Thursday, May 12, 2005

Isyu dalam Islam: Mobil dan tune-up (Lho?!)

Ibaratnya mobil keluaran sebuah pabrik...

Buat seorang konsumen (manusia), mungkin gak akan ngeh kenapa koq mobil itu harus sering di tune-up, diselaraskan pengapiannya, diganti businya, diatur timing belt nya, dan lain-lain rutinitas yang keliatannya so nggak penting... "Lho, mobil gw masih bisa jalan koq, so what?"

Padahal kalau saja konsumen (Manusia) itu mengerti mengenai mesin, bagaimana pengapian tak selaras mengakibatkan choking atau tenaga mesin timpang, bagaimana momentum ban yang tidak balance akan mengakibatkan ketidak merataan gundul ban (ban cepat habis sebagian), bahwa asupan udara ke karburator turut menentukan kinerja mesin, sampai knalpot yang bocorpun ternyata berpengaruh pada turunnya tingkat kompresi dalam blok mesin, tentu konsumen (Manusia) akan memperhatikan masalah tersebut dengan lebih serius, dan lebih disiplin dalam mengikuti manual dan aturan perawatan yang dikeluarkan oleh pabrik (Tuhan)...

Hal-hal tersebut, yang menurut pabrik (Tuhan) perlu dilakukan secara rutin oleh konsumen (Manusia), sebenernya adalah demi kesejahteraan si konsumen (Manusia) itu sendiri, supaya tetep berada dalam kondisi prima.

"Sudahkan anda tune-up?" (sholat)













Menu Sarapan Pagi Ini: Hati, Bela diri, Agama

Masalah Hati

Jadi orang tuh harus bisa milah-milah masalah, mana yang harus pake hati, mana yang harus sabodo teuing (peduli amat). Di satu sisi kalau kita kerja memakai "hati", maka biasanya kita akan menghasilkan yang terbaik. Tapi di sisi lain kalau apapun kita hadepin dengan hati, bisa berakibat jantungan dan stress... Kalau ada tugas mendesak yang kita merasa gak sesuai dengan situasi hati, pasti ngerjainnya juga berantakan... Saat ada orang gendheng yang keliatannya gak bisa menghargai perbuatan kita, lantas hati kita ngerasa sakit... Itulah akibatnya kalau gak bisa milah mana yang masuk porsi "hati", porsi "hati+pikiran", dan porsi "pikiran" saja. Gawat atuh euy kalau semua hal dimasukin hati...

Untuk mengatasi masalah malas dan gak suka (gw banget deh), salahsatu artikel yang pernah gw baca menganjurkan bahwa dalam ngelakuin hal-hal yang wajib, sebaiknya berlaku pepatah "You don't have to like it, just do it". Kebetulan contohnya adalah belajar beladiri... Dan si pemberi wejangan adalah instruktur salahsatu cabang beladiri yang berpengalaman dua puluhan tahunan melatih.

Beladiri

U see... dalam beladiri, kecakapan itu tidak bisa didapat dalam sehari-dua hari latihan (and so is the case with the rest of the wordly skills). Seringkali seorang praktisi beladiri mundur ditengah jalan karena malas latihan, entah karena faktor jarak, biaya, teman, ketidak-cocokan, kurang visi kedepan, dll. Tidak bisa dipungkiri, tapi tidak bisa juga dibiarkan. Semua hal yang berakhir di tengah jalan tidak akan membawa manfaat yang "penuh".

Gak akan terkuasai ilmu sebenarnya dari beladiri, kalau baru sampai tahap dasar ("Yukyusha" kl di beladiri Jepang). Nggak juga kalau udah sampai dapet blackbelt...

Lho koq?

Hmm... gini... ada yang tau arti filosofis dari "black belt", atau "ban hitam" itu sendiri? Karena kerasnya latihan yang diperlukan untuk mencapai taraf ini, banyak diantara kita yang merasa bahwa black belt adalah tahap tertinggi dari dunia beladiri, sehingga cenderung memberi arti khusus pada level yang satu ini.

Walaupun agak benar dalam hal "tahap tertinggi" beladiri (diatas blackbelt gak ada belt lain, kecuali Capoeira afaik), tapi apa kita sadar arti sebenernya dari level ini? Padahal, ban hitam itu diberikan pada mereka yang semata-mata dianggap sudah menguasai teknik dasar beladiri, nothing more! Ban hitam menyatakan kesiapan dari si bersangkutan untuk belajar beladiri dengan benar.

Inget bagaimana Musashi yang kuat bukanlah Musashi ditahap awal yang membunuh semua yang melawannya, tapi Musashi yang memilah mana yang harus ia lawan mana yang tidak?

Atau bagaimana Kenji Goh yang justru malah murung dan negatif setelah mengalahkan musuh bebuyutannya, Tony Tan? Dan mempelajari kungfu yang dibilang sebagai kungfu terbaik di dunia?

Itu semua terjadi karena sebenarnya tujuan akhir belajar beladiri bukanlah dalam penguasaan teknik dalam mengalahkan musuh, tapi justru bagaimana "mengalahkan diri sendiri dan memahami soal hidup". Dalam perspektif ini, ban hitam justru adalah awalnya pelajaran mengenai beladiri...

Agama

Begitu juga halnya dengan Agama (he he he, kesini lagi ternyata!). Dalam agama apapun, ada serangkaian bentuk ibadah yang wajib dilakukan ummatnya dengan rutin. Di sisi lain, banyak yang merasa dengan telah
memenuhi kewajiban2 ibadah tersebut, yang bersangkutan telah menjadi seorang "saint" atau "malaikat". Di sisi yang berlawanan, banyak yang merasa ibadah-ibadah rutin ini sebagai suatu beban, dan hal yang sia-sia, seperti... "Ah gw rajin sholat juga nggak kaya-kaya!"

Terlepas dari ada atau tidaknya kaitan langsung antara rajin beribadah dengan banyaknya harta, kita seharusnya menyadari kalau Agama itu panduan MORAL, bukan panduan dagang. Tuhan kelihatannya percaya bahwa mahluk manusia ini harus diperkuat landasan moralnya, barulah kemudian mereka bisa menjadi manusia yang paripurna; utuh dan "sempurna". Dan kalau seorang manusia sudah sampai dalam tahap paripurna, baru deh akan keliatan kenapa koq manusia itu dianggap-Nya sebagai mahluk paling mulia, yang Malaikat saja diharuskan sujud kepadanya (kisah Adam AS).

Dalam tahap ini, hal duniawi lainnya bukanlah lagi menjadi masalah bagi si manusia. Mau nggak jadi orang yang nggak punya masalah duniawi? Atau sekurang-kurangnya, punya lebih sedikit masalah duniawi? Ya yang khusyuk (serius) dong sama agama mu!

Nahh... dalam membimbing manusia kearah kesempurnaan ini, maka disusunlah serangkaian bentuk ibadah yang secara sadar or nggak sadar, membangkitkan pemahaman dan penguasaan manusia akan hal MORAL tadi. Hanya saja si manusia nya yang nggak sadar kalau dibalik semua rutinitas ibadah tersebut terdapat desain dari sebuah PROGRAM PELATIHAN.

Ingin ngerti rahasia dari sholat? DO IT REGULARLY. Dalam sholat itu terkandung suatu self-enforcement yang berguna dalam memantapkan hati. Coba resapi tiap kata tiap kalimat yang diucapkan, seakan-akan kita sedang berbicara langsung dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan serangkaian kata yang diucapkan dengan segenap jiwa, dengan bersungguh-sungguh...

Sewaktu kita menghadapkan diri dihadapan-Nya, berbicara kepada-Nya dengan serangkaian kata sumpah dan janji... pasti deh jadinya merinding... hiiii...

Sesudah itu terus maksiat lagi? Mo mulai sholat aja ragu karena ngerasa diri terlalu bejad? Give it up... manusia itu sarangnya dosa.... sholat itu bukan semata-mata untuk mereka yang beriman, justru lebih banyak manfaatnya bagi mereka yang merasa kurang kuat imannya. Karena itu cukuplah komitmen kita dimulai dengan "kalau waktunya sholat, lakukan", percaya atau nggak, setelah itu hal-hal disekitarnya akan mulai meluruskan diri secara otomatis.

Butuh ketenangan jiwa? Dekatkan diri dengan Pencipta mu.

Sholat itu bukanlah "konsumsi" nya mereka yang sudah merasa beriman kuat dan paham baik seluk-beluk agama, justru buat mereka yang merasa ingin memahami Agama.

Sholat itu bukan sesuatu yang eksklusif, justru sesuatu yang berada di level grassroot.

Sholat itu bukan lauk pauk mahal yang kita ngerasa gak layak dapetin walaupun diberi gratis, justru sholat itu justru adalah piring tempat kita makan.

Epilog

Jadi mari kita round-up a bit... Sholat itu, adalah salahsatu teknik dasar yang harus dikuasai kalau ingin meraih "blackbelt" dalam hidup (Islami). Teknik dasar ini akan membawa manfaat kalau dilakukan sepenuh hati (khusyuk), sedangkan untuk memulainya, cukup dengan berpedoman pada "You don't have to like it, just do it".

Hmm... koq akhir-akhirnya ke masalah ini lagi ya..? Ada yang ngerasa kesindir nggak? Selain dari gw sendiri tentunya? (byms)

Wednesday, May 11, 2005

Akhirnya tiga hari persiapan kick-off meeting proyek World Bank nan sibuk usai juga

Tuntaslah rangkaian tiga hari yang hectic dalam persiapan Kick-Off meeting proyek World Bank ini.

Pagi tadi, gw dateng telat karena bangun telat karena tidur telat. Baru merem abis subuh gitu... itupun karena
tengah malemnya kebangun ama Ade yang nelepon, manfaatin masa diskonnya Simpati Hoki. Dan karena gerah banget, jadilah susah balik tidur. Akhirnya, nginternet deh... cek kabar terbaru dari pak Sjarif, kisah-kisah di Multiply, dan tentunya upload foto-foto yang gw post sebelum ini.

Padahal sorenya tuh dah lumayan teler karena cape di jalan. Udah lama gak maen2 ke lapangan, makanya badan rentan banget ama cape... Jadi pas nyampe kost gak banyak cingcong, langsung ke tempat tidur!

Kick-Off meeting nya rada kacau, presentasi dari rekan bisnis kita dari KL kurang dipersiapkan baik. Udah gitu, internet StarOne yang kita bawa buat demo websitenya Perpusnas ngadat, terutama karena dia cuma bisa nangkep satu sinyal. Dan sialnya lagi, website yang kita buka selalu jadi error tiap kali internet kita putus... Salahsatu "kelebihan" WinXP?

Lalu masa diskusi untuk penjelasan mengenai kuesioner yang kita sebarkan, ada satu bapak-bapak dari IPDN Cilandak yang lantas mempertanyakan mengenai kegunaan dari e-library yang kita tawarkan. Alasannya, karena mereka gak punya SDM yang cukup lantas diramalkan kalau e-library ini akan sia-sia buat diterapkan. Dia lantas meminta pihak kita (konsultan) untuk menyediakan juga tenaga webmaster.

Haaaiiiiiyaaaaaaaa ??!?!?!!! Kemane aje bang?? Tiba-tiba nyerang konsep pas proyek udah diapprove?

Anyway, bapak yang dimaksud, selama presentasi sibuk maen2 henpun PDA nya yang gak dimatiin suara "keypress" nya. Dan doi ngomong sambil silang dada, alias bahasa tubuh dari "gw bener, percuma elo ngomong apa". Makanya gw rada bete waktu dengerin hal yang dipertanyakan si bapak ini.

Padahal kalau mengacu pada TOR yang kita terima, tugas kita adalah menyiapkah software dan pelatihan, dan kitapun membatasi sampe situ. Boss gw berusaha dengan sabar dan diplomatis menjelaskan bagian tugas kita, tapi gak masuk-masuk. Debatnya rada terlalu panjang, sampe akhirnya di-cut sama bapak jagoan kita, jawara dari IPDN Jatinangor. Nge-cutnya juga sebenernya ngambang... dan jadi ada hawa2 dingin antara dua cabang bersaudara ini... Kl gw sih sebenernya dah gatel pengen berdiri dan say something, tapi gak sopan dong melangkahi boss gw... apalagi palingan gw cuma nyari masalah.... Ness... gara-gara elo nih :D... makasih yaa! :P

Tapi dari situ juga kita belajar kalau mereka ini sangat tidak siap untuk bersentuhan dengan teknologi canggih, koordinasi internal antar lembaganya buruk, banyak masalah belum settle tapi karena mengejar deadline dan batasan dari lembaga pemberi donor, they wrap things up. Sebenernyapun selain dari bapak yang tadi, sambutannya luar biasa baik, apalagi dari IPDN Jatinangor yang memang lebih siap dari sisi mindset, sdm, dan teknologi.

Tapi juga gak bisa dipungkiri sih kalau ada beberapa pihak yang malah lebih comfort dengan nunjukin negatifisme. So, instead daripada bantuin sebisanya buat make things work, golongan ini tend to menolak dari awal, sehingga pas ada masalah mereka cukup berujar "kan saya udah bilang dulu...", lantas menolak buat ikut nyari pemecahan... Kapan negara mo majunya mas?

Lantas ternyata di kelompok sebelah yang ngebahas mengenai workflow system, masalah lebih dahsyat lagi. Pak Iswan, PM kita bercerita kalau dahsyatnya, beberapa narasumber yang terlibat merasa ini bukan proyek
hasil godokan mereka jadi menolak untuk bekerjasama. Duh njirr... gak bisakah mereka sadar kalau kita ini
cuma konsultan? Debat noh atasan sendiri kalau ada masalah dengan keberadaan proyek ini in the first place! Untung jagoan wanita kita dari World Bank Jakarta, Mrs Lina Lo, ikut hadir dalam acara diskusi di
bagian ini dan membantu mencari solusi.

Pantesan aja ibu yang satu ini sering keliatan garang dan tegas, dan kadang bete... mugkin karena harus ngadepin orang macem mereka ini selama bertahun-tahun yee? Tau sendiri kan gimana betenya kalo harus
berurusan sama birokrasi pemerintah...

Tapi roti sosisnya enak sih... gw abis... hmm... enem biji apa tujuh gitu... padahal ukurannya mayan sedeng. Makan siangnya... not good... not bad... kalah ama Shangrila kecuali cheese cake nya yang nendang banget aroma kejunya.

Enaknya di perusahaan kecil... ur boss IS the most capable guy in the office, jadi gak ada istilah boss yang naek jabatan tapi skill nya teruk. So waktu ada masalah diluar dugaan macem tadi, everything is handled
allright. Boss gw juga gak sungkan2 buat bantuin Faida ngetik list yang dibutuhin oleh rapat... untung gw tau diri dan ngambil alih...

Anyway, temen2 Malaysia kitapun pulang sore hari itu juga. Entah kapan akan berjumpe lagi dengan puan Ara dan puan Noorpishah yang kocak itu... Nanti kalau mereka datang lagi, bakalan kita anterin wisata FO Bandung dengan suka hati deh.... :)

Besok? Dah ada kerjaan website menanti... (byms)

Tol Cipularang - Wisata Konstruksi


Ternyata, desas-desus itu benar adanya... Ke Bandung lewat Tol Cipularang adalah pengalaman menyenangkan! Mungkin buat sebagian orang sih cuma karena faktor waktunya doang, sementara buat gw mah, Tol Cipularang itu cukup experience-ful.

Berbeda sama landscape Tol Cikampek yang luar biasa bikin boring, dimana hiburan yang ada cuman ngecek speedometer dan hitung mundur perkiraan waktu tiba, kalau di Tol Cipularang ("TCP" aja yah, biar ringkas) kasusnya beda.

Pertama, jalan tolnya berkelok-kelok, dengan contour daratan yang cukup dinamis. Di satu saat kita bisa ngeliat bentangan jalan sampai beberapa kilometer kedepan karena sedang berada di puncak bukit, dan di saat bersamaan kita bisa juga merhatiin bentuk interaksi dari TCP ini dengan lingkungan sekitar. Salahsatu bentuk paling lazim dari interaksi ini adalah, dibangunnya jembatan-jembatan penyebrangan dan fly-over jalan raya diatas kita.

Rata-rata jembatan ini ditopang dengan pilar yang kaku, sterile, namun dalam ke disiplinannya itu, malah memberi suatu impresi tersendiri. Soalnya kan bentuk jembatan ini bermacam-macam, dan beragam arah,
jadinya ada jembatan yang terbentang nyaris diagonal dengan TCP, tapi ada juga yang sekedar nyebrang dan memberi bayangan tipis di landasan jalan semen ini.

Ditambah lagi, penampilan sterile nya ini terlihat sangat rapi kala semennya masih berwarna putih, konstruksi masih bebas kusam, benteng-benteng tanah yang terpaksa ada di beberapa bagian jalan, menyaksikan jalan ini memotong bukit raksasa, atau mengangkangi lembah serasa kita sedang berkendaraan di negeri atas awan.

Lantas sisa-sisa show of force kekuatan manusia terhadap alam ini masih terlihat jelas dengan banyaknya bukit-bukit yang terlihat terpotong di kiri-kanan jalan, bebas tumbuhan kecuali rumput yang mulai tumbuh,
dramatis! Selain itu, kita bisa juga menyaksikan konstruksi jembatan KA di beberapa tempat, karena kebetulan TCP ini dibangun berdekatan dengan jalur rel KA Jakarta - Bandung.

Selain dari itu, corak lingkungan yang beraneka ragam juga cukup bikin seru. Kalau pertama-tama kita banyak menyaksikan pemukiman atau pepohonan ala kadarnya, maka tak lama kemudian pemandangan akan berubah menjadi setting kebun karet, kebun teh, dan bukit-bukit kapur... seakan ber-revolusi dalam waktu. Revolusi? terang saja, karena kita berangkat dari ketinggian nol meter (Jakarta) menuju ketinggian 700 meter (Bandung), yang seri tumbuhan alami nya saja sudah berbeda.

Dan begitu sampai di Bandung, jika kita memilih untuk masuk melalui pintu tol Pasteur, maka kita akan kembali disambut oleh konstruksi megah dari jalan layang Pasopati yang kelihatan sedang dalam tahap
kerja lembur. Daerah Pasteur yang tadinya teduh oleh tumbuhan berusia puluhan tahun, kini kembali teduh karena adanya payung beton raksasa yang tak lama lagi akan mengurangi kemacetan di daerah ini (walau cuma memindahkan titik macet, bukan menghilangkan).

Melihat potensi TCP, sebenarnya banyak panorama yang bisa digali atau dimodifikasi untuk keperluan hiburan, atau monumental. Misalnya, kita melihat ada beberapa bongkah batu raksasa yang nongol dari dinding bukit disamping jalan, yang kalau di "beri" kan pada anak Senirupa buat diolah, tentu bakalan jadi karya yang aduhai spesial. Atau meniru contoh dari beberapa perusahaan yang nekat menorehkan namanya di gunung-gunung kapur yang ia garap, agar terlihat dari jauh, kenapa kita nggak meniru Amerika yang menorehkan wajah pemimpin-pemimpin negaranya di salahsatu bukit sehingga menjadi monumen yang unik? TCP memiliki banyak potensi kearah sini. Diantara beberapa tembok penahan erosi pun saat ini sudah ada beberapa keisengan muncul... misalnya tiba-tiba ada patung kepala macan... Walau bentuknya rada-rada "Pemda-is", tapi cukup lucu.

Sungguh, andai saja pengelolaan pemandangan di lingkungan TCP ini diserahkan khusus kepada satu pihak tersendiri, tanpa perlu ada arogansi dari tiap kecamatan yang dilalui TCP untuk mengekspresikan diri, niscaya TCP ini bisa menjadi sarana berkendaraan yang sangat menarik. Coba saja bayangkan... Di suatu tempat, anda akan menemui papan pengumuman berbunyi "Pemandangan Monumen Tokoh Pendidikan, 500m kedepan, sebelah kiri", dan di tempat yang dimaksud lalu anda bisa melihat pemandangan megah wajah-wajah tokoh pendidikan Indonesia dari masa ke masa terpampang... niscaya para guru akan bangga akan profesi mereka.

Atau misalnya dengan menghias jembatan-jembatan penyeberangan yang ada sehingga masing-masing mewakili gaya desain yang berbeda, so, selain dari fungsionalisme, masyarakat sekaligus terdidik untuk lebih mengenal desain dengan benar...

Atau anda punya ide lain?

Btw, perjalanan mulai dari percabangan Tol Cikampek - TCP hingga keluar di pintu tol Pasteur, bisa ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit, dengan kecepatan rata-rata 80km/jam. Tadi siang saja, perjalanan
kembali ke Jakarta dimulai dari pintu tol Pasteur hingga menembus jantung Jakarta di kawasan Semanggi, hanya ditempuh dalam waktu dua jam saja, dan ini sudah termasuk beragam gangguan lalu-lintas selepas masuk Tol Cikampek yang banyak dihuni bus dan truk dengan pengemudi dari Amerika (nyetir di kanan bo'). Sedangkan KA Parahyangan saja butuh waktu tempuh 3.5 jam, dan dulu kalau nyetir sendiri bisa kurang dikit dari itu, asalkan nyetirnya gahar dan gak takut sama truk-truk ber-ban 18 biji dalam memperebutkan hak guna jalan...

Semoga saja, bus dan truk yang seperti demikian tidak akan pernah diperkenankan untuk memakai TCP ini... Walau kelihatannya, harapan ini cuma seperti mimpi di siang bolong. (bay)

Tuesday, May 10, 2005

Dear Friends...

Dear friend, by the time u read this....

Itu artinya gw udah beres siap-siap ke Bandung dan tuntas sarapan bubur... :D

Setelah hari Minggu abis buat ngedumel dan beresin terjemahan, then abis subuh dikelarin, pagi itu gw and fellow officers (temen kantor maksudnya) lantas ketemu sama tim Depdagri dan World Bank buat pre-kick
off meeting di gedung Depdagri.

Abis itu dilanjut sama tinjauan lokasi ke Institut Ilmu Pemerintahan di Ampera, Cilandak, buat ngira-ngira kondisi dari perpustakaan yang harus dibenahi.

Balik ke kantor sorenya, ketemu Ade bentar, ngambek-ngambekan dulu :P, ampir ngebabat pengemis yang pura-pura abis ongkos, then ketemuan ama fellow officers buat ngobrolin rencana ke depan, sekalian dinner.

Di rumah, gak banyak tingkah, maen game bentar then bobo... Dian, adiknya Ade, nelepon dengan panik, minta tolong foto2 dia kemaren di backup ke CD karena ada bbrp yang ilang. Ade nelepon after 11 buat
manfaatin tarif khusus Simpati Hoki. Sementara gw dah cukup tiwas, apalagi malem sebelumnya kurang tidur... Luv u dear

Pagi ini, beresin CD buat Dian, then sarapan bubur, then ngasiin CD ke Dian, then BUKA MULTIPLY DULU (dasar pecandu!), baru deh siap-siap berangkat ke Hotel Nikko di sebelah, buat berangkat ke Bandung, ninjau lokasi proyek satu lagi di STPDN Jatinangor.

Cape... tapi seru! I need this kind of rush!

Cu later guys and gals!

Saturday, April 9, 2005

Dinamika Bahasa Rakyat

Kasus 01 - Kata Serapan

"Awas Spion jangan dialingin" begitu tulisan di kaca depan Metromini S.66 yang sempet bikin gw
terbahak-bahak... "Dialingin" gitu lho... padahal kan yang bener tu "dihalangi". Agaknya gw menertawakan keluguan si supir yang nekad masang tulisan itu.

Tapi waktu gw cerita ama Ade, responnya malah "lho, emang bener kan??"

*dhuengg....

Ternyata kalau di Betawi, "dialingin" adalah kata yang shahih...

Kasus 02 - Kerancuan

Salah seorang temen gw di Bandung dulu pernah cerita, bahwa karena dia anak Jakarta, maka waktu pertama kali kuliah di Bandung, dia kaget, kenapa koq kalo orang Bandung saat mengumpat gak bilang (maaf) "Goblok", tapi "Goblog". Sementara buat gw sendiri, yang nyaris seumur hidup tinggal di Bandung
dan ngerti betul dialek Sunda, akhiran - "k" pada kata itu cenderung mengeliminir aura berwibawa nya, dan berganti jadi suatu kata yang terkesan lucu...

Si teman saya ini akhirnya merasa lebih srek memakai akhiran "g" daripada "k" manakala harus mengumpat sopir angkot Bandung yang terkenal sangat merangsang (emosi).

Untuk kasus yang sama, nyaris 100% masyarakat Jakarta, merefer "Ciledug" sebagai "Cileduk"...
Oh come on... dari segi tata bahasa udah salah, plus dari segi pelafalan juga jadi terasa "tipis"... Tapi mungkin memang begini nasibnya kalau suatu daerah dihuni bukan sama penduduk asal...

Kasus 03 - Rada Serius

Di salahsatu bemo jurusan Manggarai - Manggarai (bener, start ama finish sama), ada stiker di dash board berupa tulisan syahadat dalam lafal Arabic dan terjemahannya. Yang aneh, di terjemahannya ditulis
"Nabi Mukhammad"... Padahal kata "ha" dengan "kha" dalam bahasa Arab itu beda huruf, yang mana beda
penulisan bisa mengindikasikan orang yang berbeda... nah lho... Apa gak menyesatkan tuh?!

Trus kadang ada yang adzan tapi nyebutnya "Allahu Aykbar", bukan "Allahu Akbar" padahal lafal Arab untuk "a", "a' ", dan "ai" atau "ay" itu beda... Yang mana jadi contoh gak bener juga... Dan sama halnya dengan "Allahu Akhbar"... Hal-hal yang simple, kecil, tapi sebenernya ngasi contoh yang salah...

Kasus 04 - Kreatif

Kalo yang satu ini di bagian depan salahsatu bus patas AC 35 jurusan Senen - Ciledug:

"AP KT NT AJ D"

Contoh lain:

"AN3DIS"
"1/3DIS"
"3RUT"

...

Weleh... sebenernya banyak, tapi lupa... Ada yang masih inget yang laennya? (bay)

Thursday, March 17, 2005

Alkohol itu Haram?

Seringkali kita salah kaprah mengelompokkan Alkohol sebagai bahan yang haram untuk dikonsumsi. Padahal yang diharamkan oleh sumber-sumber hukum Islam adalah "khamar", alias "Minuman Keras", yaitu minuman yang sengaja dibuat untuk memabukkan.

Berikut ini cuplikan dari situs Indohalal.com yang diasuh LPPOM MUI di sini.

Pertanyaan dari nenden 10/03/2005 14/29/16 WIB 
Ass wr.wb,sebagaimana diketahui bir yang mengandung alkohol adalah haram, mengapa haram? karena katanya bir itu adalah hasil fermentasi, kalau tape yg mengandung alkohol hasil fermentasi dan makanan lain yang mengandung alkohol itu bagaimana?
Jawaban :
Assalamu'alaikum wr.wb,
Penanya yang budiman, yang diharamkan bukan "bir" (saya tambahin tanda kutip agar lebih jelas, red) akan tetapi "khamar" (juga saya tambahin tanda kutip, red) dan juga bukan karena pati menjadi gula sehingga hasilnya menjadi singkong / ketan yang manis. Akan tetapi apabila air tape diperas dan dipisahkan dari tapenya maka statusnya menjadi khamar.
Sekali lagi bukan karena alkoholnya akan tetapi niatnya untuk membuat sesuatu yang memabukkan. Buah-buah segar juga mengandung alkohol tetapi tetap halal.
Wassalam,
LPPOM MUI

So, beda kan?

Kemudian ada informasi dari situs yang sama pula, bahwa untuk menilai kehalalan suatu makanan untuk tingkat pribadi boleh dilakukan dengan ijtihad (berusaha sekuat tenaga dalam mengambil keputusan paling benar atas suatu perkara), sedangkan untuk tingkat resmi, oleh lembaga yang berwenang, yaitu MUI.

Biar ijtihadnya baik? Banyak baca, dan jangan ragu untuk bertanya sama pihak penyedia makanan soal makanan yang mereka sajikan, jangan takut disangka kampungan. (bay)