Monday, July 19, 2010

Kemampuan Extra Sensory Perception (ESP) - Perlukah Dipelajari?

Tadi pagi nggak sengaja liat salahsatu acara di AXN Beyond, mengenai kontes paranormal di AS sana. Jadi sistemnya pake eliminasi mirip idol-idolan; tiap episode merupakan pembabakan mulai dari penyisihan, semi final, dan final. Untuk masing-masing episode terdapat tantangan yang berbeda-beda; mulai dari mencari seorang anak yang bersembunyi di padang yang luas, menebak dari lima ruangan, ruangan mana yang nggak ada orangnya, dan merasakan koneksi antara kedua orang.

Dari empat psychic yang jadi kontestan, ternyata masing-masing punya "tools" yang berbeda-beda dalam menjawab tantangan, tapi masing-masing memang punya bidang tertentu yang mereka paling kuasai.

Misalnya ada satu peserta wanita yang mengandalkan intuisi dan visualizing; mencari informasi berdasarkan perenungan (mirip dukun menunggu wangsit turun), dan dia bisa menebak dengan tepat ruangan mana yang kosong berdasar penglihatan yang ia terima waktu meditasi sebelum tes dimulai. Ia juga bisa membaca dengan cukup baik koneksi antara kedua orang yang dijadikan obyek pembacaan, melalui perenungan dan menunggu informasi datang kepada dirinya.

Ada juga peserta lain yang mengandalkan kemampuannya membaca karakter seseorang dari sentuhan; yang mana kurang berhasil diaplikasikan pada saat tes ruangan kosong, karena ia kurang bisa menangkap baik feeling dari para subyek yang ditempatkan di ruangan-ruangan tersebut. Ia berhasil menebak satu ruangan memiliki isi, dari perasaan "joyful" yang dimiliki orang di dalam ruangan tersebut (yang memang diatur moodnya supaya gembira dengan mendengarkan musik-musik yang riang melalui ear phone). Namun ia salah menebak ruang mana yang kosong; adapun ruangan yang kemudian ia pilih, ternyata berisi seseorang -- yang memang mengatur emosinya supaya "kosong" dengan cara bermeditasi!

Ada juga satu peserta lainnya yang gagal menangkap impresi yang kuat dari masing-masing ruangan, dan akhirnya ia mencoba melakukan teknik "remote viewing" dengan membayangkan dirinya melayang diatas kelima buah ruangan tersebut dan menerawang isinya (ruangan2nya memang tanpa atap); ia sempat menangkap kesan kosong yang mirip antara ruangan 1 (jawaban benar) dan ruangan 4. Namun karena tidak yakin dengan teknik yang baru kali itu ia pakai tersebut, maka ia memilih jawaban bukan dua-duanya, padahal nyaris benar.

Beberapa hal yang menarik dari pertunjukan tersebut:
  1. ESP ada dalam beragam bentuk, dan ada beragam cara maupun pendekatan untuk memecahkan masalah yang sama
  2. Rata-rata cenayang (psychic) merasa memiliki kemampuan ESPnya secara alamiah karena bakat, bukan pembelajaran
  3. Bahkan yang mengaku cenayang terlatih sekalipun, tidak selalu bisa membaca informasi yang mereka terima dengan akurat, atau menggambarkan dengan baik situasi yang terjadi sebenarnya
Terkait butir nomor 1, pada manusia kebanyakan maka ESP ini bisa jadi muncul dalam bentuk firasat, ilham, atau suatu dorongan yang kuat untuk melakukan suatu hal atau memilih suatu pilihan; sebagian kita mengenalnya sebagai "insting", sebagian lagi sebagai "feeling", tapi yang pasti sebagian besar mereka tidak bisa menjelaskan kenapa-kenapanya tapi merasa pilihannya sudah tepat. Pernah merasa demikian dan terbukti keputusan anda benar? Saya yakin anda pernah mengalaminya, setidaknya sekali - dua kali sepanjang hidup anda.

Terkait butir nomor 2, melihat karakteristik manusia kebanyakan yang tidak sama satu dengan lainnya; ada yang mancung, ada yang pesek -- dan walaupun mungkin bisa diakali dengan operasi plastik tapi secara genetik tidak ada perubahan -- maka kemungkinan besar kemampuan ESP seseorang juga sangat terkait dengan kualitas dari "sesuatu" dalam dirinya tersebut. "Sesuatu" yang masih misterius dan gampangnya diistilahkan sebagai "indera ke-enam" oleh masyarakat umum. Pada mereka yang memiliki kemampuan ESP yang kuat, maka dianggap ia memiliki indera ke-enam tersebut. Padahal kalau mengacu pada butir nomor 1, berarti setiap orang sebenarnya memiliki indera ke-enam ini, hanya kualitasnya berbeda-beda satu sama lain.

Terkait butir nomor 3, ada indikasi kuat bahwa informasi di dunia ESP ini bentuknya masih sangat abstrak dan belum terpetakan maupun tersimulasikan. Ini mirip seperti kisah ketika seorang raja di masa lampau membawa tiga orang ahli pikirnya ke dalam suatu ruangan gelap pekat dan dari posisi yang ditentukan diminta mengambarkan seperti apakah hewan asing yang ada di dalamnya itu; ahli pertama bilang, bentuknya seperti pohon kelapa; bulat menjulang tinggi, ahli kedua bilang bentuknya seperti ular, meliuk dan elastis, sedangkan ahli ketiga bilang, mahluknya tipis seperti daun! Padahal mereka semuanya menggambarkan gajah yang sama, hanya karena gajah bukanlah hewan yang mereka ketahui maka informasinya jadi simpang siur.

Jika gambar bisa diproduksi salinannya dengan cukup akurat, suara juga, bau, rasa, dan bahkan tekstur juga bisa direplikasi dengan cukup tepat, maka tidak demikian halnya dengan feeling atau perasaan. Kita rasanya sudah mengenal baik perasaan-perasaan semacam gembira, sedih, marah, takut dan lainnya terkait perasaan; karena masing-masing memiliki ciri yang khas. Namun demikian tak jarang juga kita salah mengartikan atau salah "membaca" perasaan orang lain karena satu dan lain hal, atau bingung membaca perasaan sendiri.... misalnya, "gue sebenernya cinta nggak ya sama dia?", atau "what is this feeling that I have?", yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita sendiri terkadang tidak mampu membaca dengan baik suatu informasi, jika informasi tersebut bukan sesuatu yang biasa kita hadapi.

Jika dengan perasaan diri sendiri saja terkadang kita masih merasa asing, maka bagaimana misalnya dengan bentuk informasi eksternal yang lebih kompleks? Informasi mengenai lokasi seseorang / suatu barang yang hilang misalnya? (yang obyeknya memang ada tapi lokasinya tidak diketahui si cenayang). Yang mana informasinya mungkin saja sudah diterima si cenayang, tapi tidak mampu ia kenali dan terjemahkan? Maka salahsatu challenge paling besar dari ESP adalah bagaimana kita bisa mengenali, membaca, dan menginterpretasikan arti dari informasi-informasio misterius yang masuk lewat jalur "indera ke-6" kita tersebut.

Maka dari itu pula banyak ramalan, yang paling terkenal dari Nostradamus sekalipun, selalu dibuat tidak dengan akurasi yang tinggi namun melainkan hanya serangkaian informasi yang "open ended" dan terbuka untuk interpretasi -- yang kemudian rawan perekayasaan hingga pemanipulasian oleh pihak tidak bertanggung-jawab karena sifatnya yang multi interpretatif tersebut.

Apakah kemampuan ESP ini bisa diasah? Sudah tentu, hanya saja tidak berarti otomatis kemampuan anda akan berkembang drastis. Seperti tertera pada butir nomor 3, mereka yang cenayang professional pun seringkali menemui kesulitan dalam mempraktikkan kemampuan yang mereka terus latih secara rutin tersebut. You might get better, but not necessarily mean good enough.

Apakah belajar meningkatkan kemampuan ESP itu buang-buang waktu? Buat mereka yang harapannya tidak realistik, iya! Dalam artian, jika mereka berharap dengan mengandalkan ESP maka masalah hidupnya tiba-tiba lenyap, tidak usah belajar buat lulus sekolah tinggal nebak-nebak jawaban a/b/c/d di lembar jawaban, atau berharap bisa mengetahui masa depannya sehingga tidak akan pernah bernasib buruk, dan selalu tepat nebak togel, maka mereka akan menghadapi masalah besar. Nostradamus bukan milyarder, dan banyak dukun kaya justru karena imbalan "jasa konsultasi" dari pada client yang percaya dengan interpretasi-interpretasi si dukun akan wangsit-wangsit yang konon diterimanya. Secara umum dan telah terbukti, keberhasilan hidup manusia itu jauh lebih erat hubungannya dengan usaha keras, bukan dengan wangsit.

Jadi apakah memiliki kemampuan ESP itu perlu? Lah... pada kenyataannya tiap-tiap dari kita sudah punya kemampuan ini secara alamiah koq?! Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Yang paling baik, karena pada kenyataannya kita diberikan banyak indera-indera oleh Yang Maha Kuasa, semuanya untuk digunakan secara simultan; selain panca indera ada juga akal pikiran plus hati (inikah indera ke-6 kita?), dua-duanya bekerja baik kalau digunakan secara simultan. Ilmu dan iman, knowledge dan hunch, informasi faktual dan insting, jika kedua komponen konkrit-abstrak ini berjalan berdampingan, maka biasanya akan muncul hasil yang luar biasa... karena manusia adalah mahluk yang multi-dimensi. (byms)

Image dari: http://science.howstuffworks.com/esp.htm

Kemampuan Extra Sensory Perception (ESP) - Perlukah Dipelajari?

Tadi pagi nggak sengaja liat salahsatu acara di AXN Beyond, mengenai kontes paranormal di AS sana. Jadi sistemnya pake eliminasi mirip idol-idolan; tiap episode merupakan pembabakan mulai dari penyisihan, semi final, dan final. Untuk masing-masing episode terdapat tantangan yang berbeda-beda; mulai dari mencari seorang anak yang bersembunyi di padang yang luas, menebak dari lima ruangan, ruangan mana yang nggak ada orangnya, dan merasakan koneksi antara kedua orang.

Dari empat psychic yang jadi kontestan, ternyata masing-masing punya "tools" yang berbeda-beda dalam menjawab tantangan, tapi masing-masing memang punya bidang tertentu yang mereka paling kuasai.

Misalnya ada satu peserta wanita yang mengandalkan intuisi dan visualizing; mencari informasi berdasarkan perenungan (mirip dukun menunggu wangsit turun), dan dia bisa menebak dengan tepat ruangan mana yang kosong berdasar penglihatan yang ia terima waktu meditasi sebelum tes dimulai. Ia juga bisa membaca dengan cukup baik koneksi antara kedua orang yang dijadikan obyek pembacaan, melalui perenungan dan menunggu informasi datang kepada dirinya.

Ada juga peserta lain yang mengandalkan kemampuannya membaca karakter seseorang dari sentuhan; yang mana kurang berhasil diaplikasikan pada saat tes ruangan kosong, karena ia kurang bisa menangkap baik feeling dari para subyek yang ditempatkan di ruangan-ruangan tersebut. Ia berhasil menebak satu ruangan memiliki isi, dari perasaan "joyful" yang dimiliki orang di dalam ruangan tersebut (yang memang diatur moodnya supaya gembira dengan mendengarkan musik-musik yang riang melalui ear phone). Namun ia salah menebak ruang mana yang kosong; adapun ruangan yang kemudian ia pilih, ternyata berisi seseorang -- yang memang mengatur emosinya supaya "kosong" dengan cara bermeditasi!

Ada juga satu peserta lainnya yang gagal menangkap impresi yang kuat dari masing-masing ruangan, dan akhirnya ia mencoba melakukan teknik "remote viewing" dengan membayangkan dirinya melayang diatas kelima buah ruangan tersebut dan menerawang isinya (ruangan2nya memang tanpa atap); ia sempat menangkap kesan kosong yang mirip antara ruangan 1 (jawaban benar) dan ruangan 4. Namun karena tidak yakin dengan teknik yang baru kali itu ia pakai tersebut, maka ia memilih jawaban bukan dua-duanya, padahal nyaris benar.

Beberapa hal yang menarik dari pertunjukan tersebut:
  1. ESP ada dalam beragam bentuk, dan ada beragam cara maupun pendekatan untuk memecahkan masalah yang sama
  2. Rata-rata cenayang (psychic) merasa memiliki kemampuan ESPnya secara alamiah karena bakat, bukan pembelajaran
  3. Bahkan yang mengaku cenayang terlatih sekalipun, tidak selalu bisa membaca informasi yang mereka terima dengan akurat, atau menggambarkan dengan baik situasi yang terjadi sebenarnya
Terkait butir nomor 1, pada manusia kebanyakan maka ESP ini bisa jadi muncul dalam bentuk firasat, ilham, atau suatu dorongan yang kuat untuk melakukan suatu hal atau memilih suatu pilihan; sebagian kita mengenalnya sebagai "insting", sebagian lagi sebagai "feeling", tapi yang pasti sebagian besar mereka tidak bisa menjelaskan kenapa-kenapanya tapi merasa pilihannya sudah tepat. Pernah merasa demikian dan terbukti keputusan anda benar? Saya yakin anda pernah mengalaminya, setidaknya sekali - dua kali sepanjang hidup anda.

Terkait butir nomor 2, melihat karakteristik manusia kebanyakan yang tidak sama satu dengan lainnya; ada yang mancung, ada yang pesek -- dan walaupun mungkin bisa diakali dengan operasi plastik tapi secara genetik tidak ada perubahan -- maka kemungkinan besar kemampuan ESP seseorang juga sangat terkait dengan kualitas dari "sesuatu" dalam dirinya tersebut. "Sesuatu" yang masih misterius dan gampangnya diistilahkan sebagai "indera ke-enam" oleh masyarakat umum. Pada mereka yang memiliki kemampuan ESP yang kuat, maka dianggap ia memiliki indera ke-enam tersebut. Padahal kalau mengacu pada butir nomor 1, berarti setiap orang sebenarnya memiliki indera ke-enam ini, hanya kualitasnya berbeda-beda satu sama lain.

Terkait butir nomor 3, ada indikasi kuat bahwa informasi di dunia ESP ini bentuknya masih sangat abstrak dan belum terpetakan maupun tersimulasikan. Ini mirip seperti kisah ketika seorang raja di masa lampau membawa tiga orang ahli pikirnya ke dalam suatu ruangan gelap pekat dan dari posisi yang ditentukan diminta mengambarkan seperti apakah hewan asing yang ada di dalamnya itu; ahli pertama bilang, bentuknya seperti pohon kelapa; bulat menjulang tinggi, ahli kedua bilang bentuknya seperti ular, meliuk dan elastis, sedangkan ahli ketiga bilang, mahluknya tipis seperti daun! Padahal mereka semuanya menggambarkan gajah yang sama, hanya karena gajah bukanlah hewan yang mereka ketahui maka informasinya jadi simpang siur.

Jika gambar bisa diproduksi salinannya dengan cukup akurat, suara juga, bau, rasa, dan bahkan tekstur juga bisa direplikasi dengan cukup tepat, maka tidak demikian halnya dengan feeling atau perasaan. Kita rasanya sudah mengenal baik perasaan-perasaan semacam gembira, sedih, marah, takut dan lainnya terkait perasaan; karena masing-masing memiliki ciri yang khas. Namun demikian tak jarang juga kita salah mengartikan atau salah "membaca" perasaan orang lain karena satu dan lain hal, atau bingung membaca perasaan sendiri.... misalnya, "gue sebenernya cinta nggak ya sama dia?", atau "what is this feeling that I have?", yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita sendiri terkadang tidak mampu membaca dengan baik suatu informasi, jika informasi tersebut bukan sesuatu yang biasa kita hadapi.

Jika dengan perasaan diri sendiri saja terkadang kita masih merasa asing, maka bagaimana misalnya dengan bentuk informasi eksternal yang lebih kompleks? Informasi mengenai lokasi seseorang / suatu barang yang hilang misalnya? (yang obyeknya memang ada tapi lokasinya tidak diketahui si cenayang). Yang mana informasinya mungkin saja sudah diterima si cenayang, tapi tidak mampu ia kenali dan terjemahkan? Maka salahsatu challenge paling besar dari ESP adalah bagaimana kita bisa mengenali, membaca, dan menginterpretasikan arti dari informasi-informasio misterius yang masuk lewat jalur "indera ke-6" kita tersebut.

Maka dari itu pula banyak ramalan, yang paling terkenal dari Nostradamus sekalipun, selalu dibuat tidak dengan akurasi yang tinggi namun melainkan hanya serangkaian informasi yang "open ended" dan terbuka untuk interpretasi -- yang kemudian rawan perekayasaan hingga pemanipulasian oleh pihak tidak bertanggung-jawab karena sifatnya yang multi interpretatif tersebut.

Apakah kemampuan ESP ini bisa diasah? Sudah tentu, hanya saja tidak berarti otomatis kemampuan anda akan berkembang drastis. Seperti tertera pada butir nomor 3, mereka yang cenayang professional pun seringkali menemui kesulitan dalam mempraktikkan kemampuan yang mereka terus latih secara rutin tersebut. You might get better, but not necessarily mean good enough.

Apakah belajar meningkatkan kemampuan ESP itu buang-buang waktu? Buat mereka yang harapannya tidak realistik, iya! Dalam artian, jika mereka berharap dengan mengandalkan ESP maka masalah hidupnya tiba-tiba lenyap, tidak usah belajar buat lulus sekolah tinggal nebak-nebak jawaban a/b/c/d di lembar jawaban, atau berharap bisa mengetahui masa depannya sehingga tidak akan pernah bernasib buruk, dan selalu tepat nebak togel, maka mereka akan menghadapi masalah besar. Nostradamus bukan milyarder, dan banyak dukun kaya justru karena imbalan "jasa konsultasi" dari pada client yang percaya dengan interpretasi-interpretasi si dukun akan wangsit-wangsit yang konon diterimanya. Secara umum dan telah terbukti, keberhasilan hidup manusia itu jauh lebih erat hubungannya dengan usaha keras, bukan dengan wangsit.

Jadi apakah memiliki kemampuan ESP itu perlu? Lah... pada kenyataannya tiap-tiap dari kita sudah punya kemampuan ini secara alamiah koq?! Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Yang paling baik, karena pada kenyataannya kita diberikan banyak indera-indera oleh Yang Maha Kuasa, semuanya untuk digunakan secara simultan; selain panca indera ada juga akal pikiran plus hati (inikah indera ke-6 kita?), dua-duanya bekerja baik kalau digunakan secara simultan. Ilmu dan iman, knowledge dan hunch, informasi faktual dan insting, jika kedua komponen konkrit-abstrak ini berjalan berdampingan, maka biasanya akan muncul hasil yang luar biasa... karena manusia adalah mahluk yang multi-dimensi. (bay)

Image dari: http://science.howstuffworks.com/esp.htm

Wednesday, July 7, 2010

Bali Dress Code

Pertama kalinya datang ke kantor Mitrais Bali untuk lapor, berhubung belum paham mengenai dress code disini maka saya ngambil jalur aman: berpakaian "komplit". Bukan berarti biasanya saya kemana-mana cuma pake kaos kutung dan kolor, namun komplit disini artinya mengikuti dress code sesuai standar business attire yang formal; kemeja lengan panjang dimasukkan ke dalam celana kain ber-ikat pinggang, kerah terkancing plus dasi corak konservatif, sepatu kerja jenis loafers dress shoes, dan jaket semi jas berbahan kain berwarna hitam.

Disambut dengan receptionist yang ternyata hanya berseragam kaos kerah dengan warna corporate color nya Mitrais, sayapun langsung mengkonfirmasikan mengenai dress-code ini. Ternyata berhubung ini Bali maka standar casual saja sudah cukup; kemeja lengan pendek dan celana panjang is good, tapi kaos polo/berkerah dan jeans serta sepatu keds juga diperbolehkan.

Makanya hari pertama ngantor, sayapun nggak lagi dress up tapi lebih casual saja, dan memang rata-rata staff di kantor Mitrais pun bekerja dengan penampilan santai saja. Namun karena ternyata ditempatkan di kantor baru di daerah Suwung - Sanur, di lantai tiga pula, tempat the bigg bos Mr. David Magson berkantor, maka seperti ada peraturan tidak tertulis mengenai standar minimum berpakaian disini, terutama buat para staff yang levelnya sudah tinggi sehingga rutin ikut rapat atau bahkan bertemu client; dalam hal ini maka diterapkan standar yang lebih tinggi namun masih tetap relatif santai dibandingkan Jakarta.

Para Project Manager misalnya, cenderung lebih suka mengenakan kemeja lengan pendek yang dikeluarkan, dan celana jeans, dalam berhadapan dengan client sekalipun. Walaupun untuk standar formalitas berada dibawah Jakarta, namun standar seperti ini sudah diterima baik untuk rata-rata pebisnis di Bali dimana kebanyakan terkait erat dengan bidang pariwisata. Hal ini tercermin dari standar berpakaian mereka sendiri. Selama sembilan bulan di Bali ini, malah saya belum pernah menemukan client yang datang ke meeting dengan penampilan rapi atau formal, apalagi pake dasi; paling banter ya mirip Project Manager kami inilah: kemeja lengan pendek, dan celana kain. Bahkan tak jarang mereka datang dengan pakaian yang lebih cocok buat jalan-jalan ke pantai, termasuk celana capri dan sendal Crocs; ini terjadi terutama pada client dari luar negeri yang memang datang ke Bali selain untuk bisnis adalah untuk berlibur juga.

Adapun saya sendiri, berhubung sering berhadapan langsung dengan si boss, dan koleksi kemeja lengan pendek saya minim, jadinya seringkali mengantor mengenakan kemeja lengan panjang, tapi lengannya digulung pendek, dan dipadu dengan bawahan jeans yang rada plain dan konservatif. Adapun kala kadang kalau harus berhadapan dengan client dari dunia fashion, maka mengacu pada style favorit semenjak masa kuliah dulu, saya mengenakan setelan "all black": kemeja hitam berbahan "jatuh" dengan lengan panjang tidak dikancing, dibiarkan tidak dimasukkan ke celana juga, dan dipadu dengan celana jeans hitam, sabuk hitam, dan sepatu serta kaos kaki hitam. Sejauh ini, gaya inilah juga yang jadi favorit isteri di rumah; "ganteng" katanya.

Adapun di waktu-waktu tertentu, kala sedang mood santai misalnya (atau kehabisan baju bersih) kadang saya mengenakan Polo shirt berkerah saja, tapi dimasukkan celana. Kalaupun terdesak harus ikut meeting agak penting, maka jaket semi jas saya selalu siap stand-by di kantor untuk hal-hal mendadak seperti itu.

Di Australia sendiri, tempat mayoritas client kami berada, maka untuk kota-kota besar terutama di daerah selatan, dress code yang berlaku adalah formal business attire, dalam artian fully dressed, sampai ke dasi dan dress shoes. Sedangkan di daerah yang lebih utara, Perth di pantai Barat misalnya, maka dress code nya jauh lebih santai dan mirip yang berlaku di Bali sini.

Bagaimana dengan di tempat anda? (bay)

image dari: http://centralstation.centralpenn.edu/

Bali Dress Code

Pertama kalinya datang ke kantor Mitrais Bali untuk lapor, berhubung belum paham mengenai dress code disini maka saya ngambil jalur aman: berpakaian "komplit". Bukan berarti biasanya saya kemana-mana cuma pake kaos kutung dan kolor, namun komplit disini artinya mengikuti dress code sesuai standar business attire yang formal; kemeja lengan panjang dimasukkan ke dalam celana kain ber-ikat pinggang, kerah terkancing plus dasi corak konservatif, sepatu kerja jenis loafers dress shoes, dan jaket semi jas berbahan kain berwarna hitam.

Disambut dengan receptionist yang ternyata hanya berseragam kaos kerah dengan warna corporate color nya Mitrais, sayapun langsung mengkonfirmasikan mengenai dress-code ini. Ternyata berhubung ini Bali maka standar casual saja sudah cukup; kemeja lengan pendek dan celana panjang is good, tapi kaos polo/berkerah dan jeans serta sepatu keds juga diperbolehkan.

Makanya hari pertama ngantor, sayapun nggak lagi dress up tapi lebih casual saja, dan memang rata-rata staff di kantor Mitrais pun bekerja dengan penampilan santai saja. Namun karena ternyata ditempatkan di kantor baru di daerah Suwung - Sanur, di lantai tiga pula, tempat the bigg bos Mr. David Magson berkantor, maka seperti ada peraturan tidak tertulis mengenai standar minimum berpakaian disini, terutama buat para staff yang levelnya sudah tinggi sehingga rutin ikut rapat atau bahkan bertemu client; dalam hal ini maka diterapkan standar yang lebih tinggi namun masih tetap relatif santai dibandingkan Jakarta. Para Project Manager misalnya, cenderung lebih suka mengenakan kemeja lengan pendek yang dikeluarkan, dan celana jeans, dalam berhadapan dengan client sekalipun. Walaupun untuk standar formalitas berada dibawah Jakarta, namun standar seperti ini sudah diterima baik untuk rata-rata pebisnis di Bali dimana kebanyakan terkait erat dengan bidang pariwisata. Hal ini tercermin dari standar berpakaian mereka sendiri. Selama sembilan bulan di Bali ini, malah saya belum pernah menemukan client yang datang ke meeting dengan penampilan rapi atau formal, apalagi pake dasi; paling banter ya mirip Project Manager kami inilah: kemeja lengan pendek, dan celana kain. Bahkan tak jarang mereka datang dengan pakaian yang lebih cocok buat jalan-jalan ke pantai, termasuk celana capri dan sendal Crocs; ini terjadi terutama pada client dari luar negeri yang memang datang ke Bali selain untuk bisnis adalah untuk berlibur juga.

Adapun saya sendiri, berhubung sering berhadapan langsung dengan si boss, dan koleksi kemeja lengan pendek saya minim, jadinya seringkali mengantor mengenakan kemeja lengan panjang, tapi lengannya digulung pendek, dan dipadu dengan bawahan jeans yang rada plain dan konservatif. Adapun kala kadang kalau harus berhadapan dengan client dari dunia fashion, maka mengacu pada style favorit semenjak masa kuliah dulu, saya mengenakan setelan "all black": kemeja hitam berbahan "jatuh" dengan lengan panjang tidak dikancing, dibiarkan tidak dimasukkan ke celana juga, dan dipadu dengan celana jeans hitam, sabuk hitam, dan sepatu serta kaos kaki hitam. Sejauh ini, gaya inilah juga yang jadi favorit isteri di rumah; "ganteng" katanya.

Adapun di waktu-waktu tertentu, kala sedang mood santai misalnya (atau kehabisan baju bersih) kadang saya mengenakan Polo shirt berkerah saja, tapi dimasukkan celana. Kalaupun terdesak harus ikut meeting agak penting, maka jaket semi jas saya selalu siap stand-by di kantor untuk hal-hal mendadak seperti itu.

Di Australia sendiri, tempat mayoritas client kami berada, maka untuk kota-kota besar terutama di daerah selatan, dress code yang berlaku adalah formal business attire, dalam artian fully dressed, sampai ke dasi dan dress shoes. Sedangkan di daerah yang lebih utara, Perth di pantai Barat misalnya, maka dress code nya jauh lebih santai dan mirip yang berlaku di Bali sini.

Bagaimana dengan di tempat anda? (bay)

image dari: http://centralstation.centralpenn.edu/

Tuesday, July 6, 2010

Aneka versi nama Zayan

Waktu ulang taun anak tetangga last weekend, Zayan dapet topi kertas juga, tapi tulisannya "Giant". Hohohohoho.

Di kesempatan lain, kadan jadi "Jayen", "Yayang", atau kalau di Bandung & Garut jadi "cep Jayan". Begitulah nasib punya nama nggak lazim. Gimana jadinya kalau gw kasih nama "Yggdrasil" ya? (byms)

Image dari: http://farm3.staticflickr.com

Lie To Me (TV Series - 2009)


Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Mystery & Suspense
Tidak bertaburan wajah-wajah yang super cute, atau karakter-karakter yang flashy, tapi bidang yang mereka tekuni membuat serial TV ini sangat menarik; micro facial expression.

Apakah itu micro facial expression? Ini adalah istilah untuk reaksi spontan dari manusia (tepatnya wajah manusia) yang sulit untuk dimanipulasi sehingga sangat efektif untuk dijadikan petunjuk mengenai berbohong atau tidaknya seseorang, atau menunjukkan perasaan seseorang itu secara umum; misalnya; dua alis terangkat bersamaan menunjukkan rasa takut, ujung bibir melengkung kebawah disertai kening berkerut menunjukkan rasa jijik, dsb. Dikaitkan dengan ilmu psikologi, dan kemampuan umum membaca body language, maka mfe ini bisa menjadi tools untuk lie detector yang ampuh.

Dengan demikian walaupun ceritanya fiksi, namun karena ilmunya sendiri nyata maka jadinya penonton bisa mendapat pelajaran berharga sambil nonton.

Dalam serial "Lie To Me" ini, alkisah Dr. Cal Lightman (Tim Roth) adalah seorang Doktor di bidang micro facial expression yang kemudian mendirikan perusahaan "The Lightman Group" yang menawarkan jasa "truth finding", alias menemukan kebenaran. Perusahaannya ini seringkali dikontrak oleh biro penegak hukum, mulai dari Kepolisian hingga FBI, untuk membantu menuntaskan kasus-kasus yang sulit mereka pecahkan.

Selain Cal, The Lightman group ini beranggotakan juga beberapa konsultan yang rata-rata memiliki pendidikan dan pengetahuan baik mengenai mfe; kecuali Lia Torres (Monica Raymund) yang diceritakan memiliki bakat langka membaca body language seseorang secara natural.

Dari episode demi episode, Lightman group dihadapkan pada aneka tantangan yang beragam, mulai dari kasus suap, pembunuhan, hingga ke terorisme. Kadang ada juga kasus yang ringan semisal calon mempelai yang berbohong. Yang menarik, usaha pencarian kebenaran ini tidak berhenti sampai tahap analisis saja, tapi melangkah lebih jauh hingga ke pemahaman sifat manusia secara lebih general.

Di Fox Channel via YesTV, serial ini baru selesai menayangkan Season Finale nya dan belum tahu kapan akan disambung lagi. Sayang banget. (bay)

Wednesday, June 30, 2010

Hidup: Kesiapan Nyemplung

Dalam menjalankan suatu hal yang baru, salahsatu hambatan klasik dari mereka yang hendak bertindak adalah "kesiapan". Entah itu kesiapan modal, ilmu, atau aneka "harus punya" lainnya sebelum berani untuk bertindak, memulai usaha, kawin, atau hal-hal lainnya yang sebenarnya akan mengubah nasib mereka kearah yang lebih baik.

Padahal tidak ada orang yang benar-benar siap untuk apapun yang baru bagi dirinya; maka dari itu cara paling baik untuk menjadi siap, adalah dengan nyemplung; dan perhatikan diri kita akan berkembang dari mengatasi masalah-masalah yang kemudian timbul.

Nabi saja kadang-kadang mentok, padahal counselornya adalah Tuhan; ini terjadi karena pada dasarnya hanya ada satu jalan buat manusia untuk menjadi siap; melalui proses. Persiapan dan pembelajaran adalah bagian dari proses, tapi "the real learning" baru akan dimulai ketika kita berani melakukan.

Ini yang kadang membuat orang tanpa pendidikan tinggi bisa lebih sukses daripada mereka yang gelarnya berentet; saat yang tanpa pendidikan berani untuk mulai dan belajar sambil jalan, sementara yang kebanyakan gelar terlalu banyak berhitung dan berencana tanpa berani mulai melakukan. (bay)

Terilhami dari salahsatu episode MTGW di Metro TV
Images dari: http://www.makan.com/