Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

Friday, May 13, 2005

Proses Berpikir


baca/dengar/lihat/rasa >> perolehan informasi >> mengingat/mencatat
>> menyimpulkan >> mengetahui >> mengerti >> memahami >> mencipta




">>" disini adalah proses berpikir.



Secara teknis, dari semua hal yang kita baca/dengar/lihat/rasa, tubuh dan pikiran kita menyerap informasi. Disini, terjadilah proses perolehan informasi. Dari informasi yang kita serap tersebut, lantas kita proses lebih lanjut untuk diingat/dicatat (registering) dalam "bank data" pikiran, untuk lebih lanjut diolah menjadi suatu kesimpulan. Kesimpulan yang didapat membuat kita "mengetahui" (knowing)
bahwa serangkaian informasi yang diterima sebelumnya ternyata berkaitan
dan menunjukkan kalau sesuatu sedang terjadi. Dari serangkaian "tahu",
beberapa diantaranya ternyata terjadi berulang, atau walaupun jarang
namun kita anggap menarik, sehingga kita mulai memberi perhatian
khusus. Dari penelitian lanjutan akah hal yang diberi perhatian khusus
ini, lantas tercetus suatu pengertian (understanding).
Jika ternyata alam pikiran kita berhasil menemukan keterkaitan antara
pengertian ini dengan hal lainnya, maka pengetahuan kita akan semakin
mendalam, membuat kita memahami (comprehending)
dengan baik semua seluk-beluk dari hal tersebut. Setelah memahami
mengenai banyak perkara dan komponen-komponennya, barulah kita sampai
pada kemampuan untuk mencipta.



Karena penciptaan bukanlah bagai petir di siang bolong, tapi terjadi karena pikiran kita menemukan suatu konfigurasi baru atas serangkaian elemen yang sebenarnya sudah terdapat dalam ciptaan lain yang pernah ada.



Hmm... koq narasinya malah bikin pusing ya?





Thursday, May 12, 2005

Menu Sarapan Pagi Ini: Hati, Bela diri, Agama

Masalah Hati

Jadi orang tuh harus bisa milah-milah masalah, mana yang harus pake hati, mana yang harus sabodo teuing (peduli amat). Di satu sisi kalau kita kerja memakai "hati", maka biasanya kita akan menghasilkan yang terbaik. Tapi di sisi lain kalau apapun kita hadepin dengan hati, bisa berakibat jantungan dan stress... Kalau ada tugas mendesak yang kita merasa gak sesuai dengan situasi hati, pasti ngerjainnya juga berantakan... Saat ada orang gendheng yang keliatannya gak bisa menghargai perbuatan kita, lantas hati kita ngerasa sakit... Itulah akibatnya kalau gak bisa milah mana yang masuk porsi "hati", porsi "hati+pikiran", dan porsi "pikiran" saja. Gawat atuh euy kalau semua hal dimasukin hati...

Untuk mengatasi masalah malas dan gak suka (gw banget deh), salahsatu artikel yang pernah gw baca menganjurkan bahwa dalam ngelakuin hal-hal yang wajib, sebaiknya berlaku pepatah "You don't have to like it, just do it". Kebetulan contohnya adalah belajar beladiri... Dan si pemberi wejangan adalah instruktur salahsatu cabang beladiri yang berpengalaman dua puluhan tahunan melatih.

Beladiri

U see... dalam beladiri, kecakapan itu tidak bisa didapat dalam sehari-dua hari latihan (and so is the case with the rest of the wordly skills). Seringkali seorang praktisi beladiri mundur ditengah jalan karena malas latihan, entah karena faktor jarak, biaya, teman, ketidak-cocokan, kurang visi kedepan, dll. Tidak bisa dipungkiri, tapi tidak bisa juga dibiarkan. Semua hal yang berakhir di tengah jalan tidak akan membawa manfaat yang "penuh".

Gak akan terkuasai ilmu sebenarnya dari beladiri, kalau baru sampai tahap dasar ("Yukyusha" kl di beladiri Jepang). Nggak juga kalau udah sampai dapet blackbelt...

Lho koq?

Hmm... gini... ada yang tau arti filosofis dari "black belt", atau "ban hitam" itu sendiri? Karena kerasnya latihan yang diperlukan untuk mencapai taraf ini, banyak diantara kita yang merasa bahwa black belt adalah tahap tertinggi dari dunia beladiri, sehingga cenderung memberi arti khusus pada level yang satu ini.

Walaupun agak benar dalam hal "tahap tertinggi" beladiri (diatas blackbelt gak ada belt lain, kecuali Capoeira afaik), tapi apa kita sadar arti sebenernya dari level ini? Padahal, ban hitam itu diberikan pada mereka yang semata-mata dianggap sudah menguasai teknik dasar beladiri, nothing more! Ban hitam menyatakan kesiapan dari si bersangkutan untuk belajar beladiri dengan benar.

Inget bagaimana Musashi yang kuat bukanlah Musashi ditahap awal yang membunuh semua yang melawannya, tapi Musashi yang memilah mana yang harus ia lawan mana yang tidak?

Atau bagaimana Kenji Goh yang justru malah murung dan negatif setelah mengalahkan musuh bebuyutannya, Tony Tan? Dan mempelajari kungfu yang dibilang sebagai kungfu terbaik di dunia?

Itu semua terjadi karena sebenarnya tujuan akhir belajar beladiri bukanlah dalam penguasaan teknik dalam mengalahkan musuh, tapi justru bagaimana "mengalahkan diri sendiri dan memahami soal hidup". Dalam perspektif ini, ban hitam justru adalah awalnya pelajaran mengenai beladiri...

Agama

Begitu juga halnya dengan Agama (he he he, kesini lagi ternyata!). Dalam agama apapun, ada serangkaian bentuk ibadah yang wajib dilakukan ummatnya dengan rutin. Di sisi lain, banyak yang merasa dengan telah
memenuhi kewajiban2 ibadah tersebut, yang bersangkutan telah menjadi seorang "saint" atau "malaikat". Di sisi yang berlawanan, banyak yang merasa ibadah-ibadah rutin ini sebagai suatu beban, dan hal yang sia-sia, seperti... "Ah gw rajin sholat juga nggak kaya-kaya!"

Terlepas dari ada atau tidaknya kaitan langsung antara rajin beribadah dengan banyaknya harta, kita seharusnya menyadari kalau Agama itu panduan MORAL, bukan panduan dagang. Tuhan kelihatannya percaya bahwa mahluk manusia ini harus diperkuat landasan moralnya, barulah kemudian mereka bisa menjadi manusia yang paripurna; utuh dan "sempurna". Dan kalau seorang manusia sudah sampai dalam tahap paripurna, baru deh akan keliatan kenapa koq manusia itu dianggap-Nya sebagai mahluk paling mulia, yang Malaikat saja diharuskan sujud kepadanya (kisah Adam AS).

Dalam tahap ini, hal duniawi lainnya bukanlah lagi menjadi masalah bagi si manusia. Mau nggak jadi orang yang nggak punya masalah duniawi? Atau sekurang-kurangnya, punya lebih sedikit masalah duniawi? Ya yang khusyuk (serius) dong sama agama mu!

Nahh... dalam membimbing manusia kearah kesempurnaan ini, maka disusunlah serangkaian bentuk ibadah yang secara sadar or nggak sadar, membangkitkan pemahaman dan penguasaan manusia akan hal MORAL tadi. Hanya saja si manusia nya yang nggak sadar kalau dibalik semua rutinitas ibadah tersebut terdapat desain dari sebuah PROGRAM PELATIHAN.

Ingin ngerti rahasia dari sholat? DO IT REGULARLY. Dalam sholat itu terkandung suatu self-enforcement yang berguna dalam memantapkan hati. Coba resapi tiap kata tiap kalimat yang diucapkan, seakan-akan kita sedang berbicara langsung dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan serangkaian kata yang diucapkan dengan segenap jiwa, dengan bersungguh-sungguh...

Sewaktu kita menghadapkan diri dihadapan-Nya, berbicara kepada-Nya dengan serangkaian kata sumpah dan janji... pasti deh jadinya merinding... hiiii...

Sesudah itu terus maksiat lagi? Mo mulai sholat aja ragu karena ngerasa diri terlalu bejad? Give it up... manusia itu sarangnya dosa.... sholat itu bukan semata-mata untuk mereka yang beriman, justru lebih banyak manfaatnya bagi mereka yang merasa kurang kuat imannya. Karena itu cukuplah komitmen kita dimulai dengan "kalau waktunya sholat, lakukan", percaya atau nggak, setelah itu hal-hal disekitarnya akan mulai meluruskan diri secara otomatis.

Butuh ketenangan jiwa? Dekatkan diri dengan Pencipta mu.

Sholat itu bukanlah "konsumsi" nya mereka yang sudah merasa beriman kuat dan paham baik seluk-beluk agama, justru buat mereka yang merasa ingin memahami Agama.

Sholat itu bukan sesuatu yang eksklusif, justru sesuatu yang berada di level grassroot.

Sholat itu bukan lauk pauk mahal yang kita ngerasa gak layak dapetin walaupun diberi gratis, justru sholat itu justru adalah piring tempat kita makan.

Epilog

Jadi mari kita round-up a bit... Sholat itu, adalah salahsatu teknik dasar yang harus dikuasai kalau ingin meraih "blackbelt" dalam hidup (Islami). Teknik dasar ini akan membawa manfaat kalau dilakukan sepenuh hati (khusyuk), sedangkan untuk memulainya, cukup dengan berpedoman pada "You don't have to like it, just do it".

Hmm... koq akhir-akhirnya ke masalah ini lagi ya..? Ada yang ngerasa kesindir nggak? Selain dari gw sendiri tentunya? (byms)

Wednesday, August 25, 2004

Overcoming fears of death the Viking way

Somehow I still find "The 13th Warrior" amusing, despite the fact that it had made some of my friends think I'm suicidal.

But the movie managed to sneak in some believes I've tried to belly for some times; why should we not fear death.

The movie tells about the story of an Arab royal who was politically banished to the Northern lands and eventually met the Vikings. The Vikings at the moment were facing one of the most horrible beast of all time; a band of ancient Evil that should not be named. Bulliwyf
(Beowulf) was to lead his tribe's band of twelve warriors to fight the Evil. During the forming of the band, in the end the soothsayer said, that God wanted their last men, to be the Arab...

And so they got involved in the journey to pursuit the Evil. And also we got a glimpse of look at how the Vikings life. It was their view of death that amazed me. Took into notice that it was just a movie, but what was shown and said somehow made sense to me.

During the days of the Islamic government forming, the Moslems are feared for their courage and strong will in the fight, as if they do not fear their own death. I think it's a result from their trust in God and the Holy Prophet, that they're doing the right thing. They're promised Heaven, and so they pursue the promise with full-heart.

As with the Vikings, they have this believe that they're off to a better place when they die. They believe they'll enter the halls of Valhalla, where their father, mother, brothers, sisters, and the early members of their people will bid them to take their place among them. In the halls of Valhalla, where the brave may live forever. Thus
affected are their way of living.

There were sayings in the movie like:
"Hurry to meet Death before your place is taken" - Herger the Joyous
"The Father wove the skein of your life a long time ago. Go and hide in a hole if you wish, but you won't live one instant longer. Your fate is fixed. Fear profits a man nothing". - Herger the Joyous
True? I felt that I am as a moslem share the common believe... In Islam we've been told that our fate is already fixed ever since we're still an embryo inside our mother's womb. That include the amount of wealth
we'll have, and the amount of days we'll have. This has borne some related believes. I.e. that no matter what we'll do, if it not ours then we'll not gonna get it. And no matter how carefull you are, you can never cheat on your own death, or vice versa; no matter what you do, if it's not the time for you yet, then you wont have your death. So there is no need of fear.

But attached with the believes also are the rules. Ijtihad in Ikhtiar: the maximizing of our efforts in pursuing the best result of our actions. Sabar (patience): not rushing things or loosing faith when troubles and obstacles arises, and Tawakal (faith): Believe in God that every result is for the best of ourselves.

And surely, there are also restrictions that apply, which some I believe are also common among other God's descended religion. In example is about the damnation of suicide, or any other attempts at ending your own life. So that we know eventhough we do not know about our fate, it's not up to us either to decide when!

Those views of our fate are the basic believes that based the past glory of the moslems, and should also based our live at present time. In doing our work we should aware that there will not be a thing happen upon us, that is not in God's will, or that is not good for us. But also take into concern that we've done the best that we can do.

Death will visit us when it's the time for us to go. By then, all that matters is what we've left behind, which is how we lived our life. So what's really important now is that we strive to make the best of our life... and not busy fearing how or when we would "go".

So it's true, fear profits a man nothing...

foto: © 1999 Touchstone Pictures. All rights reserved.