Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Monday, September 15, 2008

Cerpen Legenda: Abah Express, part 2

Di suatu hari yang mendung, di dusun Singajaya, telepon berdering di kantor Lurah, mengabarkan kalau Abah diminta untuk hadir segera di kantor Bupati Garut untuk rapat terkait suatu urusan pemerintah. Maklumlah, walaupun bukan aparat desa, tapi Abah adalah salahsatu sesepuh di desa Singajaya ini, jadi pendapat dan masukannya akan sangat bermanfaat.

Sayangnya, Abah siang itu banyak keperluan. Padahal jarak Singajaya - Garut yang sekitar 90 Km itu mengharuskan ia untuk ikut oplet terakhir siang hari itu, yang sudah siap-siap berangkat. Menunggu Abah yang tak kunjung datang, oplet pun akhirnya berangkat beserta para undangan rapat Bupati siang itu, meninggalkan Abah.

Sekitar 30 menit sebelum rapat dimulai, Abah akhirnya tiba kembali ke rumah, disambut Emak yang keheranan mengapa ia masih ada disana padahal ditunggu rapat oleh Bupati di Garut. Menyadari pentingnya rapat ini, Emak agak kecewa mendapati Abah tidak bisa ikut rapat. Bagaimana tidak? Pakai oplet saja butuh waktu dua - tiga jam? Tapi Abah terlihat tenang saja. Iapun kemudian berjalan keluar rumah, meninggalkan Emak yang sedang masak. Emak pun merasa sedikit lega karena menduga suaminya tersebut akan bergegas berangkat ke Garut, telat pun tidak apa-apa deh yang penting sampai dan ikut rapat.

Alangkah kagetnya emak ketika beberapa waktu kemudian ia melihat Abah malah sedang jalan-jalan keliling lapangan di dekat rumah, bukannya bergegas berangkat ke Garut. Sedikit kesal, Emak meneruskan masak sambil bersungut-sungut sendiri.

Tak berapa lama kemudian, seorang utusan kantor Lurah datang ke rumah Emak, dan menyebutkan ada telepon untuk Emak dari Garut. Emak pun waswas, khawatir itu telepon dari Bupati yang menanyakan mengapa Abah tidak datang-datang juga. Tapi dilihat di lapangan, Abah sudah tidak terlihat... Rencanapun disusun dalam benak Emak, untuk mengabari kalau Abah sedang dalam perjalanan dan mungkin akan datang telat. Emak pun bergegas jalan menuju kantor Lurah. Begitu sampai, iapun mengangkat telepon...

Emak: "... halo? Assalamualaikuum!" 
???: " Waalaikumsalam, Emak?" terdengar suara familiar diujung sana
Emak: "Sumuhun, saha ieu? Ti kantor Bupati?"
???: "Emak, ieu Abah, geus nepi di Garut, hahahahahaha!"
Emak: "... harr?..."
???: "Tos heula nya, geus bade rapat yeuh, Assalamualaikum"
Emak: "... Waalaikumsalam..."

Masih keheranan, emak menutup telepon... Bukannya beberapa waktu lalu ia melihat Abah masih jalan-jalan mengitari lapangan? Sore harinya Abahpun pulang bersama rombongan aparat desa dari rapat di kantor Bupati. Tapi kali ini bersama-sama naek oplet. (bay)

Sunday, June 25, 2006

Cerpen Legenda: Tamu Jangkung di Balong


Ti'ah dalam usianya yang masih balita duduk dengan tenang dipundak Abah*, sambil pandangannya menerawang kearah "balong gede". Dalam usianya itu, belumlah ia bisa mengerti betul perbedaan antara "balong", kolam ikan yang biasa didapati di kampung-kampung, dengan badan air maha luas yang orang sebut sebagai "laut".

[*Abah: Panggilan lain untuk "bapak" dalam Bahasa Sunda]

Ti'ah dan abah saat itu sedang berada di pesisir pantai Pameungpeuk. Bersama beberapa orang pengangkut barang, mereka hampir mencapai tujuan akhir setelah jauh berjalan dari Garut. Di kisaran tahun 1916 itu, jalan setapak yang mereka lalui bisa menghemat perjalanan hingga satu-dua hari, dibanding jika harus mempergunakan jalan memutar biarpun sambil menumpang pedati.

Tak lama kemudian Ti'ah melihat sesuatu yang menarik perhatiannya diarah laut, dan pupil matanya pun membesar.

Ia lalu menepuk lengan abah yang sedang memeganginya dan berbicara dekat pada telinga abah... "Abah, itu saha di balong?" (Bapak, itu siapa di kolam?)

Abah menengok kearah telunjuk tangan Ti'ah yang mengarah ketengah laut, dan ia pun terhenyak kaget...

Sambil membaca istighfar, ia pun menginstruksikan pada Ti'ah untuk diam, serta menginstruksikan rombongan untuk untuk tidak berbincang-bincang lagi dan berjalan lebih cepat... keringat dingin terasa keluar dari pundak abah...

Dan walau tidak begitu mengerti mengapa ia harus diam, Ti'ah duduk dengan tenang sambil terus memandangi sang "tamu" di balong... sesosok tubuh hitam legam dengan rambut kribo yang melebar seperti "ayakan" (tampi beras) di lepas laut sana...

Sosok yang terlihat berdiri agak jauh dari batas pantai, terendam air laut hingga ke batas pinggang, dengan badan yang menjulang tinggi dari permukaan laut. Sosok misterius ini terlihat berulang kali membungkuk kearah ombak yang datang...

Segera setelah mereka meninggalkan daerah pantai tersebut dan masuk ke daerah hutan, abah pun bisa bernapas lega... lalu di desa tujuan mereka, mereka mengadakan acara syukuran atas keselamatan mereka. Saat itulah Ti'ah bisa mendapat penjelasan yang cukup memuaskan... abah bilang kalau mereka saat itu sangat beruntung, karena angin sedang mengarah dari laut kedarat dan bukan sebaliknya... jikalau tidak, entah apa yang akan terjadi seandainya raksasa itu mencium bau mereka.

foto dari: http://www.stevequayle.com/Giants/charts/charts.html

further reading:
+ http://www.mysteriousworld.com/Journal/2003/Summer/Giants/
+ http://ourworld.compuserve.com/homepages/dp5/ape2.htm
+ http://media.mnginteractive.com/media/paper36/0105bigfootgraf.gif
+ http://www.mtblanco.com/html/tour.html

Saturday, June 24, 2006

Cerpen Legenda: Abah Express


Emak mengeluh pada Abah, yang siang itu baru pulang dari mengerjakan suatu urusan di kantor Kepala Desa Singajaya, Garut. Katanya, laki-laki itu harus sigap untuk menyediakan lauk bagi makan, apalagi waktu itu nasi telah hampir matang dan waktu hampir beranjak ke tengah hari. Suasana memang sedang agak genting dengan beredarnya kabar bahwa "Gorombolan" (Pemberontak DI/TII di daerah Garut) mulai beraksi menyerang kampung seberang. Tapi yang namanya dapur, tidak ada alasan untuk tidak ngebul.

Abah yang tidak banyak cakap lalu mengajak ponakannya yang masih kecil, Asep untuk berjalan-jalan. Beberapa jauh dari rumah mereka, Abah bilang kepada Asep kalau mereka akan menempuh perjalanan jauh, namun ada beberapa persyaratan yang harus Asep penuhi atau mereka akan celaka. Diantara peraturan tersebut ialah Asep dilarang membuka mata dan bercakap-cakap selama perjalanan mereka nanti.

Sambil menyeka ingus dari hidungnya, Asep kecil pun menganggukkan kepala tanda setuju, dan Abah pun memangku Asep di pundaknya. Asep bingung, kemanakah mereka akan bepergian? Naek oplet ke Garut? Jalan kaki ke kampung seberang sungai? Tapi kenapa koq Abah wanti-wanti seperti itu?

Segera setelah mereka yakin tidak ada orang disekitar, Abahpun memberi isyarat. Asep lantas menutup mata dan Abah pun berjalan cepat sambil terasa agak melayang-layang... atau begitulah kurang-lebih yang Asep rasakan dari posisi duduknya di pundak Abah.

Beberapa saat kemudian Abah memperbolehkan Asep untuk membuka mata, dan mereka pun meneruskan jalan kaki ke pasar ikan yang terlihat di kejauhan... udara terasa lebih panas dari biasanya, juga lingkungannya terlihat tidak familiar. Pasar yang Asep saksikan sepertinya bukanlah pasar di Garut, apalagi di Singajaya, kampung tempat mereka tinggal.Tapi yah sudahlah, mungkin ada pasar dadakan disekitar kampung, yang penting percaya saja sama kolot (orang tua) pikirnya...

Setelah selesai berbelanja, mereka lalu menempuh perjalanan yang sama dan Asep pun kembali diminta untuk mematuhi apa yang telah Abah perintahkan tadi untuk perjalanan mereka.

Beberapa saat kemudian Asep merasa Abah mulai berjalan seperti biasa, dan iapun diperbolehkan untuk membuka mata. Ternyata mereka telah kembali berada di jalanan desa dekat hutan tempat mereka tadi berangkat, dan udara kembali terasa sejuk... Sewaktu bertemu Emak, Abah pun menyerahkan ikan yang mereka beli di pasar tadi, sambil berujar dengan bangga; "tah dengeun na, ti Cirebon" (nih lauknya, dari Cirebon).(bay)

foto dari: http://www.ethereal3d.com/

Cerpen Legenda: Hari Terlarang di Pameungpeuk


Suasana laut hari itu memang aneh... laut ditepi pantai ini terlihat tenang dan aman untuk melaut mencari ikan, namun ombak kecil datang saling silih silang beradu di pantai, dan mereka terlihat seperti memiliki sirip-sirip kecil, bukan pemandangan yang biasa Apa* temui manakala ia berangkat memancing di laut ini, di tempat dinasnya yang baru di Pameungpeuk. Dalam masa pemerintahan Presiden Soekarno ini, ia telah dialihtugaskan beberapa kali untuk mengawasi perkebunan, namun untungnya semua masih di daerah Garut Selatan, dekat dengan kota tempat ia berasal.

[*Apa (bapa) : panggilan akrab kepada ayah, dalam bahasa Sunda]

Tanpa peduli dengan kenyataan bahwa hari itu tidak ada nelayan yang melaut, Apa dan ajudannya pun berangkat kelaut dengan perahu kecil yang mereka dayung berdua...

Setelah lama memancing tanpa hasil sedikitpun, mereka lalu beranjak untuk kembali ke pantai karena laut pun tidak beranjak ramah... Disimpulkanlah, hari itu memang hari yang buruk untuk memancing...

Ketika perahu telah mendekati pantai dan tinggal beberapa kayuh lagi untuk mendarat, Apa mendapat perasaan aneh seperti ada yang mengawasinya, dan dengan penasaran ia pun menengok ke sekitar perahu untuk mengecek...

Apa yang ia lihat muncul dari laut didekat bagian belakang perahunya lantas membuat mukanya pucat dan secara refleks ia pun meloncat dari perahu ke air laut selutut dan berlari kearah pantai...

Berlari kencang melewati sepeda yang tadi membawanya ke pantai ini, melewati hutan yang tadi mereka lalui dalam perjalanan ke pantai, dan baru berhenti setelah bertemu dengan rumah penduduk terdekat...

Sambil terengah-engah dan lututnya masih gemetaran, Apa menenangkan diri... namun setelah sadar kalau ajudannya masih tertinggal di pantai ia pun dengan khawatir beranjak kembali kearah pantai... Ditengah perjalanan menuju pantai, ia mendapati ajudannya sedang terduduk di dekat pepohonan sambil terlihat gemetaran dan berusaha untuk menenangkan diri... Sang ajudan sayangnya (untungnya?) tidak melihat apa yang Apa lihat, karena terlalu tegang untuk membalikkan badan setelah melihat Apa terbirit-birit melompat keluar dari perahu... ia juga sebenarnya memiliki perasaan sama seperti Apa; seperti ada yang mengawasi...

Setelah mengecek situasi dan kondisi dari ajudannya, mereka berdua lalu menenangkan diri sejenak sebelum kembali ke desa...

Di desa, ketika orang-orang diceritakan mengenai pengalaman yang baru dialami, ternyata mereka tidaklah terlihat terlalu terkejut... karena menurut penanggalan mereka, hari itu ialah hari larangan untuk turun melaut, makanya tidak ada satu pun kapal nelayan yang pergi dari pelabuhan... Apa yang masih terhitung penduduk baru, tentu saja tidak mengetahui hal ini.

Apa tersenyum kecut... sambil dalam pikirannya terus terbayang-bayang mengenai bayangan hitam sebesar batang pohon kelapa yang mencuat dari laut beberapa meter di belakang perahu mereka tadi, dengan sepasang mata yang menatap dingin dipuncaknya... (bay)

foto dari http://www.wilsonsalmanac.com

Monday, January 31, 2005

Bayu Mencari CD

INT. TOKO CD SOFTWARE - SIANG

BAYU mendekat ke counter kasir,
membawa empat buah CD yang ia cari susah payah. Di counter ada seorang
kasir wanita dan seorang anak muda berpenampilan grunge.

Bayu: "Satu disk nya berapa mbak?"
Kasir: "Duapuluh ribu pak"

Bayu mengangguk lega karena berarti ia masih bisa membeli CD lain yang ia butuhkan.

Bayu: "Oke kalau gitu, bisa minta bon?"
Kasir: "Oh gak bisa pak!"

Bayu mengerutkan kening, pertanyaan yang awalnya terlontar untuk basa-basi ternyata menjadi pertanyaan yang penting.

Bayu: "Hah?? Ngga bisa?
Kasir: "Kita sekarang GAK BOLEH ngasi bon pak"
Grunge: "Kalau ada apa-apa bawa aja balik kesini pak, nanti dituker"
Bayu: "Eh bukan gitu, saya perlu buat bukti ke kantor, bisa bikinin gak?"

Kasir tersenyum kecut, atau tersenyum kecil sambil melengos.

Kasir: "Ya tetep ga bisa pak, pokonya sekarang gak pake bon"
Bayu: "Yah, gimana dong?"

Grunge menggeleng-gelengkan kepala sambil menyeringai cuek.

Grunge: "Ga bisa pak"

Bayu cemberut, raut mukanya dingin. Bayu mengerutkan bibirnya, lalu kembali kearah display-display CD yang digantung. Ia berpikir untuk mencari toko CD lain untuk mencari judul yang sama. Namun ia juga berpikir seandainya tidak dapat, dan ia terpaksa harus kembali ke toko ini, maka jangan sampai harus melakukan pencarian ulang yang melelahkan.

Bayu lalu memikirkan cara untuk menyimpan pilihan-pilihan CD nya tersebut, tanpa harus meminta bantuan penjaga atau kasir karena ia sudah agak muak dengan peraturan baru yang aneh tersebut dan ketidakmampuan kasir untuk mencari jalan keluar.

Bayu lalu melihat ke sekeliling dan mencari judul CD yang tidak terlalu populer, untuk menyembunyikan CD
yang sudah ia pilih tersebut. Setelah melihat sekeliling lagi untuk mengecek apa ada orang yang memperhatikan, Bayu lalu beranjak untuk mengambil CD dari display, menyembunyikan CD pilihannya di bagian belakang, dan ditutup kembali dengan CD asli dari deretan tersebut. Beres. Bayu lalu beranjak keluar toko dan melanjutkan pencariannya.

INT. TOKO CD LAIN - SIANG

Bayu muncul dari pintu masuk dan agak terbelalak melihat ruangan yang agak kosong. Rupanya koleksi CD di toko ini tidak terlalu banyak.

Bayu lalu dengan berat hati beranjak menuju deretan display CD di salahsatu dinding sambil masih menyesali keadaan. Seandainya saja toko CD tadi menyediakan bon, tentu ia tidak usah bersusah payah mencari di tempat lain. Apalagi ia menyadari kalau di Ratu Plaza ini hanya terdapat sedikit saja toko yang menjual CD.

Di TV di salahsatu sisi ruangan, sedang menyiarkan acara siraman rohani bersama Aa Gym. Berdasarkan informasi yang Bayu dengar belakangan ini, pandangannya terhadap figur kharismatik ini agak menurun. Namun walaupun demikian, apa yang Aa Gym lakukan dalam berusaha mendidik ummat Islam tetap
mendapat acungan jempol dan respect.

Aa Gym (VO): "...coba ingat saja ayat ini..."

Aa Gym lalu membacakan salah satu ayat dari surat Al-Qur'an.

Aa Gym (VO): "Fa innama al usri yusron, innama al usri yusro... Fa idza faraghta fan(g)shob wa illa robbika farghob"

Bayu mendengarkan dengan serius, ia ingat betul arti ayat itu karena ayat itulah yang sering ia bacakan pada ibunya saat beliau letih menghadapi masalah yang muncul kian berganti.

Aa Gym (VO): "Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, setelah kesusahan itu ada kemudahan. Jika telah selesai mengerjakan satu pekerjaan, lekas kerjakan pekerjaan yang lain. Ya, ibu-ibu dan bapak-bapak?..."

Bayu kemudian memikirkan mengenai seluruh kejadian di hari sebelumnya, kejadian yang menyebabkan ia berada di Ratu Plaza hari Minggu siang itu, saat seharusnya ia beristirahat di rumah.

Bayu berpikir untuk mencari hikmah dari masalah yang ia hadapi ini... Masalah yang muncul akibat keteledoran.


EXT. TOKO CD SOFTWARE "SHALOM" - SIANG

Bayu beranjak memasuki pintu toko dan kembali tergelincir. Hal yang sama persis dengan kejadian sebelumnya waktu Bayu pertama kali memasuki toko ini sekitar lima limabelas menit lalu.

Bayu berusaha terlihat cool dan tidak melirik kearah kasir yang mungkin saja tersenyum ditahan. Bayu lalu beranjak ke bagian DVD software.

Koleksi di toko ini sebenarnya tidak terlalu lengkap, namun dari sedikit toko di plaza ini, ternyata hanya toko ini yang memiliki alternatif software yang dibutuhkan, dan mungkin mereka mau menuliskan bon penjualan.

Setelah menimbang-nimbang dan mencari-cari, Bayu lalu beranjak ke kasir membawa sebuah DVD berisi rangkaian software antivirus, plus sebuah CD berisi rangkaian program maintenance komputer. Sambil menunggu kasir menuliskan bon, Bayu lalu membolak-balik bundel CD yang dipajang di meja kasir dan menemukan satu judul lain yang ia rasa perlu dibeli.

Bayu membolak-balik CD untuk mencari data tambahan dari software yang dimaksud. Setelah membaca beberapa kalimat deskripsi dibelakang CD, Bayu megangguk-angguk dan menunjukkan wajah puas. Bayu menunjukkan bundel CD yang dimaksud ke kasir.

Bayu: "Ini harus dibeli semua mbak?"

Kasir terbelalak, menunjukkan wajah serius.

Kasir: "Oh nggak pak, itu cuma dikelompokin berdasarkan jenis, gak usah semuanya dibeli pak"
Bayu: "Ooooh gitu..."

Kasir tersenyum menyeringai.

Kasir: "Tapi kalau mau dibeli semuanya juga gapapa pak"
Bayu: "Yeee.... kali aja, nggak koq, saya cuma butuh yang ini"

Bayu menunjukkan CD yang dimaksud. Kasir mendekatkan muka untuk melihat. Ia lalu mengambil bundel CD dari tangan Bayu dan menggunting judul CD yang Bayu pilih.

Setelah menuliskan bon terpisah, ia lalu menyerahkan kantong plastik hitam berisi dua CD dan satu DVD, seraya mengucapkan terimakasih.

Kasir: "Terima kasih pak"
Bayu: "Garansinya bisa lebih dari seminggu mbak?"
Kasir: "Seminggu aja pak"
Bayu: "Oh, oke, makasih ya"

Bayu lalu beranjak keluar toko dan memasukkan kantong plastik hitam berisi CD, kedalam tas pinggangnya. (byms)