Monday, January 10, 2005

Gokana Jakarta

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Japanese / Sushi
Location:Puri Indah Mall, Food Court
Konsepnya merupakan paduan antara Hokben (Hoka-Hoka Bento), dengan resto non-fast food. Menu yang disajikan rata-rata dimasak kilat dulu sebelum diberikan ke customer, makanya antrean rada panjang, walaupun karena kokinya pada cekatan, waktu nunggunya gak lama.

Pilihan menu hadir dalam beberapa belas variasi (iya, belasan), yang semuanya merupakan kombinasi dari main dishes dari jenis ayam dan sapi yang dimasak ala teriyaki, yakiniku, katsu, dll., dan side dishes dengan varian beragam dan item yang mirip banget sama punyanya Hokben, spicy chicken, shrimp roll, kani roll, dll.

Harga cukup murah, rata-rata berkisar seputar belasan ribu rupiah saja untuk satu set makanan komplit (minus minuman), dengan porsi, kualitas, dan rasa yang cukup memuaskan. Ambil contoh misalnya Beef Teriyaki yang saya pesan, irisan dagingnya cukup tebal, dan kualitasnya baik, jadinya mirip makan steak komplit dengan harga cuma 20 ribuan.

Tempatnya sendiri cukup kecil, namun dari pengalaman waktu itu, kita gak kesulitan dapet tempat duduk karena cuma makan berdua. Kalau banyakan, siap-siap bersabar, karena tempat ini selalu penuh sesak sama pengunjung. Bukti penerimaan yang baik dari para tukang makan.

The Grudge (Korea) - movie review


Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Horror
Film ini merupakan film horror Asia generasi baru, yang juga dibuat ulang oleh sineas Barat, mencoba mengikuti jejak sukses "The Ring". The Grudge yang aslinya bertajuk judul "Ju-On: The Grudge" berkisah mengenai sebuah rumah terkutuk yang dihuni oleh setan (setan, bukan sekedar arwah) yang terlahir akibat aksi pembunuhan yang terjadi sebelumnya.

Setan ini mulai beraksi dari menit pertama dalam mencari mangsa, dengan cara yang cukup membuat deg-degan. Banyak tampilan wanita bermuka pucat disini, plus tubuh yang merangkak-rangkak dan mendekati kita (penonton) dengan perlahan tapi pasti. Film mengandalkan ketegangan dengan memperpanjang moment of suspense, memberi clue sedikit-sedikit, yang tokoh cerita ikuti dengan antusias, walau dalam hati kita dah tereak-tereak ngasi tau dia supaya jangan kesana... Pengambilan gambar cukup mencurigakan, banyak frame yang memungkinkan munculnya "sesuatu" dilatar belakang, suara yang seringkali hening tapi menyimpan ketegangan. Film juga seringkali memperlihatkan penonton, mengenai apa yang tokoh di film tidak ketahui.

Pikiran ini secara tak sadar juga mengasosiasikan kejadian di film dengan kejadian di dunia nyata... misalnya waktu lagi sendirian di rumah tiba-tiba ada suara dari loteng... Atau waktu lagi mandi koq ngerasa ada yang nemenin... dll., resep horror Jepang yang terbukti cukup bikin merinding... imajinasi kita disuruh untuk mereka-reka sendiri kengerian yang akan dimunculkan, lalu kengerian itu diberi nama... atau tepatnya muka...

Secara logis, no way! banyak hal yang ga reasonable, bahkan untuk logika film hantu... tapi secara visual, cukup membius... terutama karena faktor sadistis nya.

Saturday, January 8, 2005

Out of Reach - movie review


Rating:
Category:Movies
Genre: Action & Adventure

Sensei Seagal Yth,

Filmnya sudah cukup baik, sudah kembali ke tema asal yang gebuk-gebukan. Cuma sayang plot cerita masih lemah, terlalu banyak tempelan, kurang seru, dan pengambilan gambar aduhai buruk bak film ***** (sensor).

Trus kenapa sensei makin sini makin gemuk sih? Kan gagahan dulu di Above The Law, atau Under Siege. Semoga bukan karena penyakit.

Salam hormat,

Bayu-san

National Treasure - movie review


Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Karena ada yang bilang kalo "Alexander" itu film gay sepanjang tiga jam, dan "Ocean Twelve" rada-rada kebayang gimana ceritanya, gw dan Ade lalu milih buat nonton "National Treasure" aja.

Perlu diakui muncul rasa kecewa waktu sebelum title screen keluar ada muncul logonya "Walt Disney Pictures"... Pasti deh pilem keluarga yang no blood dan hasilnya harus happy ending... huhu....

Tapi ya udah, toh denger-denger dari review cukup seru....

Pilem berkisah mengenai ambisi seorang ahli sejarah AS, Ben Gates (Nicolas Cage) atas mitos mengenai adanya harta rahasia yang disembunyikan oleh The Founding Fathers (penandatangan naskah kemerdekaan Amerika). Harta ini sendiri konon memiliki jejak yang sangat jauh hingga kejaman prasejarah, dan dijaga turun-temurun oleh kelompok Kesatria yang merasa harta sebanyak itu terlalu besar jumlahnya untuk dikuasai oleh raja manapun.

Dan petualangan pun dimulai dengan berkelana kesana-kemari mencari petunjuk yang mengarah pada petunjuk lainnya. Petualangan dibuat ala Indiana Jones, banyak petualangan dan terselip adegan lucu, hanya saja dibuat dengan setting yang lebih modern.

Ada yang bilang film ini cukup baik buat selingan sebelum film "The Da Vinci Code" dirilis, karena temanya mirip walaupun minus bunuh-bunuhan. Kalau kata saya sih... ya lumayan lah.... enjoyable.

Wednesday, January 5, 2005

Citi:cuts Jakarta

Rating:★★★★
Category:Other
Karena masih terbayang wajah gw di cermin tadi pagi, dan siang harinya di cermin lift, gw bertekad bulat untuk nyempetin diri cukur rambut hari ini.

Soalnya rambutku tersayang nan lebat ini kalau dikasi usia panjang cenderung ngembang ala sikat temennya karbol... which is really not a sight of beauty.

Berbekal pengalaman jalan-jalan diseputar Sarinah dan gedung AsiaWorks yang misterius itu, gw tau kalau di deket parkiran motor ada sebuah bangunan baru yang nyediain jasa potong rambut, and so I went there during the lunch hour.

(Setelah ngisi perut pake Nasi Padang tentunya...)

Nah, waktu mendekat ke bangunan yang dimaksud, barulah sekarang gw merhatiin dengan detail segala sesuatunya... "Rp. 20.000", itu yang pertama keliatan, setelah itu baru tulisan "Cukur Dewasa" diatasnya... Sipp, on the budget... tadinya kalau kemahalan mau nekad aja ke salon deket liftnya Sarinah (salon konvensional yang hair dressernya rada gender-ambique dengan rambut warna crong).

Begitu menarik pintu kaca yang ada tulisannya "pull", gw perhatiin suasana didalem keliatan cukup nyaman, rapi dan minimalis. Dua orang barber yang lagi duduk baca koran lalu merhatiin, dan mbak yang jaga di kasir menyambut dengan ramah.

Terdapat sekitar lima kursi cukur disisi kiri bangunan, dengan beberapa bangku tunggu dari plastik di sisi kanan. Ruangannya kecil, tapi apik, bersih, dan cukup sejuk. Kursinya bagus, nyaman, dan full-featured (swing, swivel, up/down). Interior ruangan terang karena sebagian besar dindingnya adalah kaca buram yang tentunya tembus cahaya. Hal ini membuat ruangan terasa hangat dan bersahabat.

Barbernya memakai seragam kemeja putih dan apron hitam. Di hadapan kursi pelanggan ada cermin besar dan rak kaca untuk menyimpan barang bawaan pelanggan. Peralatan cukur semuanya ditempatkan dalam satu boks aluminium yang terletak disisi kanan rak, dilabeli dengan nama dari Barber yang bertugas, cool! Perlu diakui faktor suasana dan passive experience nya aja udah memberikan nilai plus...

Barbernya nggak banyak cakap, dia cuma nanya waktu pertama kali, gw mau dicukur seperti apa, setelah itu sunyi sepanjang acara cukur... Ini cukup melegakan buat gw karena kalau di salon konvensional atau barbershop standar, suka ada perasaan rada bego atau kurang ramah kalo gak ngobrol ama hair dressernya. Thanks God for the silence.

Pertama-tama mbak yang jaga ngeluarin pakaian cukur (jubah?) dari dalem plastik, didepan pelanggan. Warnanya item silky dan looks neat... semua detail pelayanannya sampe saat itu dah ngedukung tagline Citicuts: "barbershop, barbershow". Enak gitu lho ngeliat penampilan gw sendiri di cermin.

Lalu barbernya mulai beraksi dengan cukup terampil. Well potongan yang gw minta sih cuma "pendek", shouldn't possess too much challenge. Kejadian selanjutnya, karena pengaruh suasana tenang diseling suara halus dari clipper elektrik plus background lagu-lagu ambient yang menenangkan bikin gw terkantuk-kantuk dan beberapa kali hilang kesadaran...

Mbak yang tadi lalu membawakan segelas aqua cup untuk diminum (iya lah, masa nyuci mobil?). Setelah sesi gunting rambut selesai, tibalah sesi cukur cambang dan rambut-rambut pendek. Pisau yang dipakai adalah jenis yang mata pisonya bisa diganti-ganti. Dan tadi pake mata piso baru, gak tau karena emang satu pelanggan satu piso, atau sekedar karena dah tumpul. Beda dari pengalaman gw ditempat lain, disini untuk melicinkan kulitnya dipakai gel bening warna biru yang kerasa smooth, dan refreshing. So selain kulit kerasa seger, hasil cukurannya pun gak bikin iritasi parah.

Setelah cukur selesai, eh ternyata masih dilanjutkan ama sesi pijet... great! Kirain kl modern barber macem gini dah ninggalin servis plus ini. Untuk bantu melancarkan pijatan, barbernya ngulasin minyak yang nyaris tak berbau, dan gak lengket. Walau mijetnya gak se-enak barber langganan gw di pasar Jembatan Merah, tapi it's oke lah, kepala, leher, ubun-ubun, pundak, dan sampe ke tulang belikat di rambah semua. Plus abis pijet badan jadinya gak bau minyak sinyongnyong.

Mbak tadi lalu balik lagi membawa segulung handuk panas yang baru disterilisasi. Barber yang bertugas lalu menyiapkan handuknya, diperes untuk ngeluarin air berlebih, lalu diangin-anginkan sejenak untuk mengurangi panasnya. Setelah itu, dia ngelap muka (muka gw, bukan muka die), pundak, leher, kuping, dan bagian yang dikutak katik selama gunting-cukur-pijet tadi. Lalu terakhir, barbernya bersihin sisa rambut yang masih nempel di rambut dan baju, lalu bawa cermin buat nunjukin dan konfirmasi apa hasil karyanya di bagian belakang kepala gw dah cukup memuaskan.

Setelah itu, barulah jubah item gw dilepas, dan sesi gunting rambut selesai!

Interesting, rasanya 20 rebu yang gw bayarin bener-bener worthed.

Trus mereka punya juga kartu member yang berfungsi ala gerai makanan; kl dah cukur 20X dapet free souvenir.

Definitely worth a regular visit.

citi:cuts
barbershop, barbershow
- Gedung Sarinah Thamrin, AsiaWorks Parking Lot
Jl. MH Thamrin kav.11, Jakarta. Phone: 021 7074 0390
- Cinere Mall Lt.3
Jl. Cinere Raya No.1, Jakarta Selatan. Phone: 021 7090 7251 / 0811 148041

Monday, January 3, 2005

Dasar Jahil!

Waktu lagi browse dan post tulisan, Ade nelepon... So gw pon balik dan kita pun ngobrol... Lain dari kemaren-kemaren, moodnya lagi agak baek walau pembicaraan dimulai dengan...

"Aa ga kangen aku yaa?"... (glek)

Setelah ngobrol agak lama, doi ketawa-ketawa sendiri yang langsung gw curigai ada sesuatu yang salah... Waktu gw tanya kenapa, doi bilang gapapa... Tapi lalu sekelebat bayangan muncul didepan pintu kaca kantor; Ade lagi cengar-cengir karena berhasil ngerjain gw....

Dasar anak nakal....

Tapi kemudian pesan yang tersampai bikin hati gembira...

"A... aku mulai kerja Rabu besok"

Alhamdulillahhh !!!! What a good surprise =)

"Tapi gajinya ga seperti yang diharapin"... sambung Ade...

"Tapi artinya kamu gak akan terlalu uring-uringan lagi besok-besok kan?" sambutku sambil nyengir.

Dan doi tersenyum (untunglah, gak ngegebuk atau apa gitu).

Well... congrats dear.... semoga jadi awal yang baik dari taun yang baru ini...

Luv u =X

Ulasan Film: Musa (2001)


Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure

Gw dapet film ini waktu lagi liat-liat DVD di ITC Ambasador. Tadinya gw ragu karena khawatir ini cuma another so-so Chinese/HK's duplication dari film megah sekelas Crouching Tiger Hidden Dragon (CTHD). Ternyata waktu baca sinopsisnya, film ini buatan sineas Korea, dan berkisah mengenai misi diplomat kerajaan Coryo (sekarang Korea) yang berkunjung ke kekaisaran Ming pada masa abad ke-14.

Ada kembang mata diantara pemainnya yang memang terbukti bikin film Asia laris manis di pasaran: neneng Zhang Ziyi. Tapi selain dia, semuanya nama-nama asing, so bisa diperkirakan ini bukan semata-mata film yang ngandalin nama tenar tapi penggarapan rada bikin pusing (House of The Flying Dagger, Hero, etc.).... Ditambah dengan dua penghargaan di festival film Asia dan Asia-Pasifik, so I guess it worth to see lah...?

Ternyata, sejak awal film berlangsung, atmosfernya terasa sangat meyakinkan. Settingnya bagus, kostum bagus, ceritanya bagus, akting pemainnya bagus, sehingga kita mau gak mau kebawa kedalam suasana Cina kuno, dan ngerasa yang diceritain itu memang real... Karakter-karakter yang diceritain pun rata-rata bertindak logis dan "benar". Nggak kayak film-film Mandarin yang sering masang karakter yang "kartun" (House of The Flying Dagger, rata-rata film Jet Li)

Jendral Choi-Jung digambarkan sebagai seorang pemimpin muda yang kurang berpengalaman, namun keras, angkuh, dan dingin. Keputusannya lah yang kemudian menempatkan sisa-sisa pasukan Coryo untuk berhadapan dengan pasukan Yuan (Mongol) yang sangat kuat, semata-mata demi menyelamatkan puteri kerajaan Ming agar mereka bisa kembali ke Coryo tanpa menanggung malu.

Secara bertahap kita akan dituntun juga untuk berkenalan dengan tokoh-tokoh film yang masing-masing memiliki karakter yang kuat namun manusiawi. Tidak ada karakter yang sempurna disini, setiap karakter hadir dengan kelemahannya masing-masing sehingga membuat film ini malah memiliki jalinan cerita yang erat dan dramatis. Aksi dan reaksi datang silih berganti menciptakan suspense dan alur yang sulit ditebak.

Setelah serangkaian perang dan drama... Di akhir cerita gw bengong.... dan dah cukup lama gw ga bengong abis nonton film...

Sampe kemudian gw paksain liat-liat clip di Special Feature DVD nya, just to make sure that it's just a movie and all the players are allright =P

Buat gw, ini film luar biasa yang sekelas ama CTHD, Last Samurai, Gladiator, Dances With Wolves, dan Braveheart. (byms)