Friday, December 26, 2008

Keberhasilan bersyarat


"Jangan memberi syarat kepada keberhasilan"

Maksudnya jangan nunggu sesuatu terjadi dulu / punya sesuatu spesifik dulu sebelum mau mulai usaha kearah kebaikan. Hal yang seringkali terjadi adalah, secara nggak sadar kita menunda-nunda melakukan sesuatu karena merasa masih kurang ini kurang itu. Atau, berencana kalau sudah punya anu, tercapai anu, barulah mau begini begitu.

Padahal banyak dari hal yang direncanakan bersyarat tersebut, sudah bisa dilakukan SEKARANG, walaupun mungkin butuh sedikit penyesuaian atau sedikit agak susah, atau sedikit rada KURANG NYAMAN.

-- Tapi sebenernya bisa --

Silakan re-check. (bay)

Monday, September 15, 2008

Terjebak "Comfort Zone" atau... ?

Masih dari Mario Teguh The Golden Way, kali ini soal "comfort zone" dan bagaimana ia seringkali dijadikan alasan ketidakberkembangan kita.

Terkait comfort zone, seringkali apa yang para motivator tekankan bagi para slackers adalah; "jangan terjebak dalam comfort zone". Alias, jangan sampai enggan untuk berjibaku, hanya karena kita sudah merasa nyaman dengan apa yang biasa kita lakukan / apa adanya kita.

Namun sebenernya kalau mau mempertanyakan lebih dalam lagi, bisa ada pengertian baru lho... Pertanyaannya, "Benarkah kita malas bergerak karena merasa nyaman di comfort zone kita?" 

Let's see... kalo gaji masih pas-pasan, lingkungan kerja nggak kondusif, karir nggak jelas, rumah belum kebeli, jangankan liburan malah selalu kekurangan duit.... so...

WHAT COMFORT ZONE???

Kalau belum achieve apa-apa udah merasa comfort sih sebenernya namanya bukan terjebak comfort zone, tapi dogol. (bay)

Cerpen Legenda: Abah Express, part 2

Di suatu hari yang mendung, di dusun Singajaya, telepon berdering di kantor Lurah, mengabarkan kalau Abah diminta untuk hadir segera di kantor Bupati Garut untuk rapat terkait suatu urusan pemerintah. Maklumlah, walaupun bukan aparat desa, tapi Abah adalah salahsatu sesepuh di desa Singajaya ini, jadi pendapat dan masukannya akan sangat bermanfaat.

Sayangnya, Abah siang itu banyak keperluan. Padahal jarak Singajaya - Garut yang sekitar 90 Km itu mengharuskan ia untuk ikut oplet terakhir siang hari itu, yang sudah siap-siap berangkat. Menunggu Abah yang tak kunjung datang, oplet pun akhirnya berangkat beserta para undangan rapat Bupati siang itu, meninggalkan Abah.

Sekitar 30 menit sebelum rapat dimulai, Abah akhirnya tiba kembali ke rumah, disambut Emak yang keheranan mengapa ia masih ada disana padahal ditunggu rapat oleh Bupati di Garut. Menyadari pentingnya rapat ini, Emak agak kecewa mendapati Abah tidak bisa ikut rapat. Bagaimana tidak? Pakai oplet saja butuh waktu dua - tiga jam? Tapi Abah terlihat tenang saja. Iapun kemudian berjalan keluar rumah, meninggalkan Emak yang sedang masak. Emak pun merasa sedikit lega karena menduga suaminya tersebut akan bergegas berangkat ke Garut, telat pun tidak apa-apa deh yang penting sampai dan ikut rapat.

Alangkah kagetnya emak ketika beberapa waktu kemudian ia melihat Abah malah sedang jalan-jalan keliling lapangan di dekat rumah, bukannya bergegas berangkat ke Garut. Sedikit kesal, Emak meneruskan masak sambil bersungut-sungut sendiri.

Tak berapa lama kemudian, seorang utusan kantor Lurah datang ke rumah Emak, dan menyebutkan ada telepon untuk Emak dari Garut. Emak pun waswas, khawatir itu telepon dari Bupati yang menanyakan mengapa Abah tidak datang-datang juga. Tapi dilihat di lapangan, Abah sudah tidak terlihat... Rencanapun disusun dalam benak Emak, untuk mengabari kalau Abah sedang dalam perjalanan dan mungkin akan datang telat. Emak pun bergegas jalan menuju kantor Lurah. Begitu sampai, iapun mengangkat telepon...

Emak: "... halo? Assalamualaikuum!" 
???: " Waalaikumsalam, Emak?" terdengar suara familiar diujung sana
Emak: "Sumuhun, saha ieu? Ti kantor Bupati?"
???: "Emak, ieu Abah, geus nepi di Garut, hahahahahaha!"
Emak: "... harr?..."
???: "Tos heula nya, geus bade rapat yeuh, Assalamualaikum"
Emak: "... Waalaikumsalam..."

Masih keheranan, emak menutup telepon... Bukannya beberapa waktu lalu ia melihat Abah masih jalan-jalan mengitari lapangan? Sore harinya Abahpun pulang bersama rombongan aparat desa dari rapat di kantor Bupati. Tapi kali ini bersama-sama naek oplet. (bay)

Wednesday, September 3, 2008

Resep keberhasilan menurut Mario Teguh

Ngutip MT di salahsatu episode Business Art:

"Keberhasilan datang dari mengerjakan apa yang harus dikerjakan, dan tidak mengerjakan apa yang tidak boleh dikerjakan"

Misalnya gw tau kalau saat ini harusnya beresin kerjaan anu, tapi bukannya dikerjain malah ngempi... nah siap2 aja keberhasilan yang gw idam-idamkan akan tertunda lebih lama lagi. Sedangkan kalau setiap saat selalu ngerjain yang harusnya dikerjain, instead of ngerjain yang nggak-nggak, biasanya keberhasilanpun otomatis akan menghampiri. Tidak berhasil? Belum! Keberhasilan itu ada waktunya; kalau tidak sekarang dan cepat-cepat, mungkin baru terjadi pada masa anak anda, atau mungkin keturunan anda generasi berikutnya. Intinya sih jangan malas memulai / berusaha hanya karena "ujung" perjalanannya belum kelihatan dimana.

Sedangkan terkait self-management, kesuksesan akan menyertai mereka yang niat, pikiran, dan tindakannya selaras.

Biasa? Ah kecanggihan bapak yang satu itu memang dalam menawarkan pemecahan masalah-masalah besar dengan solusi-solusi yang sederhana dan mudah dilakukan. (bay)

Friday, August 15, 2008

Komponen paling penting dari ide

Apakah bagian yang paling penting dari suatu ide?

TINDAKAN

Bahkan ide sederhanapun bisa jadi besar kalau dilaksanakan. Sedangkan ide brilliant sekalipun tidak akan berarti apa-apa kalau hanya disimpan dalam laci... baik itu laci meja, atau laci pikiran. (bay)

image dari: http://www.dosomething.org/

Monday, August 4, 2008

Merancang sendiri masa depan anda

Masih senada dengan perkataan Dilenschneider di postingan sebelumnya, adalah dari Mario Teguh:

"Sulit bagi anda untuk menemukan orang yang dalam rencana keberhasilannya ada rencana keberhasilan Anda. Maka anda harus merencanakan keberhasilan anda sendiri*"


Klop kan? Kalau mau masa depan sesuai harapan ya harus dirancang sendiri, nggak bisa bergantung pada orang lain! (bay)

*dikopi dari sini: http://businessart.multiply.com/journal/item/23

Tentang membuat sejarah hidup...

Salahsatu quote paling berkesan dari Robert Dilenschneider dalam bukunya "Power & Influence" adalah ini:
"Realize that you are making history, not just following it"
Seringkali kita merasa kalau hidup kita ini sudah ada yang mengatur... baik itu ayah, ibu, lingkungan, pendidikan, atau bahkan Tuhan sekalipun. Nggak, nggak salah koq, cuma, dikala kita dihadapkan pada pilihan untuk membuat gebrakan yang beresiko, atau go with the flow untuk main aman, sadarlah bahwa masa depan kita ini, kita yang menentukan! Bukan orangtua, keluarga, perusahaan, apalagi tetangga.

Kisah hidup kita bisa jadi mirip sekali dengan kisah hidup orang tua kita. Atau tokoh idola kita. Tapi ini tidak berarti bahwa suatu kisah hidup harus selalu berjalan sesuai dengan kisah hidup yang sudah pernah ada. Mencari panutan dan model boleh, tapi jangan dijadikan batasan. Saat pilihan untuk 'keluar jalur' itu ada, dan dirasa akan membawa manfaat yang baik bagi kehidupan kita, jalankan! Buatlah jejak kisahmu sendiri nak, jangan sekedar ngekor. Jangan mentakdirkan diri dengan suatu nasib, sebelum Tuhan sendiri menakdirkannya (dan menyegelnya).

Akankah Sushi tercipta kalau di masa silam tidak ada chef yang berani 'keluar jalur' dan menyajikan Sashimi dengan nasinya dalam satu tangkap supaya mudah dicomot? (Sandwichpun konon muncul karena alasan yang sama). Tukang baso tahu (JKT: siomay) di Kopo yang iseng menggoreng dagangannya, bukan sekedar dikukus, sehingga tercipta hidangan "Batagor" yang jadi salahsatu hidangan khas Bandung? Dunia penuh dengan contoh dari mereka yang "melawan nasib" dan berhasil... Mereka yang berani membentuk "sejarah" hidup mereka sendiri, alih-alih menyerahkan kisah hidupnya untuk dituliskan oleh orang lain. (bay)