuanya sekaligus). Mereka ini berkumpul dalam suatu majelis, dan seringkali dimintai pendapatnya untuk perkara-perkara penting.

Sedangkan jauh setelah masa pemerintahan beliau berakhir, sekitar masa dinasti Umayyah, definisi "ulama" sendiri kemudian dijabarkan lebih luas lagi, tapi secara umum dibagi menjadi dua kelompok:
  1. Ahli Agama
  2. Ahli Ilmu Pengetahuan
Di Indonesia dan dunia Islam kontemporer, definisi untuk "ulama" adalah lebih condong kepada yang pertama. Bahkan seiring waktu, dengan semakin suksesnya modernisme membawa sekularisme*, definisi istilah ini malah kemudian menyempit lagi menjadi "para ahli agama dalam hal Fikih" (Fikih = fiqh = pengamalan Agama), atau lebih sempit lagi "para ahli Fiqih dalam hal ibadah", sehingga konotasinya seorang ulama adalah seorang ahli ibadah. Mentok.

[*secularism = A doctrine that rejects religion and religious considerations]

Awamnya masyarakat, dan semakin lebarnya terpisahnya Islam dari kehidupan sehari-hari, seringkali mendukung pengkerdilan istilah "ulama" ini dengan meyakini bahwa untuk mendapatkan Islam adalah cukup dengan mendalami fikih, atau bahkan hanya dengan mendalami ibadah. Hal ini tak lepas karena dari seringnya contoh yang mereka lihat, sebagai pemuka Agama, para "ulama", cenderung hanya mengerti mengenai masalah ibadah. Jadilah gambaran Islam ideal dalam pikiran kita, tak pernah bisa lepas dari kata-kata "ustadz", "kyai", dan "syech"; berdakwah di mimbar, berpakaian gaun dan bersorban, ke-arab-araban. Mentok

Sedangkan fragmen-fragmen lainnya dari Islam, termasuk habluminannas (hubungan dengan sesama manusia), dan anjuran untuk meneliti alam (menjadi ilmuwan), kurang disentuh. Padahal spektrum pengamalan Islam itu luas, tidak terbatas pada ibadah wajib saja, apalagi sekedar memakai sorban dan jubah saja.

Mungkin inilah salahsatu penyebab menurunnya gebrakan ilmiah dari dunia Islam... karena seyogyanya posisi ulama yang didudukkan tinggi dalam Islam, pada masa kini sudah tidak menyertakan lagi para ilmuwan... Sehingga kaum muslim ramai berbondong-bondong mengejar Islam dengan (hanya) mengedepankan ibadah, ritual, sambil menganggap ilmu keduniaan tidak mendapatkan tempat barang sedikitpun dalam Islam.

Padahal seperti disiratkan dalam surah Fathir [35] : 28 tersebut, "... Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama...", (ulama dalam arti ilmuwan), maka sebenarnya apresiasi menyeluruh atas keagungan Alloh SWT hanyalah bisa diraih... kalau kita mau meneliti alam dan ciptaanNya...

...hanya kalau kita mau menjadi... "ilmuwan".
Mari kita sempurnakan iman, dengan memperbaiki kualitas ilmuwan yang ada dalam diri kita. Mari kita raih Islam, melalui kualitas keilmuan dalam diri kita. (bay)

Bahan bacaan:
+ http://www.kampusislam.com/cetak.php?id=542
+ http://syofyanhadi.blogspot.com/2008/06/siapakah-ulama-menurut-al-quran.html
+ http://linkgar.wordpress.com/2007/03/05/definisi-fiqih/
+ http://mujtabahamdi.blogspot.com/2005/09/ulama.html

Sunday, March 2, 2008

Tradisi Sains dan Teknologi Dalam Islam

Nemu tulisan terkait sains dan teknologi dalam perspektif Islami, menarik untuk dikaji. Terlebih ada beberapa pointers di bagian akhir yang berguna buat dijadikan titik awal penelitian.

Sains dan Kemandirian Muslim

Agus Purwanto, DSc.*)

Pendahuluan
        Sejarah ilmu pengetahuan mencatat bahwa dunia Islam pernah mencapai penguasaan yang gemilang di bidang sains, teknologi, dan filsafat di masa Dinasti Abbasiyah. Pada masa itu tradisi intelektual dan spirit pencarian serta pengembangan ilmu pengetahuan, yang diawali dengan translasi massif atas karya-karya ilmiah para filsuf Yunani kuno tertancap kuat, tumbuh dan berkembang pesat.

        Dunia Islam melahirkan sederet nama ilmuwan masyhur. Mereka itu seperti Al Biruni (fisika, kedokteran), Jabir Haiyan (kimia), Al Khawarizmi (matematika), Al Kindi (filsafat), Al Razi (kimia, kedokteran), Al Bitruji (astronomi), ibnu Haitsam (teknik, optik), ibnu Sina (kedokteran), ibnu Rusyd (filsafat), ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi), dan banyak lagi yang lain.
        Sumbangan dunia Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern menjadi fakta sejarah yang tak terbantah. Bermula dari dunia Islamlah, ilmu pengetahuan mengalami transmisi, diseminasi, dan proliferasi ke dunia Barat, yang mendorong munculnya zaman pencerahan (renaissance) di Eropa. Melalui dunia Islam, Barat mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Spirit al-Qur’an
        Ketika masa keemasan Islam berakhir bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia pada 1491, masyarakat Barat kemudian mengambil alih. Barat dengan sains dan teknologinya terus memimpin peradaban sampai saat ini sementara Islam terus dalam kegelapan dan ketakberdayaan. Bahkan selama kurang lebih tiga abad negara-negara muslim dijajah oleh kolonialisme Barat yang diperankan oleh Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Perancis, Jerman dan Amerika Serikat. Lebih memilukan lagi, sesama negeri muslim sulit bersatu dan mudah diadu seperti kasus paling aktual resolusi PBB nomor 1747 tentang nuklir Iran yang juga disetujui negeri muslim Indonesia dan Qatar.
        Kini umat Islam mencoba bangkit dari keterpurukan dalam sains dan teknologi. Umat Islam, untuk saat ini harus mengkaji kembali kekuatan mereka berupa sains dan kemudian melahirkan teknologi, yang mereka genggam erat selama abad 8-15 M.

        Umat Islam di masa lampau telah meletakkan ilmu pengetahuan pada posisi yang benar dan memandang sebagai pemilik yang sah. Pandangan ini mempunyai landasan yang kokoh yakni hadis nabi Muhammad saw, "Ilmu itu adalah harta (kearifan) yang hilang dari orang beriman, di mana pun dan kapan pun mereka menemukannya, mereka harus memungutnya kembali". Di dalam riwayat lain disebutkan: "Jika engkau menginginkan kebahagiaan dunia, maka carilah dengan ilmu. Jika kau mencari kebahagiaan akhirat, maka cari juga dengan ilmu."
        Sedangkan landasan dari kitab suci juga tidak kurang banyaknya. Spirit umat Islam awal adalah wahyu pertama yang memerintahkan umat Islam agar membaca, membaca, dan membaca (QS 96: 1-3). Ayat tersebut dan hadis-hadis terdahulu yang memerintahkan pentingnya menuntut ilmu dan hendaknya jadi pelecut umat Islam agar kembali mencintai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. Dorongan seperti ini tidak dimiliki oleh umat beragama apapun di dunia ini.
Problem Aktual
        Fakta-fakta kegemilangan sains masa lampau dan landasan-landasan normatif bagi umat Islam untuk menguasai sains cukup banyak dan jelas tetapi realitas lapangan memperlihatkan hal sebaliknya. Umat Islam tidak mempunyai kepedulian yang memadai terhadap sains, bahkan lebih ekstrim umat Islam memperlihatkan kecenderungan sikap antisains. Sains seolah tidak terkait dan tidak mengantar umat Islam ke surga sebagaimana zakat, anak yatim, kaum duafa dan pendirian masjid. Banyak umat Islam mempunyai pemahaman dan persepsi bahwa sains adalah kafir dan membawa pada kekafiran karena merupakan produk orang kafir (baca Eropa dan Amerika).
        Pandangan salah tersebut tidak hanya terjadi di kalangan awam berpendidikan rendah melainkan juga sebagian elit umat. Akibatnya tidak ada dukungan yang memadai untuk pengembangan sains. Jurusan-jurusan sains dan teknologi di perguruan tinggi islam didirikan seolah hanya untuk menampung mahasiswa baru dan strategi bisnis jangka pendek. Di kalangan mahasiswa, masuk jurusan eksakta (sains dan teknologi) hanya faktor latah dan gengsi sesaat karena setelah itu mereka kembali pada kecenderungan umum umat Islam yakni meninggalkan dan anti sains.

        Pada tahun 1930-an Syeh Jauhari Thonthowi di dalam tafsirnya al-Jawahir menggugat dengan menyebutkan bahwa ulama menghabiskan waktu, tenaga dan materi hanya untuk urusan fikih dan mengabaikan ayat-ayat kauniyah. Padahal ayat-ayat hokum di dalam al-Quran hanya sekitar 150 ayat sementara ayat kauniah sekitar 750 ayat. Dus, ayat kauniyah lima kali lebih banyak dari ayat hokum. Keadaan ini sampai sekarang belum banyak berubah.
        Ada sebagian orang dengan serampangan berargumen bahwa tidak tumbuh dan berkembangannya sains di dunia islam disebabkan kemiskinan dunia Islam. Alasan ini jelas sangat lemah. Tidak sedikit di antara negara-negara Islam memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, sehingga sulit dikatakan negeri muslim sebagai negeri miskin. Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) pada tahun 2000 melaporkan, sebanyak 57 negara Islam yang tergabung dalam OKI memiliki sekitar 1,1 miliar penduduk atau 20 persen penduduk dunia mendiami wilayah seluas 26,6 juta kilometer persegi, dan menyimpan sebanyak 73 persen cadangan minyak dunia.

        Knowledge is power demikian pernyataan tokoh modernisme Francis Bacon. Amerika, Eropa dan Jepang sampai saat ini menjadi kiblat kemajuan dunia karena sains dan teknologinya. Taiwan dan Korea merupakan dua negeri industri baru sedangkan Cina dan India dikenal luas sebagai kandidat kekuatan pemimpin baru ekonomi dunia dua dasawarsa mendatang. Negara-negara tersebut adalah negara yang mengembangkan sains fundamental dan kemudian terapannya secara konsisten.

        Israel negeri yang sangat kecil menjadi sangat digdaya karena kemampuannya dalam sains dan teknologi. 16% pemenang nobel fisika dan kedokteran adalah ilmuwan berdarah Yahudi. Sekitar 200 peluru berhulu ledak nuklir dimiliki oleh negeri ini. Sementara Iran yang baru dikucilkan oleh PBB dengan resolusi 1747 baru bisa membuat satu senjata nuklir sepuluh tahun lagi.

Jalan Sains: Terjal dan Sunyi
        Untuk menguasai sains ada dua langkah utama yang harus dilakukan. Pertama sosialisasi bahwa sains adalah bagian dari islam dan diisaratkan berulang-ulang di dalam al-Qur’an serta telah dipraktekkan oleh generasi muslim awal.  Kedua sosialisasi bahwa tidak ada jalan pintas bagi sains. Jalan sains adalah jalan panjang, terjal dan sunyi yang jauh dari hiruk-pikuk serta pola hidup glamour.

        Dakwah dengan berceramah telah menjadi aktivitas harian di masyarakat kita. Sosialisasi sains bagian dari islam bisa disampaikan melalui ceramah-ceramah agama ini. Sekedar contoh ayat-ayat terkait dengan alam

Alam diciptakan dalam enam masa (QS 32:4)
Bumi diciptakan dalam dua masa (QS 41:9)
Penciptaan tujuh langit dalam dua masa (QS 41:12)
Awan dikirim ke bumi yang tandus (QS 32: 27)
Teknologi pembuatan baju besi dikuasi nabi Daud as (QS 34:10-11)
Rekayasa angin dan tembaga cair dikuasai nabi Sulaiman as (QS 34:12)
Sains dan rekayasa angin (QS 38:36; 41:16)
Dinamika udara dan awan (QS 35:9)
Pola air laut (QS 35:12)
Kesetimbangan langit dan bumi (QS 35:41)
Penciptaan pasangan materi-antimateri (QS 36:36, 42:11)
Dinamika benda langit (QS 36:38-40)
Perkapalan (QS 36:41-43; 42:33-34)
Relasi kapal laut dan gunung (QS 42:32)
Pola garis putih, merah dan hitam pekat di antara gunung (QS 35:27)
Materi-materi di langit, bumi dan antaranya (QS 42:12).
Api dari kayu hijau (QS 36:80)
Suluh api (QS 37:10)
Rahasia dan kekuatan petir (QS 41:13)
Fertilasi tanaman dan manusia (QS 41:47)
        Sosialiasi menjadi lebih konkrit bila kita dapat memperlihatkan naskah-naskah dari para sarjana muslim awal yang disebut di depan. Misalnya saja, bagaimana sebenarnya matematika yang dirumuskan al-Khawarizmi, astronominya al-Bitruji dan optic dari ibnu Haitsam. Tanpa contoh ini, sulit mengubah persepsi bahwa sains tidak ada kaitan dengan surga karena di saat awal Islam Rasulullah saw dan para sahabat tidak ada yang mengembangkan sains.
        Dengan tersosialisasinya pesan bahwa sains merupakan kesatuan dari islam maka diharapkan lebih banyak lagi mahasiswa yang mau menekuni dan memilih jalur sains dan teknologi sebagai profesinya. Selain itu diharapkan pengusaha muslim juga sadar untuk mengalokasikan dana bagi upaya pengembangan sains dan teknologi misalnya dengan memberi beasiswa mahasiswa potensial atau membuat funding bagi riset fundamental.

        Tanpa keterlibatan para pengusaha dan negara pengembangan sains tidak mungkin dilakukan. Akibatnya, terjadi braindrain ilmuwan cemerlang negara dunia ketiga termasuk negara muslim ke negara maju. Realitas ini makin membuat negara ketiga makin tertinggal dari negara maju  

        Selanjutnya perlu dikenali bahwa jalan sains adalah jalan panjang, terjal dan sunyi. Idealnya seorang ilmuwan telah melampaui pendidikan strata-3 lalu postdoctoral 2-3 tahun. Artinya, ilmuwan akan relatif matang setelah melalui fasa tersebut. Masa dan fasa tersebut harus dilalui di laboratorium dan perpustakaan yang jauh dari riuh-rendah publisitas.
Sebagai gambaran, universitas-universitas di Jepang buka selama 24 jam perhari. Laboratorium menjadi rumah kedua bagi mahasiswa S1 tingkat akhir ke atas. Diskusi antara mahasiswa dan profesornya seringkali berlangsung sampai larut malam dan profesor kadang juga bermalam dan tidur di laboratorium. Perpustakaan universitas kadang buka di hari Minggu. Jelas, di sinilah beratnya dunia ilmu bagi para mahasiswa yang cenderung ingin tampil cepat dan gegap gempita sebagaimana umumnya dunia politik dan selebriti.

        Tradisi sains adalah tradisi riset. Sedangkan tradisi riset akan melahirkan budaya mencipta dan memproduksi. Artinya, kemandirian material hanya bisa lahir dari budaya produksi dan menuntut penguasaan sains terlebih dulu. Tanpa tradisi riset dan produksi maka kita hanya akan mampu menjadi bangsa makelar yang bergantung kepada para bangsa produsen.

Penutup
        Penguasaan sains merupakan hal yang mendesak bahkan keniscayaan bagi negeri khususnya negeri muslim yang ingin eksis di percaturan global. Tanpa sains suatu negeri akan lemah dan menjadi negeri yang bergantung pada bangsa-bangsa maju. Indonesia yang luas dan kaya dengan sumber daya alam tetapi tidak menguasai sains dan teknologi akhirnya menjadi sangat bergantung pada Amerika dan Jepang.

        Jembatan Suramadu dan lumpur Porong yang terkatung-katung juga merupakan akibat lemahnya penguasaan bangsa kita terhadap sains dan teknologi. Lumpur Porong yang berlarut-larut sesungguhnya mencerminkan aneka klaim hebat yang semu bangsa kita. Lumpur Porong menyodorkan realitas pseudoilmiah, pseudoilmuwan, pseudoinsinyur, pseudopakar, pesudoanalisa, pseudosolusi, pseudoserius serta pseudopolicy di depan kita.
Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim dan menempati area seluas 8 juta kilometer persegi tidak bisa terus-menerus menyerahkan pengelelolaan aneka kekayaan alam yang melimpah kepada orang asing. Indonesia harus mandiri karenanya harus cerdas dan terampil khususnya dalam sains dan teknologi. Indonesia tidak boleh selamanya menjadi bangsa makelar dan kuli baik kuli di negeri orang apalagi kuli di negeri sendiri.

        Kita harus bangkit, mandiri, berdaulat dan berdiri sejajar dengan negara-negara lain. Syarat untuk itu tidak lain adalah iman dan ilmu (QS 58:11). Kedaulatan dan harga diri harus ditopang dengan kekuatan baik spiritual maupun material. Iman yang benar akan mendorong pada penguasaan sains. Sebaliknya pengabaian sains sebenarnya refleksi iman yang salah dan kebahlulan modern.

        Terakhir, meski tidak dianjurkan berperang tetapi kita harus kuat dan mampu mempertahankan diri dari serangan pihak lain termasuk dari kemungkinan serangan menggunakan peluru berhulu ledak nuklir. Aneka upaya diplomasi tetap akan tidak efektif bila kita lemah. Al-Qur’an surat al-Anfal ayat 60 menegaskan agar umat Islam mempersiapkan seluruh potensi dan kekuatan yang ada.

*) NBM: 547243, mantan ketua IMM-ITB, Doctor of Science, pekerja Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS.
Diunduh dari situs: http://jatim.imm.or.id/Wacana/Artikel/Sains-dan-Kemandirian-Muslim.htm

Sunday, October 22, 2006

Menyikapi perbedaan penentuan 1 Syawal 1427H

Di rumah mertua sini lagi ada sedikit perselisihan... topiknya apa lagi kalo bukan "Kapan Lebaran?". Soalnya semenjak Muhammadiyah menyatakan penetapan hari Lebaran (Idul Fitri) yang berbeda dengan keputusan Negara (via MUI), maka bibit-bibit perpecahan pun mulai muncul...

Mengapa Muhammadiyah menetapkan keputusan berbeda? Ini terjadi karena perbedaan cara perhitungan. MUI menerapkan sistem pemantauan terhadap "hilal" (tanda munculnya bulan baru), alias metode "rukyat", sedangkan Muhammadiyah cenderung mempergunakan sistem "hisab" (perhitungan).

Lantas kalau dikaitkan mengenai pemerintah Arab Saudi yang ternyata menetapkan 1 Syawal jatuh pada hari Senin, 23 Oktober 2006, gw gak terlalu peduli... kenapa? Bukannya karena sistem perhitungan mereka cacat, namun antara Arab Saudi dan Indonesia terdapat perbedaan letak geografis yang cukup significant, sehingga tidak secara otomatis apa yang berlaku di Arab Saudi, berlaku pula di Indonesia. Sedangkan bedasarkan sunnah Nabi, seorang muslim harus memakai perhitungan berdasarkan lokasi dimana ia berada, bukan berdasarkan perhitungan di Arab... Jadi dalam hal ini ummat muslim harusnya mengikuti keputusan yang dibuat oleh para alim ulama dari negaranya, kecuali kalau memang dianggap tidak ada yang kompeten.

Kalo dulu-dulu gw dan keluarga selalu kompak, dan selalu ngambil kata sepakat, maka keliatannya di keluarga mertua sistem ini kurang berjalan... Salahsatu ipar isteri, menyatakan pertimbangan bahwa menurutnya, MUI tidak menerapkan sistem perhitungan yang komprehensif dan cenderung hanya mengandalkan pada rukyat. Padahal ada beberapa metode yang harus ditempuh untuk penentuan hal ini... Jadi karena khawatir melaksanakan yang haram (jika ternyata benar 1 Syawal 1427H jatuh pada hari Senin, maka puasa hari itu diharamkan), maka ia memutuskan untuk menerima pendapat Muhammadiyah akan penentuan tanggal 1 Syawal; hari Senin, 23 Oktober 2006.

Duh bingung... Namun dengan tidak mengecilkan pendapat ipar (maupun negara), maka gwpun melakukan apa yang biasa gw lakukan kalau menghadapi ambiguity; Googling!

Hal pertama yang gw perlu ketahui adalah, "Bagaimanakah pendapat ormas dan orpol Islam lainnya mengenai hal ini?"

Jika pendapat Muhammadiyah dan Nadhlatul Ulama sudah sering diudarakan di TV, bagaimanakah dengan pendapat pihak lain? Pihak yang kredibilitasnya bisa gw percaya secara pribadi? Maka gwpun berusaha mencari tahu gimana keputusan dari Partai Keadilan Sejahtera, alias PKS; orpol Islam yang dalam kampanye dan aksi2 nya selalu melancarkan image positif, simpatik, dan santun.

Ternyata berbeda dengan pendapat ipar, Dewan Syariah Pusat PKS dalam website resmi PKS menyatakan keputusan untuk menetapkan tanggal 1 Syawal 1427H pada hari Selasa, 24 Oktober 2006, mengikuti keputusan negara. Lucunya, salahsatu hal yang mereka "garisbawahi" adalah perkara "berjama'ah".

Mengenai berjama'ah ini sendiri kebetulan sudah pernah gw temui pada beberapa wacana dari teman-teman MP maupun artikel-artikel di web, mengenai adanya hadist Nabi yang mengharuskan "berjama'ah" ini sebagai salahsatu aturan dasar penentuan. Tapi in the mean time, gimana sih pendapat ormas / orpol Islam lainnya?

Dari NU, Ketua Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama KH Ghozali Masroeri, di Jakarta menyatakan, melihat bulan dengan mata kepala (ru`yatul hilal bil fi`li) untuk menentukan awal bulan Qomariyah atau Hijriah, khususnya awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, sesuai dengan perintah Nabi

Muhammad SAW. Adapun hisab atau perhitungan menurut cara ilmu pengetahuan (astronomi) hanya berfungsi sebagai pembantu belaka.

(http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=269234&kat_id=23)

Sedangkan dari Persis, didapatkan juga hal yang sama; 1 Syawal 1427H jatuh pada hari Selasa, tanggal 24 Oktober 2006. (http://www.persis.or.id/site/index.php?option=com_content&task=view&id=28)

Oke, ternyata sebagian besar dari ormas/orpol Islam ini menyatakan "rukyat" (melihat bulan secara visual) sebagai dasar penentuan mereka. Lantas pertanyaan berikutnya adalah, "Gimana sih sebenernya posisi atau kedudukan antara dua metode; rukyat vs. hisab ini?"

Kembali ke Googling... dan dapet satu artikel yang isinya cukup komplit walaupun dipasang bukan di website yang gw kenal... Dan beginilah runtutan fakta yang bisa gw telaah....

FirmanNya:
Mereka bertanya tentang hilal. Katakanlah:: "Sesungguhnya ia adalah penentu waktu bagi manusia. (QS Al Baqarah:189). 
Sabda Nabi:
Berpuasalah kalian dengan melihatnya, dan berbukalah dengan melihatnya. (Hadits).
Berdasarkan dua sumber hukum itu saja sudah tertera jelas bahwa cara perhitungan / penentuan awal bulan Islami adalah melalui metode melihat hilal secara visual.

Lalu bagaimanakah jika ternyata hilal tidak bisa dilihat pada saat diperkirakan sudah waktunya berganti bulan?

Dari Abu Umair bin Anas dan paman-pamannya dari kalangan kaum Anshar , berkata:
"Awan menutupi kami pada hilal Syawal. Maka pagi tersebut kami berpuasa. (Kemudian) datanglah kafilah pada sore harinya, Mereka bersaksi kepada Rasulullah, bahwa kemarin
mereka melihat hilal. Maka Rasulullah memerintahkan orang-orang untuk berbuka saat itu juga, dan keluar besok paginya untuk shalat Id". [15] 
Jika belum terlihat hilal, maka teruslah berpuasa! Dan karena para pengamat MUI di pelosok tanah air ini per-Maghrib hari Minggu 22 Oktober 2006 ini belum ada yang melihat hilal, maka berarti untuk wilayah Indonesia tanda pergantian bulan belum terlihat, jadi pada hari Senin 23 Oktober 2006 kaum muslim masih diharuskan untuk berpuasa.

Lantas pertanyaan berikutnya, "Bagaimanakah penyelesaiannya jika ternyata antara para ahli ada yang berbeda pendapat?"

Sabda Rasulullah:
"Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa. Dan berbuka kalian, lalah pada hari kalian berbuka. Dan hari penyembelihan kalian, ialah hari ketika kalian (semua) menyembelih."
Ash Snan'ani, ketika mensyarah hadits ini berkata: "Dalam hadits ini, dalil yang menetapkan hari raya sesuai dengan (kebanyakan) manusia, karena orang yang sendirian mengetahui hari raya dengan ru'yah, wajib baginya untuk mengikuti orang lain dan diharuskan shalat, berbuka dan kurban bersama dengan mereka". [14]

Ternyata untuk penentuan bulan baru yang terkait dengan ibadah-ibadah khusus (Sholat Id, Qurban) maka faktor bersama-sama adalah penting! Dan bukankah Islam berulangkali menempatkan masalah berjama'ah ini sebagai suatu prioritas?

Dan dalam hal ini, walaupun Republik Indonesia bukanlah negara Islam, namun karena pemerintah Republik Indonesia memiliki dewan yang dianggap cukup credible untuk menentukan penanggalan Islami (termasuk penentuan jatuhnya tanggal 1 Syawal), maka keputusan negara memiliki kedudukan yang prioritas. Apalagi metode yang mereka pakai adalah metode yang memang kuat landasan hukumnya.

Lalu jika kembali ke pembahasan diawal mengenai "khawatir melaksanakan shaum yang haram pada tanggal 1 Syawal, jika ternyata negara membuat keputusan yang salah", ternyata ada hadistnya juga dari Nabi:

Nabi bersabda tentang para penguasa:

"Shalatlah bersama mereka. Jika mereka benar, maka (pahalanya) untuk kalian dan mereka. Jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian (dan) dosanya untuk mereka"

Jadi, kesalahan dan kelalaian pemerintah, tidak ditanggung kaum Muslimin yang tidak melakukan kelalaian atau kesalahan. [17]

Jadi dalam hal ini, Nabi menjamin bahwa seorang muslim berada dalam posisi yang aman, jika dikaitkan terhadap kemungkinan kesalahan keputusan pemerintah / penguasa. Sedangkan sikap memutuskan untuk tidak berpuasa pada hari Senin, 23 Oktober 2006 karena khawatir melaksanakan sesuatu yang haram, dan tokh bisa diganti (qodho) dengan shaum dilain waktu, gw anggap sebagai suatu sikap yang kurang tegas...

Jadi sebagai kesimpulan akhirnya:

Berdasar pada metode rukyat, plus hadist Nabi mengenai keutamaan melaksanakan 1 Syawal bersama-sama, dan anjuran Nabi untuk mengikuti keputusan pemerintah, maka gw pun memilih untuk mengikuti 1 Syawal-nya Pemerintah RI: pada hari Selasa, 24 Oktober 2006.

Sekian, kalau ada rekan-rekan yang memutuskan untuk merayakan 1 Syawal 1427H pada hari Senin 23 Oktober 2006 ini, silakan... anda pasti punya pertimbangan tersediri yang anda yakini benar... Lagipula tanggung-jawabnya tokh bukan dengan teman/sahabat/lingkungan, tapi terhadap our own conscious dan dengan Alloh SWT. Yang pasti, sekarang gw udah nggak galau lagi karena keputusan gw udah berdasarkan pengertian, bukan ikut-ikutan semata. (bay)

Catatan:

[14] Subulus Salam (2/134).

[15] Hadits dengan lafadz ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, Kitab Shalat, Bab (Idza Lam Yakhrujil Imam Ul 'Id...) no. 1.157.

[17] Majmu' Fatawa (25/206).

Sumber2 dalil tersebut dikutip dari: http://forsitek.brawijaya.ac.id/index.php?do=detail&cat=fatwa&id=ftw-hariraya, dicopy dari: Majalah As-Sunnah Edisi 07 [Tahun VIII/1425H/2004M]




















Thursday, May 12, 2005

Isyu dalam Islam: Mobil dan tune-up (Lho?!)

Ibaratnya mobil keluaran sebuah pabrik...

Buat seorang konsumen (manusia), mungkin gak akan ngeh kenapa koq mobil itu harus sering di tune-up, diselaraskan pengapiannya, diganti businya, diatur timing belt nya, dan lain-lain rutinitas yang keliatannya so nggak penting... "Lho, mobil gw masih bisa jalan koq, so what?"

Padahal kalau saja konsumen (Manusia) itu mengerti mengenai mesin, bagaimana pengapian tak selaras mengakibatkan choking atau tenaga mesin timpang, bagaimana momentum ban yang tidak balance akan mengakibatkan ketidak merataan gundul ban (ban cepat habis sebagian), bahwa asupan udara ke karburator turut menentukan kinerja mesin, sampai knalpot yang bocorpun ternyata berpengaruh pada turunnya tingkat kompresi dalam blok mesin, tentu konsumen (Manusia) akan memperhatikan masalah tersebut dengan lebih serius, dan lebih disiplin dalam mengikuti manual dan aturan perawatan yang dikeluarkan oleh pabrik (Tuhan)...

Hal-hal tersebut, yang menurut pabrik (Tuhan) perlu dilakukan secara rutin oleh konsumen (Manusia), sebenernya adalah demi kesejahteraan si konsumen (Manusia) itu sendiri, supaya tetep berada dalam kondisi prima.

"Sudahkan anda tune-up?" (sholat)













Menu Sarapan Pagi Ini: Hati, Bela diri, Agama

Masalah Hati

Jadi orang tuh harus bisa milah-milah masalah, mana yang harus pake hati, mana yang harus sabodo teuing (peduli amat). Di satu sisi kalau kita kerja memakai "hati", maka biasanya kita akan menghasilkan yang terbaik. Tapi di sisi lain kalau apapun kita hadepin dengan hati, bisa berakibat jantungan dan stress... Kalau ada tugas mendesak yang kita merasa gak sesuai dengan situasi hati, pasti ngerjainnya juga berantakan... Saat ada orang gendheng yang keliatannya gak bisa menghargai perbuatan kita, lantas hati kita ngerasa sakit... Itulah akibatnya kalau gak bisa milah mana yang masuk porsi "hati", porsi "hati+pikiran", dan porsi "pikiran" saja. Gawat atuh euy kalau semua hal dimasukin hati...

Untuk mengatasi masalah malas dan gak suka (gw banget deh), salahsatu artikel yang pernah gw baca menganjurkan bahwa dalam ngelakuin hal-hal yang wajib, sebaiknya berlaku pepatah "You don't have to like it, just do it". Kebetulan contohnya adalah belajar beladiri... Dan si pemberi wejangan adalah instruktur salahsatu cabang beladiri yang berpengalaman dua puluhan tahunan melatih.

Beladiri

U see... dalam beladiri, kecakapan itu tidak bisa didapat dalam sehari-dua hari latihan (and so is the case with the rest of the wordly skills). Seringkali seorang praktisi beladiri mundur ditengah jalan karena malas latihan, entah karena faktor jarak, biaya, teman, ketidak-cocokan, kurang visi kedepan, dll. Tidak bisa dipungkiri, tapi tidak bisa juga dibiarkan. Semua hal yang berakhir di tengah jalan tidak akan membawa manfaat yang "penuh".

Gak akan terkuasai ilmu sebenarnya dari beladiri, kalau baru sampai tahap dasar ("Yukyusha" kl di beladiri Jepang). Nggak juga kalau udah sampai dapet blackbelt...

Lho koq?

Hmm... gini... ada yang tau arti filosofis dari "black belt", atau "ban hitam" itu sendiri? Karena kerasnya latihan yang diperlukan untuk mencapai taraf ini, banyak diantara kita yang merasa bahwa black belt adalah tahap tertinggi dari dunia beladiri, sehingga cenderung memberi arti khusus pada level yang satu ini.

Walaupun agak benar dalam hal "tahap tertinggi" beladiri (diatas blackbelt gak ada belt lain, kecuali Capoeira afaik), tapi apa kita sadar arti sebenernya dari level ini? Padahal, ban hitam itu diberikan pada mereka yang semata-mata dianggap sudah menguasai teknik dasar beladiri, nothing more! Ban hitam menyatakan kesiapan dari si bersangkutan untuk belajar beladiri dengan benar.

Inget bagaimana Musashi yang kuat bukanlah Musashi ditahap awal yang membunuh semua yang melawannya, tapi Musashi yang memilah mana yang harus ia lawan mana yang tidak?

Atau bagaimana Kenji Goh yang justru malah murung dan negatif setelah mengalahkan musuh bebuyutannya, Tony Tan? Dan mempelajari kungfu yang dibilang sebagai kungfu terbaik di dunia?

Itu semua terjadi karena sebenarnya tujuan akhir belajar beladiri bukanlah dalam penguasaan teknik dalam mengalahkan musuh, tapi justru bagaimana "mengalahkan diri sendiri dan memahami soal hidup". Dalam perspektif ini, ban hitam justru adalah awalnya pelajaran mengenai beladiri...

Agama

Begitu juga halnya dengan Agama (he he he, kesini lagi ternyata!). Dalam agama apapun, ada serangkaian bentuk ibadah yang wajib dilakukan ummatnya dengan rutin. Di sisi lain, banyak yang merasa dengan telah
memenuhi kewajiban2 ibadah tersebut, yang bersangkutan telah menjadi seorang "saint" atau "malaikat". Di sisi yang berlawanan, banyak yang merasa ibadah-ibadah rutin ini sebagai suatu beban, dan hal yang sia-sia, seperti... "Ah gw rajin sholat juga nggak kaya-kaya!"

Terlepas dari ada atau tidaknya kaitan langsung antara rajin beribadah dengan banyaknya harta, kita seharusnya menyadari kalau Agama itu panduan MORAL, bukan panduan dagang. Tuhan kelihatannya percaya bahwa mahluk manusia ini harus diperkuat landasan moralnya, barulah kemudian mereka bisa menjadi manusia yang paripurna; utuh dan "sempurna". Dan kalau seorang manusia sudah sampai dalam tahap paripurna, baru deh akan keliatan kenapa koq manusia itu dianggap-Nya sebagai mahluk paling mulia, yang Malaikat saja diharuskan sujud kepadanya (kisah Adam AS).

Dalam tahap ini, hal duniawi lainnya bukanlah lagi menjadi masalah bagi si manusia. Mau nggak jadi orang yang nggak punya masalah duniawi? Atau sekurang-kurangnya, punya lebih sedikit masalah duniawi? Ya yang khusyuk (serius) dong sama agama mu!

Nahh... dalam membimbing manusia kearah kesempurnaan ini, maka disusunlah serangkaian bentuk ibadah yang secara sadar or nggak sadar, membangkitkan pemahaman dan penguasaan manusia akan hal MORAL tadi. Hanya saja si manusia nya yang nggak sadar kalau dibalik semua rutinitas ibadah tersebut terdapat desain dari sebuah PROGRAM PELATIHAN.

Ingin ngerti rahasia dari sholat? DO IT REGULARLY. Dalam sholat itu terkandung suatu self-enforcement yang berguna dalam memantapkan hati. Coba resapi tiap kata tiap kalimat yang diucapkan, seakan-akan kita sedang berbicara langsung dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan serangkaian kata yang diucapkan dengan segenap jiwa, dengan bersungguh-sungguh...

Sewaktu kita menghadapkan diri dihadapan-Nya, berbicara kepada-Nya dengan serangkaian kata sumpah dan janji... pasti deh jadinya merinding... hiiii...

Sesudah itu terus maksiat lagi? Mo mulai sholat aja ragu karena ngerasa diri terlalu bejad? Give it up... manusia itu sarangnya dosa.... sholat itu bukan semata-mata untuk mereka yang beriman, justru lebih banyak manfaatnya bagi mereka yang merasa kurang kuat imannya. Karena itu cukuplah komitmen kita dimulai dengan "kalau waktunya sholat, lakukan", percaya atau nggak, setelah itu hal-hal disekitarnya akan mulai meluruskan diri secara otomatis.

Butuh ketenangan jiwa? Dekatkan diri dengan Pencipta mu.

Sholat itu bukanlah "konsumsi" nya mereka yang sudah merasa beriman kuat dan paham baik seluk-beluk agama, justru buat mereka yang merasa ingin memahami Agama.

Sholat itu bukan sesuatu yang eksklusif, justru sesuatu yang berada di level grassroot.

Sholat itu bukan lauk pauk mahal yang kita ngerasa gak layak dapetin walaupun diberi gratis, justru sholat itu justru adalah piring tempat kita makan.

Epilog

Jadi mari kita round-up a bit... Sholat itu, adalah salahsatu teknik dasar yang harus dikuasai kalau ingin meraih "blackbelt" dalam hidup (Islami). Teknik dasar ini akan membawa manfaat kalau dilakukan sepenuh hati (khusyuk), sedangkan untuk memulainya, cukup dengan berpedoman pada "You don't have to like it, just do it".

Hmm... koq akhir-akhirnya ke masalah ini lagi ya..? Ada yang ngerasa kesindir nggak? Selain dari gw sendiri tentunya? (byms)

Thursday, March 17, 2005

Alkohol itu Haram?

Seringkali kita salah kaprah mengelompokkan Alkohol sebagai bahan yang haram untuk dikonsumsi. Padahal yang diharamkan oleh sumber-sumber hukum Islam adalah "khamar", alias "Minuman Keras", yaitu minuman yang sengaja dibuat untuk memabukkan.

Berikut ini cuplikan dari situs Indohalal.com yang diasuh LPPOM MUI di sini.

Pertanyaan dari nenden 10/03/2005 14/29/16 WIB 
Ass wr.wb,sebagaimana diketahui bir yang mengandung alkohol adalah haram, mengapa haram? karena katanya bir itu adalah hasil fermentasi, kalau tape yg mengandung alkohol hasil fermentasi dan makanan lain yang mengandung alkohol itu bagaimana?
Jawaban :
Assalamu'alaikum wr.wb,
Penanya yang budiman, yang diharamkan bukan "bir" (saya tambahin tanda kutip agar lebih jelas, red) akan tetapi "khamar" (juga saya tambahin tanda kutip, red) dan juga bukan karena pati menjadi gula sehingga hasilnya menjadi singkong / ketan yang manis. Akan tetapi apabila air tape diperas dan dipisahkan dari tapenya maka statusnya menjadi khamar.
Sekali lagi bukan karena alkoholnya akan tetapi niatnya untuk membuat sesuatu yang memabukkan. Buah-buah segar juga mengandung alkohol tetapi tetap halal.
Wassalam,
LPPOM MUI

So, beda kan?

Kemudian ada informasi dari situs yang sama pula, bahwa untuk menilai kehalalan suatu makanan untuk tingkat pribadi boleh dilakukan dengan ijtihad (berusaha sekuat tenaga dalam mengambil keputusan paling benar atas suatu perkara), sedangkan untuk tingkat resmi, oleh lembaga yang berwenang, yaitu MUI.

Biar ijtihadnya baik? Banyak baca, dan jangan ragu untuk bertanya sama pihak penyedia makanan soal makanan yang mereka sajikan, jangan takut disangka kampungan. (bay)